Emergency Bag – Siaga Bencana

Tag

, , , , , , , , ,


Taifun no. 8Efek Taifun No.8 yang menghampiri Matsuyama malam tadi ternyata membawa dampak hujan dan guntur yang cukup besar.Tidak disangka, kejadian yang sangat langka pun akhirnya terjadi, mati lampu! Ini adalah mati lampu yang kedua kalinya selama hampir 5 tahun! Baru dua kali mati lampu!

Awalnya sempat membuat saya dan isteri kaget. Pasalnya kami baru saja akan memulai sahur, dan mati lampu ini juga mengakibatkan matinya keran air.

Tapi syukur alhamdulillah, seperti dugaan kami, hanya kurang dari 5 menit, listrik sudah kembali aktif (nyala)! Yah cukup 5 menit sudah kembali normal. Alhamdulillah.

Ketika mati lampu tadi, tangan saya langsung refleks mengambil senter yang memang sengaja kami letakkan di “Emergency Bag”, alhamdulillah. Setelah menyalakan senter, saya raih lilin untuk menerangi area ruang makan kami. Maklum, karena kejadian yang langka, kadang banyak juga yang tidak menyiapkan lilin di kamarnya.

“Emergency Bag” (gambar terlampir), begitulah kami menyebutnya, karena di dalam tas itu memang sudah kami siapkan semua barang-barang penting yang harus terbawa jika suatu saat terjadi bencana, naudzubillahi min dzalik. Di sana ada makanan siap saji, pakaian, minuman, dokumen berharga,obat-obatan, batu baterai, 4 buah senter (dua diantaranya bertenaga surya dan mekanik, dimana ernergy bisa di re-charge dengan hanya memutar tuas yang ada pada senter, jadi tidak butuh batu baterai, dan tidak tergantung listrik), dan sebagainya.

Emergency BagTas ini memang sengaja kami letakkan di tempat yang paling mudah terjangkau (di depan pintu keluar ruang tengah, dan dekat dengan kamar tidur) sehingga suatu waktu terjadi hal buruk (naudzubillah) kami bisa langsung dengan mudah menjangkaunya.

Begitulah memang SOP yang sudah diberikan oleh pemerintah Jepang dalam mengantisipasi gempa besar yang diprediksi datang 30 tahunan di Matsuyama. Maklum saja, gempa dan taifun memang sering kali melanda negeri Jepang. Mudah2an Allah SWT melindungi kita semua.

Alhamdulillah kami sdh merasakan manfaat menyiapkan Emergency Bag ini. Bagaimana dengan Anda? Sudahkah juga menyiapkannya? Kalau belum, sebaiknya jangan menundanya sampai benar-benar baru membutuhkannya!

Dede Heri Yuli Yanto,
Matsuyama Shi
8 Juli 2014

 

 

 

Iklan

Penemuan mikroba baru pengurai cemaran minyak mentah

Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Dede 1Pencemaran lingkungan terutama wilayah laut, pesisir pantai, tanah, maupun perairan tawar oleh tumpahan minyak telah menjadi perhatian dunia, termasuk di Indonesia. Hal itu, karena minyak mentah yang masuk ke lingkungan, baik karena faktor alam maupun karena perbuatan manusia dapat membawa berbagai senyawa beracun bagi makhluk hidup dan membahayakan lingkungan, yang pada akhirnya menjadi masalah bagi kehidupan manusia.

Terlebih lagi, salah satu kandungan minyak mentah yaitu aspaltene, telah terbukti sangat sulit terurai, baik oleh proses foto-oksidasi alam maupun mikroorganisme yang berasal dari lingkungan tercemar tersebut. Aspaltene merupakan kandungan paling berat dan lebih polar yang berada dalam tumpahan minyak. Kandungan lainnya adalah alifatik (senyawaan rantai karbon baik lurus, bercabang, maupun siklik), aromatik dan poli aromatik hidrokarbon (yang mengandung cincin benzena), serta resin. Ketika terjadi pencemaran, senyawaan alifatik dan aromatik dengan rantai karbon rendah dapat terurai dengan relatif lebih mudah, akan tetapi resin dan aspaltene sangat sulit dan sering kali terakumulasi dalam lingkungan. Apalagi sifat lengket dengan warna yang sangat hitam, menjadikan senyawaan ini benar-benar bermasalah bagi lingkungan.

Pencarian mikroba pengurai minyak

Melalui proses screening (penapisan) bertahap terhadap 72 sample mikroba yang diisolasi dari berbagai lokasi di Jepang, 10 mikroba ditemukan dapat tumbuh dengan baik pada media yang mengandung aspal. Aspal merupakan residu penyulingan minyak mentah yang mengandung fraksi aspaltene yang sangat tinggi. Karena sifatnya yang mengandung lebih banyak aspaltene inilah yang menjadikannya lebih cocok sebagai contoh substrat pada proses screening. Dengan menggunakan pengujian berbagai konsentrasi dari 1000 hingga 30.000 mg aspal/kg media tumbuh, terpilihlah 5 mikroba yang memiliki kemampuan tumbuh dan penguraian dengan baik.

Hasil pengujian terhadap laju penguraian aspal di media cair mendapati satu mikroba unggul yang mampu menguraikan asphal dengan kapasitas paling baik. Tidak hanya itu, kemampuan mikroba tersebut ternyata lebih ampuh ketika diterapkan pada lingkungan air laut yang tercemar aspal secara buatan. Padahal, kadar garam yang tinggi dari air laut, disinyalir menjadi penyebab sulitnya beberapa mikroba untuk tumbuh dan menghambat laju penguraian minyak tersebut. Keampuhan mikroba hasil isolasi tersebut juga telah teruji sangat baik terhadap penguraian berbagai jenis minyak mentah dengan sifat dan komposisi aspaltene yang berbeda-beda. Sehingga semakin menambah keunggulan mikroba ini untuk diterapkan di berbagai kondisi lingkungan dan jenis minyak mentah yang mencemari lingkungan.

Mikroba baru pengurai minyak

Hasil pengujian DNA menunjukkan mikroba tersebut tergolong sebagai Pestalotiopsis sp. Penelitian ini dapat diklaim sebagai penemuan pertama aktivitas jamur tersebut untuk menguraikan minyak. Sebelumnya, jamur ini tidak pernah dilaporkan memiliki aktivitas menguraikan minyak.

Growth of strain NG007 on MEA medium (25oC, 1 week) from top (A), conidial form structure (B), and conidia (C).

Pertumbuhan Pestalotiopsis sp. NG007 di atas media agar (25 derajat Celcius, 7 hari) tampak atas (A), struktur pembentukan konidia (B), dan konidia (C). (Dokumentasi pribadi)

Temuan ini berasal dari ketidaksengajaan. Pada tahun 2009, isolasi awal dilakukan terhadap jamur-jamur jenis basidiomycetes yang sering menjadi pelapuk kayu, yang mampu menghasilkan enzim ligninolitik (jamur yang menghasilkan enzim pengurai lignin, seperti lakase, mangan peroksidase, dan lignin peroksidase). Lignin yang strukturnya mirip aspaltene, banyak ditemukan di kayu. Jamur yang terisolasi dari pelapukan kayu ini rencananya kemudian akan diaplikasikan untuk penguraian minyak di lingkungan tercemar. Akan tetapi, karena proses isolasi awal menggunakan aspal sebagai substrat (tidak menggunakan zat pewarna yang disinyalir lebih mudah mengisolasi jenis jamur ligninolitik), maka terisolasi-lah jamur jenis Pestalotiopsis sp. ini, meskipun awalnya kami menggunakan badan buah jamur saat pengujian. Disinyalir, jamur Pestalotiopsis sp. keluar dari badan buah mushroom dan menunjukkan aktivitas paling baik bahkan melebihi badan buah jamur tempat ia bersimbiosis. Hasilnya, saat diisolasi ternyata sangat ampuh mengurai cemaran minyak dan aspal.

Hasil ini sebenarnya sempat membuat kami (saya dan Professor saya) sedikit terkejut, karena jauh dari dugaan awal yang akan menemukan jenis basidiomycetes. Tapi setelah diteliti lebih lanjut dengan membandingkan berbagai referensi yang terbaru, ternyata ditemukan bahwa keluarga Pestalotiopsis lainnya, baru-baru ini (tahun 2011) juga ditemukan oleh peneliti dari Yale University, Amerika, di wilayah hutan Amazon, memiliki kemampuan menguraikan plastik. Adapun terkait kemampuannya menguraikan minyak mentah di alam, ini adalah pertama kalinya dilaporkan.

Dua publikasi pertama kami berhasil terbit di jurnal-jurnal international dengan nilai impact factor (IF) yang cukup tinggi. Publikasi pertama berjudul Biodegradation of petroleum hydrocarbons by a newly isolated Pestalotiopsis sp. NG007 berhasil masuk di International Biodeterioration and Biodegradation (IF. 2.059), bahkan menjadi 25 besar the most downloaded paper (publikasi dengan paling banyak diunduh) selama lebih dari 7 bulan sejak November 2013 lalu. Sementara publikasi kedua, berjudul Enhanced biodegradation of asphalt in the presence of Tween surfactants, Mn2+, and H2O2 by Pestalotiopsis sp. in liquid medium and soil berhasil dipublikasikan di Chemosphere (IF. 3.137), jurnal yang memiliki kriteria tinggi untuk publikasinya. Ketika hasil laporan ini pertama kalinya diterbitkan pada awal November 2013, laporan aktivitas Pestalotiopsis juga secara bersamaan dilaporkan oleh peneliti dari Venezuala dengan penemuan yang hampir mirip hanya beda pendekatan, yakni mereka menggunakan heavy oil sebagai substratnya. Dengan demikian penemuan aktivitas Pestalotiopsis sp. sebagai pengurai berbagai jenis minyak mentah dapat dikatakan yang pertama dilaporkan.

Dua publikasi lainnya yang terkait mikroba ini juga telah di terima di Journal of Environmental Science and Technology dan Procedia Environmental Science, berturut-turut terkait dengan kemampuan mikroba tersebut dalam mengurangi limbah pewarna tekstil baik menggunakan sel maupun enzimnya menggunakan bio-reactor berkelanjutan.

Atas penemuannya ini, dua paten Jepang terkait dengan penemuan mikroba baru tersebut untuk menguraikan minyak dan limbah pewarna tekstil telah diperoleh.

Harapannya, temuannya ini dapat diaplikasikan di Indonesia, terutama untuk mengatasi pencemaran tumpahan minyak di laut, tanah, maupun lingkungan perairan tawar serta mengatasi pencemaran limbah pewarna tekstil. Karena, immobilisasi enzim yang diproduksi oleh mikroba tersebut maupun co-culture (ditumbuhkan bersamaan dengan) dengan jamur lainnya, dengan menggunakan bio-reaktor mampu menguraikan minyak mentah dan senyawaan pewarna limbah tekstil menjadi senyawaan yang tidak toksik. Pengujian terhadap larva udang menunjukkan hasil penguraian yang tidak toksik lagi dan aman dibuang ke lingkungan. Apalagi penggunaan bio-reactor dengan sistem berkelanjutan, dapat mempercepat proses penguraian, sehingga sangat layak diterapkan di dunia industri terutama dengan kapasitas buangan limbah yang sangat besar.

Mekanisme penguraian

Berbagai penelitian lokal maupun internasional telah berupaya menjelaskan mekanisme penguraian minyak oleh mikroorganisme maupun oleh enzim yang dihasilkan mikroorganisme tersebut. Sayangnya, hasil riset lebih banyak mengarah kepada mekanisme penguraian senyawaan aliphatik dan aromatik daripada kandungan resin dan aspaltene. Meskipun alifatik dan aromatik merupakan senyaawan yang paling banyak terkandung di minyak mentah, akan tetapi kedua fraksi tersebut memang cenderung lebih mudah diuraikan daripada fraksi resin dan aspaltene. Padahal, kemudahan alifatik dan aromatik mengalami penguraian dibandingkan resin dan aspaltene, dapat menyebabkan rasio perbandingan kandungan aspaltene terhadap alifatik dan aromatik menjadi semakin tinggi pada akhir penguraian. Hasilnya, aspaltene menjadi lebih kuat terikat di tanah dan semakin sulit diuraikan oleh mikroorganime. Apalagi, rendahnya bioavailability (kemudahan akses) dan kompleksnya struktur aspaltene menambah sulitnya penguraian senyawaan ini.

Oil degradation by fungal co-cultureMinyak mentah merupakan hidrokarbon kompleks yang tersusun dari berbagai senyawaan kimia di dalamnya, sehingga memerlukan rute khusus dalam proses penguraiannya. Penemuan kami yang baru-baru ini yang dilaporkan di Journal of Hazardous Materials (dengan impact factor: 3.925) menyatakan bahwa co-culture (kombinasi) jamur Pestalotiopsis sp. dengan basidiomycetes berpotensi mempercepat laju penguraian minyak mentah di tanah dengan mekanisme penguraian secara simultan pada fraksi alifatik, aromatik, resin dan aspaltene. Hal ini karena co-culture tersebut mampu menghasilkan enzim-enzim pengoksidasi secara bersamaan, seperti enzim monooksigenase (MO), dioksigenase (DO), lakase, mangan peroksidase (MnP), serta lignin peroksidase (LiP).  MO dan DO berperan dalam proses inisiasi penguraian alifatik dan aromatik, sementara produksi lakase, MnP, dan LiP yang tinggi secara bersamaan diduga membantu proses penguraian resin dan aspaltene ketika keduanya terlarut dalam alifatik dan aromatik. Proses ini sulit terjadi pada mikroorganisme sendirian, karena, meskipun resin dan aspaltene dapat terlarut dalam alifatik dan aromatik, mikroorganisme tersebut cenderung lebih selektif menguraikan alifatik dan aromatic.

Pada akhirnya, penemuan ini diharapkan dapat mengurangi dampak dari pencemaran minyak mentah serta limbah industri tekstil. Disamping itu, penerapan teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas industri tekstil dalam mengolah limbah pewarnanya, sehingga aman dibuang ke lingkungan setelah proses detoksifikasi (pengurangan toksisitas).

Dede Heri Yuli Yanto

Peneliti P2 Biomaterial-LIPI

Kelompok Peneliti Teknologi Proses Biomasa dan Bioremediasi

saat ini tengah menempuh Ph.D program

di Ehime University, Jepang

Contact: dede@biomaterial.lipi.go.id

 

 

 

 

Tentang memilih

Tag

, , , , , , , , , , , ,


Alasan memilih atau meninggalkan sesuatu bisa beragam tergantung situasi dan kondisi.

Seandainya situasi me”wajib”kan (baca: memaksa) kita untuk memilih, maka:

1) Pada kondisi kedua pilihannya “mubah”, maka boleh memilih salah satunya berdasarkan pertimbangan cita rasa atau ikut-ikutan. Contoh berdasarkan cita rasa misalnya karena lebih suka, lebih enak, lebih nyaman, lebih tentram, lebih cocok, lebih baik, dan sebagainya. Contoh berdasarkan ikut-ikutan misalnya ikut pendapat yang paling banyak/suara terbanyak, ikut yang lebih alim, ikut yang ahli, ikut yang orang tua, suami/isteri, dan sebagainya. Contoh kasus: Anda sedang bersama dengan sembilan rekan Anda dalam perjalanan ke tempat yang jauh dan sudah beberapa hari belum makan. Kalau Anda yang teman Anda tidak makan hari itu maka Anda dan teman Anda akan benar-benar kehilangan tenaga dan dapat berakibat pada kematian. Alhamdulillah tiba-tiba Anda dan kesembilan rekan Anda mendapatkan tawaran makanan yang lezat berupa (nasi uduk + tempe) atau (nasi putih + ayam). Anda dan rekan Anda hanya boleh memilih salah satunya. Pada situasi tersebut, Anda boleh memilih sesuai cita rasa atau ikut-ikutan kawan Anda.

2) Kalau salah satu pilihannya ada yang terkategori “haram”, maka meninggalkan yang haram dan beralih ke pilihan yang lain menjadi “wajib”. Pada kondisi ini, cita rasa ataupun ikut-ikutan tidak boleh dijadikan dasar untuk memilih salah satu dari keduanya. Satu-satunya pertimbangan hanyalah hukum syara’. Sehingga harus meninggalkan pilihan yang haram. Kecuali, Anda tidak tahu kalau diantara keduanya ada yang “haram”. Pada situasi tersebut Anda boleh ikut pendapat orang yang lebih berilmu (mengetahui fakta dan dalil halal-haramnya berdasarkan hukum syara’) dalam memilih salah satunya.

3) Kalau kedua pilihannya ternyata “haram”, maka memilih salah satunya didasarkan pada yang paling sedikit mudhorotnya berdasarkan pertimbangan syara’. Contoh kasus yang memaksa untuk memilih salah satu dari dua keharaman seperti ini unik, sehingga penerapan kaidah tadi hanya berlaku untuk kasus-kasus yang unik juga, bukan untuk generalisir semua situasi. Contoh kasus ini misalnya, jika ada seorang ibu yang sulit melahirkan dan dokter tidak bisa menyelamatkan ibu dan janin secara bersamaan, dan kondisinya mendesak harus ada keputusan yang cepat yaitu: menyelamatkan ibu tapi akan mengakibatkan kematian janin atau menyelamatkan janin tapi akan mengakibatkan kematian ibu. Jika kondisi itu dibiarkan akan mengakibatkan kematian kedua-duanya maka dalam kondisi ini kaidah memilih yang paling sedikit mudhorotnya harus diterapkan. Yaitu dengan cara menyelamatkan ibu meski berakibat pada kematian janin.

Itu kalau situasi memaksa kita harus memilih.

Lain halnya jika kita masih punya kebebasan untuk memilih atau meninggalkan sesuatu. Pada situasi seperti ini maka,

1) Pada kondisi kedua-duanya mubah, selain boleh memilih salah satunya berdasarkan cita rasa atau ikut-ikutan. Meninggalkan keduanya juga diperbolehkan.

2) Jika salah satu pilihannya “haram” maka wajib meninggalkan yang haram dan beralih memilih atau meninggalkan yang lainnya. Kecuali jika pilihan yang lainnya wajib, tentu wajib pula beralih ke pilihan tersebut dan haram meninggalkannya.

Sebaliknya jika 3) Kedua-duanya “haram” dipilih, maka wajib meninggalkan keduanya. Kaidah “memilih yang paling sedikit mudhorot-nya” tidak boleh diterapkan pada situasi ini.

Kesimpulan

Jadi, memilih itu bukan cuma sekedar karena cita rasa apalagi ikut-ikutan. Bukan juga sekedar “memilih yang paling sedikit mudhorot-nya”. Tapi memilih adalah karena tahu situasi dan kondisi. Memilih adalah karena memahami fakta dan hukum. Karena setiap pilihan akan dimintai pertanggungjawaban.

[اَلأَصْلُ فِيْ الأَفْعَالِ التَّقَيُّدُ بِالْحُكْمِ الشَّرْعِي]

Asal (hukum) dari perbuatan (selalu) terikat dengan hukum syara.

* kalau pilpres tahun 2014 ini masuk yang mana yah?

Wallahu a`lam

Dede Heri Yuli Yanto

Matsuyama Shi, Japan

June 11, 2014.

Mempersiapkan “kelulusan”

Tag

, , , , , , , , , ,


“Oh noooo! Sudah pertengahan Juni, padahal batas waktu penyerahan dokumen “kelayakan” kelulusan program Doktor tahun ini adalah tanggal 18 Juni. Apalagi jurnal belum juga ada yang terbit, padahal persyaratannya harus terbit minimal dua jurnal internasional. Terus, disertasi juga belum nge-draft lagi! Ampuuuun, bisa ga yaah saya ikut wisuda doktor tahun iniiii?”

Tenang, ilustrasi di atas cuma fiksi kok. Mudah-mudahan tidak menimpa salah seorang diantara mahasiswa Doktor dimanapun tempat studinya, aamiin.

Nah, supaya tidak mengalami kejadian seperti di atas, ada baiknya bagi calon doctor/Ph.D, mengetahui apa saja dan bagaimana persiapan kelulusan doctor itu sebenarnya. Tulisan ini insyaAllah ditujukan untuk memberikan gambaran bagaimana mempersiapkan kelulusan program Doktor di Ehime University Jepang, khususnya di The United Graduate School of Agricultural Sciences (UGAS-EU). Meski secara detail bisa saja berbeda dengan fakultas atau universitas yang lain, namun secara umum persiapannya bisa jadi hampir mirip. Berikut beberapa persiapan yang mungkin bisa dipertimbangkan:

1. Ketahui deadline-deadline waktu kelulusan

Untuk di UGAS-EU periode September, secara detail deadline waktu kelulusan ditampilkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Deadline waktu kelulusan di UGAS-EU periode Oktober.

Gambar 1. Deadline waktu kelulusan di UGAS-EU periode September.

Secara umum, wisuda akan berlangsung sekitar tanggal 22 September. Satu bulan sebelum itu, yakni sekitar tanggal 2 Agustus, calon doctor harus melaksanakan presentasi disertasi. Untuk periode September, presentasi biasanya dilakukan secara bergilir di Kochi University atau Kagawa University. Sedangkan untuk periode Maret, dilakukan hanya di Ehime University. Tahun 2014 periode September, presentasi disertasi akan dilakukan di Kagawa University.

Persyaratan untuk mengikuti presentasi disertasi, diserahkan ke representative committee paling lambat tanggal 2 Juli, sedangkan persyaratan “kelayakannya” diserahkan paling lambat tanggal 18 Juni. Uniknya, sebagai salah satu persyaratan mengikuti presentasi disertasi di UGAS-EU, setiap calon doctor diharuskan telah melakukan “interim presentation” maksimal 6 bulan sebelum presentasi disertasi. Artinya, sejak bulan November tahun kemarin hingga Februari tahun ini calon doctor harus sudah mendaftarkan diri untuk melakukan interim presentation. Sebab, jika itu tidak dilakukan diwaktu yang telah disediakan tersebut, berarti yang bersangkutan tidak bisa mengikuti presentasi disertasi pada bulan Agustus, yang berarti kelulusannya tertunda. Demikian seterusnya.

Jadi, kunci masuk yang pertama untuk mengikuti kelulusan agar tepat waktu adalah menyiapkan data dan bahan presentasi interim pada saat sudah memasuki tahun kedua akhir program Doctor (sekitar bulan November – Februari).

2. Ketahui persyaratan kelulusan

Biasanya, setiap calon doctor yang baru masuk dan bergabung di Lab akan diberikan informasi oleh Professornya terkait persyaratan yang harus dipenuhi untuk kelulusannya. Persyaratan disetiap Lab dan Professor bisa saja berbeda-beda. Ada yang meminta untuk publikasi minimal dua jurnal international berimpact factor minimal 3 misalnya, ada juga yang sekedar 1 jurnal international peer review, bahkan bisa jadi tidak perlu persyaratan untuk publish asalkan mengikuti international conference, dan sebagainya. Point pentingnya adalah tanyakan persyaratan ini kepada Supervisor anda.

Nah, untuk di UGAS-EU, persyaratan kelulusannya telah dibuat seragam di tiga universitas, Ehime, Kochi, dan Kagawa. Misalnya, 1) setiap calon doctor harus sudah memenuhi 12 kredit kuliah, 2) setiap calon doctor harus mempublikasi minimal 2 jurnal international peer review, 3) atau bisa saja hanya 1 jurnal international peer review, ditambah 1 international proceeding. Akan tetapi untuk yang point nomor 3 ini, tergantung dari setiap representative committee di Departement-nya. Jadi, untuk memenuhi kaedah kenyamanan dan kepastian, sebaiknya setiap calon doctor harus sudah memenuhi kuliah 12 kredit dan publish 2 jurnal international peer review.

3. Ketahui posisi Anda

Pengalaman pribadi saya mengungkapkan bahwa mengetahui posisi dimana kita berada dan masuk diprogram mana, sangat membantu psikologi kita untuk mempersiapan kelulusan. Misalnya, untuk program Doktor yang lanjut dari Master (program 5 tahun), maka secara persiapan tentu memiliki lebih banyak waktu daripada program Doktor (yang hanya 3 tahun).

Jika kita melihat kembali Gambar 1, maka dapat dipastikan, untuk program Doktor 3 tahun, akan menjadi jauh lebih berat memenuhi persyaratan tersebut daripada yang program 5 tahun. Karena waktu yang tersedia untuk mencari data eksperimen hanya sekitar 1-2 tahun. Sementara, disela-sela waktu tersebut, calon doctor juga sudah harus melakukan proses submission paper-nya ke jurnal-jurnal international untuk melengkapi persyaratan kelulusannya. Ini tentu jauh lebih berat daripada mereka yang mengikuti program Doktor yang lanjut dari Master (5 tahun). Karena secara umum (tidak semuanya), data-data saat Master, bisa digunakan untuk publikasi Doktor dan dapat diajukan sebagai kelengkapan kelulusan asal dipublikasi pada rentang studi program doktornya yang 3 tahun (meskipun datanya diambil saat program Master). Sehingga pada tahun pertama Doktor, dia sudah bisa melakukan proses submission. Oleh karenanya, bagi calon doctor program 3 tahun, harus lebih bekerja keras mengumpulkan data ditahun pertama. Agar tulisan dan publikasi dapat dilakukan secepatnya misalnya pada awal tahun kedua.

4. Ketahui spesifikasi jurnal-jurnal yang akan Anda publish

Mengetahui spesifikasi jurnal tempat kita mempublish paper, juga penting. Karena kalau salah, bisa jadi jurnal tempat kita publikasi tidak masuk dalam kualifikasi yang dipersyaratkan oleh Fakultas. Oleh karenanya, yang pertama, kita harus mengecek secara detail apakah jurnal tersebut adalah jurnal peer review atau tidak, sebab beberapa fakultas mensyaratkan hal ini. Jika mau aman, usahakan submit paper Anda ke jurnal-jurnal yang memang sudah diakui secara international, misalnya di Elsevier, Springer, Wiley, ACS, dsb. Kedua, lihatlah aritkel info di jurnal tersebut. Biasanya ada di kiri atas atau tempat-tempat tertentu. Info ini dibutuhkan untuk mengetahui berapa lama biasanya waktu yang diperlukan oleh setiap paper untuk bisa publish atau minimal diaccepted sejak pertama kali submission. Kebanyakan, untuk proses publikasi sejak pertama kali submission memakan waktu 4 – 12 bulan, tergantung jurnalnya. Dengan mengetahui rentang waktu yang dibutuhkan oleh setiap jurnal, kita dapat memilih jurnal-jurnal tersebut sesuai kebutuhan kita. Kalau kita membutuhkan waktu publikasi yang cepat, maka carilah jurnal-jurnal yang cepat prosesnya, demikian seterusnya. Berikut adalah contoh artikel info di salah satu jurnal di Elsevier.

Article info

Di paper tersebut, proses submission pertama kali dilakukan tanggal 9 Januari 2013 dan setelah melului proses review yang panjang, baru diaccepted pada 12 September 2013, selanjutnya terbit secara online pada 5 Oktober 2013. Ini berarti, waktu yang diperlukan untuk publish di jurnal tersebut sejak proses submission pertama kali adalah sekitar 9 Bulan. Ini tentu bukan waktu yang sebentar. Sehingga kalau butuh waktu cepat, tentu tidak pas kita publikasi dipaper ini, misalnya.

Nah, kembali ke deadline (Gambar 1) lagi. Jika melihat deadline di atas, dimana dokumen kelayakan sudah harus diserahkan pada tanggal 18 Juni ini, maka untuk lebih aman, setiap calon doktor minimal sudah memiliki dua jurnal yang publish pada akhir tahun kedua (Sekitar bulan September atau satu tahun sebelum wisuda). Kalau dalam proses publikasi saja memakan waktu sekitar minimal 9 bulan maka sebaiknya setiap calon doctor harus sudah memulai proses submission sekitar bulan November atau awal tahun kedua diprogram yang berjalan. Ini berarti pengambilan data di tahun-tahun awal program doctor menjadi sangat berarti dan harus efektif. Apalagi, proses menulis paper juga dipastikan memakan waktu yang cukup lama, misalnya sekitar 2-4 bulan.

Penutup

Itulah sebagian pengalaman yang dapat dibagikan untuk semua calon doctor terutama yang kuliah di UGAS-EU. Disamping beberapa hal tadi, kita juga dituntut untuk bisa berbagi waktu dengan segala aktivitas kita diluar kampus, misalnya program dakwah pengajian di MICC (Matsuyama Islamic Culture Center), aktivitas di PPI (Persatuan Pelajar Indonesia-Jepang), keluarga, dan sebagainya. Mudah-mudahan kita semua dapat membagi waktu-waktu tersebut menjadi waktu-waktu yang efektif. Aamiin.

Pelajaran

Sebagai ibroh dan pelajaran, memang tidak mudah mempersiapkan kelulusan doctor. Bahkan kalau boleh dibilang, sangat sulit. Kesulitan terbesar adalah pada saat kita dituntut untuk mempublikasikan paper sebagai salah satu persyaratan kelulusan. Selama proses submission dan review, proses ikhtiar kita sudah pada puncaknya, karena diterima atau tidaknya paper kita tidak lagi ada di dalam lingkaran yang kita kuasai, tapi ada pada pilihan orang lain (Editor dan Reviewer). Akan tetapi ikhtiar kita saat membuat paper tersebut agar menjadi layak diterima oleh mereka tentu memiliki peran yang cukup besar pula dan menentukan diterima atau tidaknya. Saat itulah do`a dan pengharapan kepada Allah SWT, Zat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu selayaknya lebih banyak dipanjatkan.

Pelajaran lainnya

Saya terkadang berpikir. Untuk proses kelulusan doctor ini saja, kita dituntut untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Semua deadline, persyaratan dan strategi harus benar-benar diketahui dan dipersiapkan. Maka, saat kita mau berpikir yang lebih besar lagi dan menyeluruh, misalnya untuk proses “kelulusan hidup” menjadi manusia yang bertakwa, tentu kita juga dituntut untuk mempersiapkan diri ini dengan sebaik-baiknya. Apalagi, meski persyaratannya sudah jelas dan itu harus dipenuhi (ada di dalam Al-Qur’an dan Sunnah) terkadang kita masih lalai mempersiapkannya. Celakanya, ternyata “deadline” mengumpulkan persyaratannya juga tersembunyi. Kematian sewaktu-waktu bisa saja menjemput kita untuk meminta semua kelengkapan persyaratan yang sudah kita persiapkan tadi. Pertanyaannya adalah, apakah saat “deadline” itu menjemput, kita sudah siap dengan semua persyaratan “kelulusan” kita? Semoga belum terlambat.

Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang diluluskan. Aamiin.

Wallahu a`lam.

Dede Heri Yuli Yanto,

Matsuyama Shi,

9 Juni 2014.

 

 

 

 

 

 

 

 

Memahami hakikat perbuatan manusia

Tag

, , , , ,


Sadar atau tidak sadar, setiap hari, jam, menit, bahkan detik, manusia selalu melakukan perbuatan. Celakanya, perbuatan (amal) merupakan salah satu parameter yang akan menggolongkan apakah ia termasuk orang-orang yang merugi atau tidak. Sebagaimana Allah SWT telah memberikan petunjuk kepada kita: “sesungguhnya, seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali 1) Ia beriman, 2) melakukan perbuatan shaleh, dan 3) saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran” (lihat Surat Al-Ashr). Oleh karenanya, tentu menjadi urgent bagi kita memahami hakikat perbuatan yang akan kita lakukan, mudah-mudahan kita tidak tergolong mereka yang merugi.

Memahami hakikat perbuatan manusia-2

 

Manusia, sampai hari ini, masih saja ada yang keliru memahami predikat perbuatannya (1). Sebagian mereka masih mengira, akal merekalah yang menjadi tolak ukur bagi perbuatannya (2). Secara garis besar mereka membaginya menjadi dua bagian, ada yang dilakukan berdasarkan dorongan/tujuan melakukannya (3) atau berdasarkan dari zat perbuatan tersebut (4). Terhadap hal-hal yang mereka sukai atau mendatangkan manfaat menurut akalnya, dianggap sebagai perbuatan baik/khoir (3.1). Sedangkan jika dibenci atau diperkirakan akan mendatangkan mudharat menurut akalnya digolongkan sebagai perbuatan buruk/syar (3.2). Suka dan benci inilah yang mendorong mereka melakukan perbuatan-perbuatan tersebut. Dari aspek zatnya, sebagian masih menganggap adanya sanksi dan imbalan dari manusia (komunitas) menentukan qobih (tercela) dan hasan (terpuji)-nya sebuah perbuatan.

Menjadikan akal sebagai tolak ukur perbuatan tentu berakibat fatal terhadap ukuran baik, buruk, terpuji dan tercelanya perbuatan. Ini tidak lain karena akal manusia bersifat terbatas, lemah, serba kurang. Meskipun akal manusia bisa terus berkembang, akan tetapi ia tetap tidak akan mampu mengetahui hakikat sebenarnya tentang baik, buruk, terpuji dan tercelanya perbuatan. Celakanya, jika akal dijadikan rujukan, terkadang, perbuatan yang dianggap baik, buruk, terpuji, dan tercela disuatu masa atau wilayah, sering dianggap berkebalikan dimasa atau wilayah yang lain. Hal ini karena akal manusia sangat rentan terpengaruh banyak hal seperti, tradisi, adat istiadat, geografis, dsb yang membedakan pula tolak ukurnya terhadap baik dan buruknya perbuatan. Kalau begitu, tentu menjadikan akal sebagai tolak ukur perbuatan, hanya akan mendatangkan pertentangan dan kekacauan dalam interaksi kehidupan manusia.

Oleh karenanya, perlu ada revisi terhadap kekeliruan pemahaman ini (5) dengan mengacu kepada unsur lain diluar perbuatan manusia yang menentukan baik dan buruknya perbuatan (6). Sebagaimana firman Allah SWT:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ (البقرة: 216)

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Baik adalah tatkala perbuatan manusia sesuai dengan hukum syara` sedangkan buruk adalah ketika perbuatan manusia bertentangan dengan hukum syara` (7).

Dari aspek wilayah pengendaliannya, perbuatan manusia dapat digolongkan menjadi dua yaitu perbuatan musayyar dan mukhayyar (8). Semua perbuatan-perbuatan, apakah yang menimpa manusia atau manusia melakukannya, yang berada diwilayah yang menguasai manusia disebut perbuatan musayyar. Sebaliknya, semua perbuatan-perbuatan manusia yang berada di wilayah yang manusia mampu menguasainya (memiliki pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan) disebut perbuatan mukhayyar, yang dengannya menjadi parameter saat peng-hisab di hari akhirat kelak (9). Dalam perkara-perkara dimana manusia diberikan pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatannya, maka yang menjadi tolak ukur baik dan buruknya perbuatan adalah aturan Allah SWT. Karena manusia akan dihisab terhadap perbuatan yang dilakukannya (diwilayah yang mampu dikuasainya).

Oleh karenan itu, tolak ukur dari baik dan buruknya suatu perbuatan adalah aturan Allah SWT (10).

Wallahu a`lam.

Dede Heri Yuli Yanto

Matsuyama Shi, Japan.

 

Memahami Qaidah Ahwanu al-Syarrain

Tag

, , , , , ,


1. Sebagian kalangan (khususnya di Indonesia) ada yang berusaha mempergunakan Qaidah ini misalnya untuk:

a) Membolehkan lokalisasi zina dan judi dengan alasan jika tidak dilokalisasi akan menimbulkan bahaya yang lebih besar yaitu menyebarluasnya perzinaan dan perjudian di tengah masyarakat.

b) Membolehkan ada diparlemen (yang salah satu fungsinya adalah melegalisasi hukum/bertentangan dengan Islam) atau memilih pemimpin/wakil rakyat muslim yang sekuler (yang akan menjalankan sistem yang bertentangan dengan Islam) dengan alasan jika itu tidak dilakukan akan muncul bahaya yang lebih besar yaitu kepemimpinan dan parlemen akan dikuasai oleh non-muslim.

2. Apakah makna sebenarnya dari Qaidah ahwanu al-Syarrain ini dan bagaimana menerapkannya?

3. Qaidah ahwanu al-syarrain bermakna “melakukan yang paling ringan dari dua perkara yang buruk”.

4. Qaidah ini sama maknanya dengan kaidah:

a) Aqalu al-dhararain (أقل الضررين): melakukan yang paling sedikit bahayanya dari dua perkara yang berbahaya.

b) Akhafu al-mafsadatain (أخف المفسدتين): melakukan yang paling ringan dari dua perkara yang merusak.

c) Dar ul mafsadat al akbar bil mafsadat al ashghar (درء المفسدة الأكبر بالمفسدة الأصغر): menangkal kerusakan yang paling besar dengan melakukan kerusakan yang paling kecil.

5. Qaidah ini juga bisa bermakna

a) Keharusan melakukan yang lebih wajib meski berakibat ditinggalkannya kewajiban lain yang lebih ringan, Jika dua kewajiban tersebut tidak bisa dilakukan secara bersamaan.

6. Sebagaimana firman Allah SWT.

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها

“Manusia tidak dibebani kecuali sesuai dengan batas kemampuannya” (QS. Al-Baqarah: 286).

إتقوا الله مااستطعتم

“Bertaqwalah kepada Allah sebatas kemampuan kalian” (QS. At-Taghabun: 16).

7. Ulama yang mengambil Qaidah ini, sangat hati-hati dan telah memahami batasan-batasan dan objek-objek pengamalannya.

8. Karena itu Qaidah ini tidak bisa dijadikan seolah-olah secara mutlak selalu syar`iy untuk diterapkan atau diamalkan tanpa terikat dengan syarat-syarat yang telah ditentukan, apalagi dijadikan sebagai legalisasi terhadap beberapa perkara yang diharamkan.

9. Kondisi yang membatasinya adalah

a) jika kita tidak bisa menghindari kecuali melakukan salah satunya.

b) Atau kita tidak mungkin meninggalkan kedua-duanya secara bersamaan karena sangat diluar batas kemampuan kita.

c) Atau pada kondisi dimana kita bisa menghindari dua perkara yang diharamkan itu, tetapi jika kita menghindari keduanya maka akan terjadi keharaman yang lebih besar lagi. Itulah syarat/batasan pengamalan Qaidah ini.

9. Jadi sangat tidak sesuai jika ada kalangan yang berpendapat 1 a) (diatas) dengan mengacu pada Qaidah ini.

10. Apalagi kaidah syar`iyyah ini tidak bisa dijadikan dalil bila sudah ada dalil yang jelas di dalam Al-Qur`an dan Sunnah.

11. Bukankah Al-Qur`an sudah amat jelas tentang pengharaman perbuatan zina? Bahkan para pelaku zina harus dijatuhi sanksi cambuk atau rajam.

12. Untuk kasus no. 1 (a) seluruh kegiatan perzinahan (prostitusi) dan perjudian harus ditutup! Bukan dilokalisasi!

13. Demikian pula dalam kasus 1 b), tidak bisa dikatakan: apabila tidak memilih atau tidak mendukung si A maka nanti akan terpilih orang yang tidak berpihak kepada kita (si B), yang akan menimbulkan bahaya yang lebih besar lagi.

14. Sebagaimana kita tidak boleh mengatakan apabila kita tidak membuka kedai tempat minum khamr dan memanfaatkannya maka kedai itu akan dibuka oleh orang lain yang tidak berpihak kepada kita.

15. Yang harus dilakukan oleh kita dalam masalah ini adalah meninggalkan dua perkara yang diharamkan itu dan mengajak orang lain untuk meninggalkannya.

16. Terkait point 13. kita tidak boleh memilih kedua-duanya karena memilih si A atau si B sama saja haramnya (terkait fungsi tasyri dan atau menjalankan hukum yang bertentangan dengan Islam). Dan karena tidak memilih si A atau si B ada dalam batas kemampuan kita.

17. Rosulullah SAW bersabda: “siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah mengatakan kebaikan atau diam”.

18. Yang menjadi asal adalah anda harus berbuat sesuatu –tidak diam-. Anda harus memerintahkan kepada yang baik, mencegah dari yang mungkar, dan berusaha mewujudkan yang layak untuk dipilih (hanya menjalankan sistem Islam, dan hanya untuk menjalankan fungsi muhasabah lil hukam dan tidak menjalankan fungsi tasyri` (membuat hukum/legislasi) untuk anggota majelis ummat.

19. Kita juga harus berusaha merubah situasi secara menyeluruh. Karena yang wajib adalah kita tidak boleh menghukumi dan dihukumi kecuali dengan Islam. Maka bangkitlah untuk memperbaiki keadaan ummat.

20. Di antara contoh penerapan Qaidah Ahwanu al-Syarrain yang benar adalah:

a). Jika ada seorang ibu yang sulit melahirkan dan dokter tidak bisa menyelamatkan ibu dan janin secara bersamaan, dan kondisinya mendesak harus ada keputusan yang cepat yaitu: menyelamatkan ibu tapi akan mengakibatkan kematian janin atau menyelamatkan janin tapi akan mengakibatkan kematian ibu. Jika kondisi itu dibiarkan akan mengakibatkan kematian kedua-duanya maka dalam kondisi ini Qaidah أهون الشرين harus diterapkan. Yaitu dengan cara menyelamatkan ibu meski berakibat pada kematian janin. Hal yang harus diperhatikan dalam hal ini bahwa menentukan perbuatan yang lebih ringan keharamannya tidak bisa merujuk kepada perasaan atau keinginan manusia (suami atau orang tua-nya) melainkan harus merujuk kepada ketentuan syariat. Karena syariat selain menjelaskan perkara yang halal dan haram , juga menjelaskan mana yang lebih ringan keharamannya.

b) Jika kita melihat ada seorang yang diancam akan di bunuh, atau dianiaya atau ada seorang wanita yang akan diperkosa, dan kita mampu mampu mencegah kemunkaran tersebut namun di saat yang sama kita harus menunaikan shalat wajib yang hampir habis waktunya. Maka pada kondisi ini kita dihadapkan pada dua pilihan yaitu mencegah kemunkaran tapi akan mengakibatkan ditinggalkannya kewajiban atau melaksanakan kewajiban tapi berakibat terjadinya kemungkaran yang bisa kita cegah. Sementara waktu yang ada tidak memungkinkan kita untuk melakukan dua perkara itu secara bersamaan, maka pada kondisi ini kita harus mengamalkan Qaidah أهون الشرين . Pertimbangan memilih mana yang lebih ringan bahayanya dalam hal ini juga harus merujuk kepada ketentuan syariat yang telah menetapkan bahwa menghilangkan keharaman seperti itu lebih utama daripada menunaikan kewajiban. Andai saja kita bisa melaksanakan dua kewajiban itu (kewajiban mencegah kemungkaran dan kewajiban shalat di akhir waktu) secara bersamaan maka kita harus melakukan keduanya. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita harus melakukan yang lebih wajib kemudian diam dari kewajiban yang lebih ringan, seperti memilih untuk melaksanakan kewajiban menegakkan khilafah namun meninggalkan kewajiban yang lebih ringan seperti taat kepada suami.

21. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa menentukan hukum mana yang lebih kuat dan mana yang lebih ringan harus merujuk kepada ketentuan syariat.

Wallahu a`lam

Di sadur dan di para frase ulang dari

Bedah Qaidah Ahwanu Al-Syarrain (قاعدة أهون الشرين)

Hukum “Pemilu Negara Demokrasi” dalam Persfektif Islam

Tag

, , , , , , ,


Bismillahi Ar Rahmaan Ar Rahiim

Alhamdulillahi Robb Al-`aalamiin.

1) Pemilu sebagai sebuah instrument (alat atau uslub) hukum asalnya memang boleh digunakan selama rukun-rukunnya lengkap dan sesuai dengan syariat Islam.

2) Mengetahui fakta yang terjadi pada pemilu saat ini (dalam Negara Demokrasi) dengan pemilu yang sesuai dengan syariat Islam (jika pemilu mau diambil sebagai uslub, karena hukumnya mubah saja mengambil atau tidak mengambil sebagai uslub) menentukan hukum yang akan diambil.

3) Hukum pemilu pada dasarnya terbagi menjadi dua: 1) pemilu legislative (memilih wakil rakyat) 2) pemilihan kepala Negara

4) Dalam pemilu legislative pada dasarnya bisa disamakan dengan hukum Wakalah, yang hukum asalnya adalah mubah (boleh) berdasarkan hadits Nabi:

«وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: اَرَدْتُ الْخُرُوْجَ اِلىَ خَيْبَرَ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ: إِذَا أَتَيْتَ وَكِيْلِيْ بِخَيْبَرَ فَخُذْ مِنْهُ خَمْسَةَ عَشَرَ وَسَقًا» (رواه ابو داود و صححه).

Dari jabir bin Abdillah radliyallâhu ‘anhumâ, dia berkata: Aku hendak berangkat ke Khaibar, lantas aku menemui Nabi SAW. Seraya beliau bersabda: “Jika engkau menemui wakilku di Khaibar maka ambillah olehmu darinya lima belas wasaq” (HR. Abu Dawud yang menurutnya shahih).

5 ) Selain itu dalam Bai`atul `Aqobah II, Rosulullah SAW meminta 12 orang sebagai wakil dari 75 orang Madinah yang menghadap beliau saat itu yang dipilih oleh mereka sendiri.

6) Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa hukum asal wakalah adalah mubah, selama rukun-rukunnya sesuai dengan syariah Islam.

7) Adapun rukun-rukum dalam wakalah terdiri dari:

a) Muwakkil (yang mewakilkan suatu perkara)
b) Wakil (yang mewakili atau yang menerima perwakilan)
c) Shighat at tawkil (redaksional perwakilan)
d) al-umuur al-muawakkal biha (perkara yang diwakilkan)

8) Apabila rukun-rukun tersebut sesuai dengan syariat Islam, maka wakalah hukumnya mubah (boleh). Sebaliknya jika tidak terpenuhinya syarat sesuai dengan syariat Islam hukumnya menjadi tidak boleh.

9) Fakta : dalam Pemilu “Negara Demokrasi” anggota legislative memiliki tiga fungsi pokok, yaitu a) fungsi legislasi untuk membuat UUD dan UU, b) melantik presiden/wakil presiden, dan c) fungsi pengawasan, atau koreksi dan control terhadap pemerintah.

10) Dalam pemilu legislative di “Negara Demokrasi”, faktor “perkara yang diwakilkan (al-umuur al-muawakkal biha)” inilah yang mengandung kebathilan.

11) Karena pemilu legislative dalam Negara Demokrasi ditujukan untuk memilih wakil rakyat yang akan melakukan fungsinya a) Membuat Undang-undang Dasar dan Undan-Undang, dan inilah yang tidak diperbolehkan dalam syari`at Islam, dimana hak membuat hukum hanya ada pada Allah SWT (lihat QS. Yusuf:40, dll). Sehingga, membuat hukum atau menetapkan hukum selain hukum Allah adalah sesuatu aktivitas yang bertentangan dengan akidah Islam.

12) Demikian pula dengan wakalah untuk b) melantik presiden/wakil presiden juga tidak diperbolehkan, karena akan menjadi sarana untuk melaksanakan keharaman, yakni pelaksanaan hukum atau peraturan yang bertentangan dengan Islam.

13) Kaidah usulnya: Al-wasilatu ila al haroom, haroomun. Wasilah (perantaraan) yang pasti menghantarkan kepada perbuatan haram adalah juga haram hukumnya.

14) Sedangkan untuk wakalah yang ke c) dalam konteks pengawasan, koreksi dan kontrol diperbolehkan selama tujuannya untuk amar makruf dan nahi munkar. Inilah fungsi majelis ummat yang ada di dalam Islam.

15) Dengan begitu, pemilu legislative dalam Negara Demokrasi mengandung unsur yang bertentangan dengan syari`at Islam

16) Pemilihan presiden.

17) Dalam pemilu presiden tidak bisa diberlakukan fakta wakalah. Dalam hal ini lebih tepat dikaitkan dengan fakta akad pengangkatan kepala Negara (nashb al-ra`is) yang hukumnya terkait dengan dua hal, yaitu a) person (pemimpin), b) sistem.

18) Terkait dengan person (pemimpin), islam menetapkan bahwa seorang kepala Negara harus memenuhi syarat in`iqod (sah atau tidaknya), yaitu a) Muslim, b) Baligh, c) Berakal, d) Laki-laki, e) Merdeka, f) Adil atau tidak fasik, dan g) Mampu melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai kepala Negara

19) Kalau tidak terpenuhi salah satu saja, maka tidak sah seorang diangkat sebagai kepala Negara.

20) Terkait dengan sistem, siapapun yang terpilih menjadi kepala Negara wajib menerapkan sistem Islam. Ini adalah konsekuensi dari akidah seorang Muslim. Tidak boleh hukumnya memilih kepala Negara yang akan menjalankan sistem selain Islam.

21) Faktanya, dalam pemilu di Negara Demokrasi, tugas Presiden secara umum adalah untuk melaksanakan Undang-Undang Dasar, menjalankan segala undang-undang dan peraturan yang dibuat.

22) Kepala Negara dipilih untuk menjalankan sistem Demokrasi yang justru bertentangan dengan Islam.

Wallahu a`lam bi ashowab.

Menuju perubahan masyarakat

Tag

, , , , , ,


Never ending improvement” begitulah seharusnya setiap orang ber-motto. Jangan pernah berhenti berubah kearah yang lebih baik, salah satu quote yang pernah saya dapatkan dari salah satu organisasi dakwah kampus di IPB dulu.

Sebab manusia sejatinya ingin mengarah kepada keadaan yang lebih baik. Anak-anak sekolah misalnya, ingin bisa diterima di sekolah favoritnya. Seorang wanita ingin mendapatkan pasangan yang sholeh, begitu sebaliknya. Seorang pekerja, ingin gajinya terus meningkat seiring peningkatan karirnya. Dan masih banyak lagi. itu jika kita berbicara kebutuhan individu dalam masyarakat.

Suatu masyarakat atau Negara juga membutuhkan adanya perubahan (yang lebih baik). Sayangnya, cara dan metode yang ditempuh terkadang justru semakin menjauh dari perubahan, sebaliknya memperburuk keadaan. Ini semua tidak lain karena perubahan-perubahan yang dilakukan sama sekali tidak menyentuh ke akar persoalan; hanya terfokus pada masalah-masalah cabang yang justru akan menimbulkan masalah baru. Cara berpikirnya sederhana, kalau masalah cabang diselesaikan, kemudian akan timbul masalah baru, maka semakin lama akan semakin banyak masalah yang muncul, sehingga akhirnya semakin menyengsarakan masyarakat tersebut.

Sebagai contoh kecil saja misalnya, masalah semakin banyaknya orang yang terkena virus HIV-AIDS. Semua orang sadar, virus HIV sangat mematikan dan sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Apalagi jumlah orang yang terkena semakin lama semakin meningkat. Yang dapat dilakukan adalah mencegah penularannya. Sehingga perhatian khusus perlu dilakukan baik untuk orang yang sudah terkena, apalagi masyarakat umum.

Fatalnya, solusi yang pernah ditawarkan sebagian masyarakat dan pemerintah justru solusi yang aneh, misalnya dengan membagikan kondom gratis ditempat-tempat yang paling mungkin terjadi penularan HIV, misalnya di diskotik, tempat hiburan malam, tempat-tempat prostitusi, dan sebagainya. Mereka berangan-angan, dengan membagikan kondom gratis akan mampu mengurangi laju penyebaran virus HIV. Padahal sejatinya, program ini akan menimbulkan dampak yang lebih buruk. Misalnya, pembagian kondom gratis yang dikampanyekan, riskan salah sasaran. Bahkan beberapa kasus telah terbukti dimana pembagian dilakukan pada anak-anak SMA atau mahasiswa. Kedua, progam ini sejatinya menjadi alat untuk melegalkan perzinahan. Karena dengan logika terbalik, seseorang dapat mengatakan, anda boleh berhubungan badan (berzina) dengan siapa saja, asalkan pakai kondom.

Jika kita mau berpikir jernih, solusi mengatasi penyebaran virus HIV sebenarnya sangat mudah. Cara yang paling mujarab adalah perlu dilakukan pengidentifikasian dimana tempat-tempat penyebaran virus tersebut lalu menutup habis semua peluang tersebarnya virus tersebut. Ternyata “tersangka” utamanya adalah dari kegiatan “prostitusi” atau tempat hiburan malam. Baik melalui hubungan badan sembarangan, ataupun penggunaan jarum suntik saat menggunakan obat-obat terlarang. Karenanya, tidak ada jalan lain kecuali menutup semua tempat hiburan malam dan prostitusi, serta menindak tegas pengedar obat-obatan terlarang, dsb. Inilah satu-satunya jalan. Bukan dengan jalan yang justru memfasilitasi mereka! Apalagi pendapat “ngawur” yang mencoba membuat “lokalisasi pelacuran”.

Masih banyak lagi permasalahan-permasalahan yang sebenarnya mudah diselesaikan, tapi karena pola pikir yang tercampur bahkan dipenuhi dengan pola pikir “kapitalis” yang menganggap asas manfaat, jadilah solusi-solusi mereka sebenarnya sedang menuju kerusakan yang lebih dalam.

Semua persoalan tersebut mampu diselesaikan oleh Islam, karena ia hadir dimuka bumi tidak hanya sebagai agama akan tetapi sebagai peraturan hidup yang sangat mendasar bagi manusia. Seluruh peraturannya memancarkan solusi yang benar karena sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal, dan menentramkan jiwa. Seluruh ajarannya datang dari Zat yang Maha Pengatur (al-mudabbir), maka sudah pasti akan sangat cocok diterapkan ditengah masyarakat ataupun Negara.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana kita mampu merubah masyarakat menjadi kearah yang lebih baik, yakni dengan Islam.

Untuk merubah masyarakat, harus diketahui dahulu karakteristik sebuah masyarakat. Ini cara berpikir yang wajar, karena bagaimana mungkin kita mampu merubah sesuatu tanpa mengetahui karakteristik sesuatu tersebut.

Syeik Taqiyuddin An-Nabhani menulis di dalam salah satu kitabnya, bahwa masyarakat bukanlah sekedar kumpulan individu saja, melainkan ia gabungan dari individu-individu yang memiliki pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama. Karenanya, untuk merubah masyarakat menjadi masyarakat Islam, tidak ada cara lain kecuali merubah pemikiran, perasaan dan peraturan yang ada ditengah-tengah mereka menjadi pemikiran, perasaan dan peraturan Islam.

Karenanya, dakwah seharusnya ditujukan kearah perubahan ini, bukan yang lain. Merubah pemikiran masyarakat dengan pemikiran Islam dapat dilakukan dengan memberikan sebanyak-banyaknya pemikiran Islam yang murni, tanpa tercampur pemikiran yang lain, melalui berbagai cara. Demikian pula untuk mewujudkan satu perasaan yang sama, dakwah seharusnya ditujukan untuk mampu menyentuh perasaan umat agar mereka tersadar pentingnya persaudaraan dalam Islam, menjauhkan ashobiyah, memikirkan umat, menyatukan umat Islam, dan sebagainya. Ketika pemikiran dan perasaan telah menyatu menjadi pemikiran dan perasaan Islam, maka umat akan menuntut diwujudkannya peraturan Islam diterapkan ditengah-tengah mereka.

Ketika aturan Islam di terapkan, maka kebaikan akan menyelimuti masyarakat tersebut, InsyaAllah.

Wallahu a`lam bi showab.

Dede Heri Yuli Yanto

Matsuyama Shi, Japan

25 Februari 2014.

Saat taksi mengejar bus kota

Tag

, , , , , ,


Kalau sebelumnya saya sempat ketinggalan dompet di bus sewaan salah satu panitia “Undokai” Matsuyama, kali ini kejadian ketinggalan barang lebih unik lagi, di Bus Kota!

Ceritanya, hari itu adalah salah satu hari penting bagi saya, karena saya akan berangkat menghadiri acara HOPE Meeting with Nobel Laureates di Tokyo. Pertemuan ini di gagas oleh JSPS Japan untuk mempertemukan sekitar 100 Mahasiswa Doktor dan Postdoct dari 15 negara dengan beberapa pemenang Nobel Laureates. Di sana, peserta mendapatkan seminar dan berdiskusi secara private dan langsung dari pemenang Nobel. Mereka, para pemenang Nobel Laureates berbagi pengalaman dan kiat-kiat mereka dalam penelitian hingga mampu pada pencapaiannya saat itu, meraih Nobel Laureates. Acaranya yang sangat bergengsi dan menjadi pengalaman paling berharga bagi saya sebab tidak semua orang punya kesempatan hadir di sana. Syukur Alhamdulillah, saya mendapatkan kesempatan itu. Saya pun tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan berbincang dan berdiskusi langsung dengan para peraih Nobel saat itu.

Salah satu yang menjadi agenda adalah penyampaian presentasi dengan poster terkait penelitian terkini dari masing-masing peserta. Seluruh peserta diminta membuat poster hasil risetnya pada karton berukuran 90 x 120 cm. Saya lalu bergegas mempersiapkannya. Poster kemudian diprint  menggunakan printer kampus, lalu dimasukkan ke dalam tempat poster berbentuk silinder yang saya pinjam dari salah seorang senior di kampus.

Beres! setiap perlengkapan sudah masuk ke dalam satu buah koper, satu tas kecil berisi kamera, satu buah tas punggung berisi laptop serta poster yang siap di jinjing karena memang ukurannya yang cukup besar sehingga tidak bisa masuk baik ke dalam koper ataupun tas. Meski cukup repot, saya merasa sudah biasa membawa dua tas, satu koper. Hanya saja, kali ini ada tambahan selongsong poster dan itu ringan, artinya tidak terlalu merepotkan. Jadi saya tidak merasa sama sekali repot karenanya.

Pagi itu, saya siap berangkat ke Matsuyama Airport. Biasanya saya menggunakan taksi dari apartment ke bandara. Namun entah mengapa, kali ini saya berangkat menggunakan bus kota. Karenanya, sejak sehari sebelum keberangkatan, saya sudah mengecek jadual keberangkatan bus kota nomor 52 menuju bandara dari terminal Dogo. Terminal Dogo adalah terminal terdekat dari tempat tinggal saya dan bisa di tempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit. Karena saya memutuskan menggunakan bus ke bandara, maka saya melebihkan cadangan waktu menjadi sekitar dua jam sebelum take of pesawat dan menyesuaikan dengan jadual bus di terminal.

Setelah pamitan dengan isteri dan anak-anak, saya pun bergegas menuju terminal dengan berjalan kaki membawa koper, dua tas, dan satu jinjingan poster. Sampai di terminal Dogo, waktu masih menunjukkan kurang 10 menit dari jadwal kedatangan bus menuju bandara. Selama kurang dari 10 menit menunggu, saya dikagetkan oleh sapaan seorang Bapak tua yang dengan ramahnya menyapa saya. Hal ini sudah biasa bagi saya jika ada orang Jepang yang mengajak berbicara. Mungkin karena sifat mereka yang ramah atau juga karena mereka tahu bahwa saya adalah orang asing, sehingga dapat dijadikan teman berbicara bagi mereka yang sudah bicara. Intinya Bapak itu mengajak saya mengobrol panjang-lebar, baik tentang Jepang, Indonesia, seikatsu (kehidupan di Matsuyama) dan sebagainya, hingga saya sedikit terlena akan waktu keberangkatan bus. Saat pembicaraan tengah berlangsung, datanglah bus kota dengan nomor 52, tepat berhenti dihadapan saya dan si Bapak. Kami pun akhirnya naik bersamaan. Sebenarnya, saya sempat menyadari dan bertanya dalam hati, mengapa Bapak yang berbicara dengan saya tadi juga ikut naik bersama saya ke dalam bus. Lagi pula, mengapa bus ini datang lebih awal 3 menit dari jadual kedatangannya. Ini memang agak kurang lazim di Jepang, mengingat toleransi keterlambatan dan kecepatan datang adalah kurang dari satu menit. Kalau sampai lebih dari satu menit, tentu ada yang tidak beres, pikir saya. Tapi waktu itu, saya tetap naik bersama dengan si Bapak tadi.

Setelah semua penumpang duduk, Pak supir, seperti biasa mengingatkan kepada penumpangnya tentang jurusan yang akan dituju oleh bus. Tapi karena saya sibuk dengan berbagai perlengkapan yang harus saya letakkan satu persatu di dekat tempat duduk saya dan cukup banyak waktu itu, saya menjadi tidak focus mendengarkannya. Bus pun melaju perlahan. Seperti biasa, bus di Jepang, jalannya lambat-lambat. hehehe.

Saya mulai curiga bus yang saya tumpangi tersebut bukan ke arah bandara melainkan arah sebaliknya, dari bandara ke arah Oku Dogo, terminal terakhir yang berlawanan dari arah bandara. Saya pun benar-benar tersadar kalau saya salah jurusan. Dengan tergesa-gesa saya mendekat ke Pak Supir dan menanyakan arah tujuan bus tersebut. Dan benar saja, bus tersebut bukan ke arah bandara, melainkan sebaliknya. Tapi saya sudah cukup jauh hingga saya akhirnya bisa di turunkan di salah satu halte bus. Dengan tergesa saya bawa barang-barang saya dan saat saya akan bayarkan ongkosnya, Pak supir menolak untuk di bayar. Jadi saya turun sambil bilang, arigatou gozaimasu. Pak supirpun menunjuki saya agar saya menyebrang jalan, lalu menunggu bus sebaliknya untuk menuju ke bandara. Bus pun kembali melaju menuju terminal Oku dogo. saya kemudian menyebrang jalan, dan barulah teringat. Ada satu bawaan saya yang tertinggal. Poster saya masih di dalam bus!

Dengan sedikit panik, saya segera mengejar kembali bus tersebut, namun apa daya bus sudah terlanjur menjauh dari saya. Saya segera mencari taksi terdekat untuk mengejar, tapi tidak ada. Maklum, tempat saya di turunkan memang agak sepi sehingga bus dan taksi jarang sekali lewat disana kecuali pada jam-jam tertentu. Dengan perasaan tak karuan, karena saya harus mengejar pesawat ditambah poster tersebut harus di bawa lantaran menjadi salah satu agenda dalam pertemuan, saya pun mulai mencari solusi yang bisa dilakukan.

Saya menelpon salah seorang rekan saya untuk membantu menelpon perusahaan Bus tersebut (Iyotetsu) dan mengabarkan poster yang tertinggal, sehingga bisa membantu mengembalikan poster tersebut dalam waktu yang singkat, mengingat waktu take of semakin dekat. Saya pun menelepon Taksi langganan saya, dan tidak lebih dari 6 menit sudah sampai di depan saya. Setelah menyampaikan apa yang menjadi masalah saya kepada Pak supir taksi (dengan bahasa Jepang sekenanya, hehehe), akhirnya dengan baik hati beliau mau membantu saya.

Bapak supir taksi mulai menelepon perusahaan Iyotetsu untuk memastikan posisi bus 52 yang berangkat dari Dogo sekitar pukul 8.35 tersebut. Akhirnya diperoleh informasi bahwa bus tersebut telah sampai di terminal Oku Dogo dan segera kembali ke arah bandara. Namun Pak Supir taksi sadar betul saya butuh waktu segera, sehingga beliau segera meminta janjian bertemu secepat mungkin dengan Pak supir bus 52 tersebut dan di sepakatilah pertemuan dilakukan dihalte sekitar tunnel (terowongan). Kemudian saya di bawa oleh Pak Supir ke sana. Setelah menempuh cukup jauh, sampailah kami di tempat pertemuan yang di janjikan. Sayangnya, setelah sampai disana dan menunggu sekitar 2 menit, bus tersebut tidak juga kunjung datang. Pak Supir Taksi memutuskan untuk kembali ke halte semula, karena khawatir bus tersebut sudah melewati halte di sekitar terowongan tadi. Kami pun melaju kembali ke halte semula. Dan ternyata bus pun belum sampai di sana. Pak Supir pun dengan cekatan mengambil HP-nya dan menelpon kembali perusahaan Iyotetsu untuk memastikan posisi bus itu. Akhirnya kami mendapatkan kabar, bahwa bus tersebut baru saja melewati terowongan tempat awal kami janjian dan sebentar lagi sampai di halte tempat kami menunggu.

Tidak lama, akhirnya bus itupun datang. Perasaan saya begitu lega, karena poster tersebut benar-benar dibutuhkan saat ini. Segera Pak Supir bus pun keluar dari bus-nya dan disusul Pak supir taksi keluar dari taksinya. Dari dalam taksi saya melihat serah terima poster itu. Saya pun segera keluar untuk menyampaikan rasa terima kasih saya kepada Pak Supir bus.

Alhamdulillah, akhirnya sekarang beres, siap berangkat ke bandara. Selama perjalanan ke bandara, sayapun akhirnya berbincang-bincang dengan Pak Supir taksi, dari mulai pekerjaan, keluarga, hingga rencana masa depan. Yang paling saya ingat adalah saat dia bercerita tentang penghasilannya selama ini yang sengaja ditabungnya untuk berlibur bersama isterinya (sebagai gambarang usia Pak Supir sekitar 55 – 65 tahun). Hasil tabungannya sekarang sudah mencapai lebih dari 400 mang en (atau sekitar 400 juta).

Mulailah saya beraksi dengan menawarkan dia bagaimana untuk berlibur di Indonesia. Diapun akan mempertimbangkannya, setelah saya menjelaskan bahwa orang jepang yang datang ke Indonesia akan menjadi okane mochi san (orang kaya) karena perbedaan nilai mata uang.

Sampailah saya di bandara dan saya pun bersiap membayarkan ongkos taksinya. Kagetnya saya, ternyata argo yang berjalan sejak awal adalah bukan argo saat saya mulai memintanya mencarikan poster saya yang tertinggal di bus, akan tetapi saat saya benar-benar mulai berangkat dari halte terakhir menuju bandara. Sebagai gambaran ongkos dari halte tadi ke bandara sekitar 2700 yen, jadi mestinya harga terakhir sekitar 3500 – 4000 karena urusan tadi.

Saat saya tanyakan mengapa tidak di start sejak awal saya meminta bantuan, beliau menjawab, yang tadi adalah sebagai bantuannya untuk saya, bukan untuk ongkos ke bandara. Saya pun akhirnya mengiyakan dan mengucapkan terima kasih kepada Pak Supir sambil menuju belakang bagasi untuk mengambil koper saya.

Sambil membungkukkan badannya tanda hormat kepada penumpangnya, si Bapak supir berpesan kepada saya. “Hati-hati yah, posternya jangan sampai tertinggal lagi”. “Baik Pak” jawab saya dengan tersipu malu. Dalam hati saya bergumam “semoga semakin banyak orang-orang seperti Bapak ini di dunia”.

Dede Heri Yuli Yanto

Matsuyama Shi

24 Februari 2014.

HOPE Meeting with Nobel Laureates: Harapan itu masih ada!

Tag

, , , , , , ,


Cokelat berbentuk koin Nobel Laureates, sebagai hadiah untuk seluruh peserta HOPE Meeting with Nobel Laureates.

Cokelat berbentuk koin Nobel Laureates, sebagai hadiah untuk seluruh peserta HOPE Meeting with Nobel Laureates.

Tahun lalu, tepatnya 26 Februari – 2 Maret 2013, saya mendapatkan kesempatan mengikuti program The 5th HOPE Meeting with Nobel Laureates yang diselenggarakan oleh JSPS Japan di Tokyo. Program tersebut dilaksanakan dalam rangka mempertemukan sekitar 100 mahasiswa Ph.D dan atau mahasiswa postdoct dari 15 Negara di dunia dengan para pemenang Nobel Laureates di bidang “life science and related fields“. Acara yang diselenggarakan selama kurang lebih seminggu tersebut benar-benar menghadirkan suasana interaksi science, social dan culture yang luar biasa berkesan bagi semua peserta. Apalagi digrup discussion yang mempertemukan secara lebih dekat dengan pemenang Nobel Laureates.

Foto saya (paling atas urutan kedua dari kiri) bersama Pemenang Nobel Lauerates.

Foto saya (paling atas urutan kedua dari kiri) bersama Pemenang Nobel Lauerates dan peserta HOPE Meeting.

Di dalam grup discussion hari pertama, saya berdiskusi dengan Prof. Makoto Kobayashi. Beliau mendapatkan Nobel Prize pada tahun 2008 atas penemuannya tentang asal usul pecahan simetris yang dapat memprediksi keberadaan setidaknya 3 family quark di alam. <http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/physics/laureates/2008/kobayashi-facts.html&gt;. Di grup discussion hari kedua, saya berdiskusi dengan Prof. Ryoji Noyori yang mendapatkan Nobel Prize tahun 2001 atas penemuannya tentang reaksi hidrogenasi yang terkatalisasi secara kiral (http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/chemistry/laureates/2001/noyori-bio.html). Penemuannya ini banyak digunakan pada berbagai reaksi di dunia industry. Hari ketiga, saya berdiskusi secara intens dengan Prof. Gunnar Oquist, mantan Sekretaris Jenderal, The Royal Swedish Academy of Sciences.

Bersama dengan Prof. Makoto Kobayashi (Nobel Laureate in Physics 2008)

Bersama dengan Prof. Makoto Kobayashi (Nobel Laureate in Physics 2008)

Selain itu, saya berkesempatan bertemu langsung dan berdiskusi dengan beberapa pemenang Nobel Prize diantaranya: Prof. Susumu Tonegawa (Nobel Laureates in Physiology or Medicine 1987) yang begitu menarik memberikan presentasi mengenai penemuannya dibidang tersebut, terutama kaitannya dengan bagaimana otak mampu me-recall kembali memory yang telah tersimpan di masa lalu dan dikaitkan pada penyembuhan penyakit alzheimair dsb. Presentasi yang membuat saya terkesan (karena keagungan Allah atas seluruh penciptaan makhluknya) adalah tentang seekor tikus yang dimasukkan ke dalam kotak. Secara mendadak kotak tersebut diberikan panas (shock heating), maka secara spontan tikus tersebut lari berkeliling kotak sebagai respon panas tersebut. Kemudian, tikus tersebut diambil dan dipindahkan ke kotak yang sama kembali, namun tidak diberikan perlakuan panas. Luar biasanya adalah, tikut tersebut langsung berlari ke sekililing kotak terus menerus, hingga akhirnya tikus tersebut sadar bahwa tidak ada bahaya yang mengancam, dan kemudian dia diam (“freeze”) sejenak dan kemudian normal. Selama percobaan tersebut, sebuah sensor yang terhubung dengan computer ke dalam otak tikus, sehingga perbedaan pola respon terlihat selama otak tikus merespon berbagai keadaan tadi. Dari sinilah kemudian ditemukan bahwa otak (makhluk secara umum) memiliki kemampuan untuk me-recall kembali memory di masa lalunya, dan itu dapat dibangkitkan dengan beberapa treatment yang kemudian di gunakan sebagai pendekatan penyembuhan penyakit yang berkaitan dengan kehilangan memory baik jangka pendek ataupun panjang.

Bersama Prof. Ryoji Noyori  (Nobel Laureate in Chemistry 2001)

Bersama Prof. Ryoji Noyori (Nobel Laureate in Chemistry 2001)

Ada lagi pengalaman berkesan saat berdiskusi dengan Prof. Leo Esaki, Pemenang Nobel Prize in Physics tahun 1973. Di usia beliau yang sangat tua tersebut, beliau masih terlihat sangat fresh dan bersemangat memberikan presentasi mengenai pengalamannya di dunia penelitian sejak muda. Teringat betul saat paper (yang kemudian berhasil membawanya meraih Nobel Prize) di tolak di salah satu jurnal terkenal di Amerika, namun akhirnya paper tersebut di terima dan publish. Kemudian dari publikasi tersebut, mulailah beliau menghadiri pertemuan international yang saat itu di hadiri oleh salah seorang professor yang sangat terkenal dibidangnya. Uniknya, dari sinilah kemudian nama Leo Esaki mulai di kenal, saat professor tersebut menyebutkan namanya disalah satu konferensi ternama tersebut. Demikianlah kemudian penemuannya tersebut mampu menjadi perhatian dunia penelitian dan akhirnya membawanya menjadi pemenang Nobel tahun 1973.

Pemenang Nobel Prize yang juga hadir berdiskusi saat itu adalah Prof. Mario Renato Capecchi (Nobel Lauerate in Physiology or Medicine 2007), Prof. Aharon Jehuda Ciechanover (Nobel Laureate in Chemistry 2004). Pertemuan tersebut juga di isi oleh Dr. Suzanne Shale yang memberikan presentasi tentang “moral challenge” terkait penelitian.

Secara general, apa yang saya dapatkan dari pertemuan tersebut adalah 1) Peneliti seharusnya tidak hanya mempelajari terbatas pada bidangnya saja, akan tetapi juga harus berusaha membuka pemikiran mereka untuk memahami mutidisiplin ilmu pengetahuan. 2) Di dalam penelitian, kita juga tidak hanya menemukan fakta (yang menjadi dasar bagi ilmu pengetahuan) akan tetapi juga berusaha menemukan nilai (value) (yang meskipun saat kita menemukan fakta, belum tentu terlihat manfaatnya). 3) Kemampuan ilmu pengetahuan manusia sebagai individu peneliti sangat terbatas, oleh karenanya membangun “network” dengan peneliti yang lainnya untuk bisa mendapatkan kontribusi yang lebih luas bagi sustainability manusia dan masa depan adalah suatu keharusan. 4) Peneliti harus memiliki cara berpikir yang terintegrasi karena diskuis-diskusi interdisiplin ilmu pengetahuan adalah sebuah cara penting untuk membangun pengetahuan kita.

Saat ini, dunia tengah menghadapi berbagai permasalahan seperti global warming, degradasi lingkungan, penyakit-penyakit baru yang muncul karena perubahan pola hidup, polusi, dan sebagainya. Untuk menghadapi itu semua, peneliti seharusnya dapat berkontribusi dengan bekerja secara bersama-sama membangun kolaborasi penelitian yang mampu mengatasi permasalahan tersebut secara terintegrasi. Meski terasa seperti sebuah mimpi yang sulit terwujud, setidaknya saya yakin, adanya pertemuan HOPE meeting ini, dimana peneliti muda dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan terkait “Life Science” berdiskusi, menjalin network dan berbagi ilmu pengetahuan, mampu menghadirkan harapan untuk membangun masa depan lebih baik. Karena saya yakin, HARAPAN (HOPE) itu masih ada!

Foto bersama dengan Grup C (dari berbagai Negara), di HOPE Meeting with Nobel Laureate

Foto bersama dengan Grup C (dari berbagai Negara), di HOPE Meeting with Nobel Laureate

“Everyone has a chance to discover an unpredictable good result” (Saya dengar langsung dari Prof. Makoto Kobayashi)

Dede Heri Yuli Yanto

“Setahun setelah HOPE meeting with Nobel Laureates”

Matsuyama Shi, Japan.

23 Februari 2014.

Saat dompet tertinggal di bus

Tag

, , , ,


Setiap tahun Jepang selalu mengadakan acara pertandingan olah raga, biasa dikenal dengan istilah “undokai”. Ceritanya, waktu itu saya dan beberapa rekan PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Ehime ikutan gabung untuk meramaikan acara tersebut. Kami bergabung dalam satu tim dengan berbagai Negara dan dikoordinasikan oleh MIC (Matsuyama International Center). MIC adalah salah satu bagian dari pemerintah kota Matsuyama yang memiliki tugas khusus untuk memfasilitasi berbagai kegiatan international dan warga Negara asing di Matsuyama.

Pagi-pagi, kami semua sudah berkumpul di gedung COMS (tempat MIC berkantor) untuk berangkat bareng menggunakan bus yang sengaja di sewa oleh panitia. Sekitar 30 menit jarak tempuh, bus pun sampai ditempat undokai dilaksanakan. Tempat itu belakangan saya ketahui merupakan salah satu kompleks olah raga terbesar di Matsuyama bernama Botchan Stadium. Diberi nama demikian mungkin karena botchan adalah salah satu tokoh komik terkenal di Jepang yang berasal dari Ehime. Matsuyama sendiri merupakan pusat kota dan kota terbesar di Propinsi Ehime bahkan pulau Shikoku.

Di acara tersebut, kami mengikuti berbagai perlombaan olah raga unik seperti tarik tambang, lompat tali berkelompok, memasukkan bola ke dalam sarang yang tinggi (seperti basket), lomba balap lari perorangan dan berkelompok, dsb.

Saat acara usai, kami pun kembali ke gedung COMS dengan menaiki bus yang sama saat kami berangkat. Dari COMS kami kembali ke apartment masing-masing. Saat itu  adalah pukul 14.00 JST, saat saya sampai di depan apato (apartment saya). Sampai di ruang tamu saya langsung melepaskan semua perlengkapan saya. Seperti biasa, saya meletakkan kunci sepeda, tas, dan lalu merogoh kantong belakang untuk mengeluarkan dompet. Alangkah kagetnya, ternyata saya tidak mendapati dompet saya di kantong belakang celana. Saya langsung mengecek ke dalam tas, ternyata tidak ada. Saya pastikan di keranjang sepeda, juga tidak ada. Akhirnya saya baru sadar, kalau dompet saya hilang!.

Saya mulai panik dan mulai mengingat-ngingat kapan terakhir tangan saya bersentuhan dengan dompet. Apa mungkin jatuh saat saya ganti baju dan celana olah raga di lapangan. Apa mungkin jatuh saat bersepeda, saya masih tidak ingat. Atau bisa juga tertinggal di bus saat pulang, pikir saya saat itu. Diantara berbagai kemungkinan, hanya kemungkinan terakhir yang bisa saya cek sesegera mungkin. Itu berarti saya harus segera menelepon panitia MIC untuk memastikan apakah dompet saya tertinggal di bus atau tidak. Karena kalau mau mencari dilapangan, sebenarnya bisa saja, akan tetapi, butuh waktu yang lebih lama karena berarti saya harus pergi lagi ke bothan stadium, berkeliling ke lapangan, dan memeriksa kamar ganti baju untuk menemukan dompet tersebut.

Mulailah saya menelepon panitia MIC dengan bahasa Jepang seadanya, yang penting sampai kepada mereka apa yang saya maksudkan, bahwa saya ingin mereka memastikan apakah dompet saya tertinggal di bus atau tidak. Alhamdulillah mereka mengerti! intinya mereka akan segera menelpon  “utensha san” (supir bus) untuk memastikan apakah ada dompet saya atau tidak di bus tersebut.

Tidak lama saya menunggu, HP saya pun berbunyi kembali yang ternyata dari panitia MIC dan mengabarkan bahwa memang benar dompet saya tertinggal di salah satu bangku bus. Orang di ujung telpon pun berjanji bahwa salah seorang dari panitia akan segera mengantarkannya ke apato saya. Dan benar saja, tidak sampai 30 menit dari watu yang dijanjikan, dompet saya sudah kembali kepada saya. Luar biasa!

Pembaca yang budiman. Saya tidak sedang ingin membandingkan situasi ini apabila terjadi di Negara saya tercinta, Indonesia. Karena kita tahu persis apa yang akan terjadi saat benda-benda berharga kita sedikit saja lepas dari kita. Salah seorang rekan saya pernah berkata “Bro, di Indonesia, jangankan dompet tertinggal di bus. Tuh dompet, di rante aja dikantong ente, tetep bisa hilang kalau ente ga pegangin terus”.

Saya lahir dan besar di Jakarta. Meski begitu, sejujurnya saya kurang nyaman menggunakan fasilitas umum di Jakarta, terutama bus kota. Waktu saya kuliah di IPB Bogor, setiap hari Senin pagi, saya selalu berangkat dari rumah ke Bogor via Uki (dulu stasiun bayangannya ada di Uki). Setiap saya menaiki salah satu bus jurusan Grogol-Uki, selalu saja ada kejadian entah pencopetan, pemaksaan, dan kadang-kadang penodongan di dalam bus. Kejadian itu kerap terjadi setiap saya naik bus ke Uki. Bisa dibayangkan bagaimana bosan dan bencinya saya naik bus di Jakarta. Saya pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan motor ke kampus sejak saat itu.

Anyway itu dulu, mungkin sekarang sudah lebih baik. Apalagi ada busway yang katanya keamanannya sedikit terjamin. Jujur, saya belum pernah naik busway. Jadi belum tahu apakah benar begitu atau tidak. Intinya saya tetap yakin kalau masih banyak orang baik di negeriku tercinta. Meski saya pun sadar, butuh waktu lama untuk menjadikan Indonesia seperti Jepang saat ini.

Itulah Jepang! Meski sebenarnya saya sudah pernah dengar dari banyak cerita bahwa Jepang sangat aman dari pencurian dan kehilangan barang, tapi saat kehilangan pertama saya, rasa khawatir dompet saya tidak akan kembali tetap menghampiri. Dan kebenaran berita itupun akhirnya benar-benar terjadi pada diri saya.

Dede Heri Yuli Yanto

Matsuyama Shi

February 2014.

Berpikir mencari solusi

Tag

, , , , , , , ,


Berpikir mencari solusiTidak ada manusia yang tidak mendapati masalah/kesulitan selama hidupnya. Tapi tidak semua orang mampu keluar dari masalah tersebut. Ketika masalah itu datang, sebagian dari mereka lebih banyak menyerah dan lalu mencari jalan salah. Sebagaian lagi berdiam diri dan menunggu keajaiban datang memberi solusi. Meskipun ada juga diantara manusia yang senantiasa berpikir solutif (mencari solusi) dalam setiap permasalahan hidupnya.

Mempersiapkan diri

Salah satu cara preventif agar tidak shock dengan berbagai kesulitan yang datang menimpanya ialah mempersiapkan diri untuk memahami bahwa kesulitan itu adalah suatu qodratullah yang datang kepada manusia sebagai bentuk ujian. Jadi jangan berpikir bahwa kesulitan ga akan pernah datang kepada kita. Berpikirlah bahwa semua manusia, pasti akan mendapati kesulitan selama mereka hidup. Dan kesulitan-kesulitan itu bukan cuma datang kepada Anda, tapi kepada semua orang. Istilah lainnya ialah bahwa kesulitan itu adalah hal yang biasa dalam hidup. Kadang ia datang kepada orang lain, kadang kepada kita, dan sering ke semua orang. Dengan begitu, kita sudah mempersiapkan diri tatkala kesulitan itu datang kepada kita. Jadi, berpikir bahwa selama hidup tentu suatu waktu akan mendapati masalah akan menyiapkan diri kita tidak shock ketika masalah itu datang.

Bersama satu kesulitan ada lebih banyak kemudahan 

Jangan dilupakan bahwa disetiap kesulitan yang datang, akan ada bersamanya kemudahan. Sama halnya dengan kesulitan, kemudahan juga bisa datang kepada semua orang termasuk diri kita. Jadi peluang besarnya mendapatkan kesulitan atau kemudahan itu sama saja. Dan cara berpikir dan tindakan manusia itu sendiri lah yang akan menentukan besarnya peluang masing-masing tersebut. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan berlebihan tatkala kesulitan atau masalah datang kepada kita. Karena bersamanya datang pula kemudahan. Bahkan kemudahan yang datang bersama kesulitan lebih banyak jumlahnya. Hal ini jelas-jelas difirmankan Allah SWT:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً – إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, dan sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (TQS. Ash-Sharh: 5-6)

Terkait dengan ayat tersebut, Ibnu Jarir meriwayatkan dari al-Hasan, dia berkata: “Nabi s.a.w. pernah keluar rumah pada suatu hari dalam keadaan senang dan gembira, dan beliau juga dalam keadaan tertawa seraya bersabda (yang artinya):

“Satu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan, satu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan, karena bersama kesulitan itu pasti terdapat kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu terdapat kemudahan.”

Di dalam ayat tersebut, “kesulitan” disebutkan dalam bentuk mufrad (tunggal), sedangkan kemudahan (al-yusr) dalam bentuk nakirah (tidak ada ketentuannya) sehingga bilangannya bertambah banyak. Oleh karena itu, beliau s.a.w. bersabda, “Satu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.”

Demikianlah, Allah menyiapkan lebih banyak kemudahan kepada manusia setelah atau bersama datangnya kesulitan. InsyaAllah.

Selesaikan masalah besar, insyaAllah semua masalah cabang jadi kecil

Masalah-masalah seperti kelaparan, tidak punya uang, banyak hutang, tidak lulus ujian, anak sakit, dimarahi atasan, tugas pekerjaan yang tidak kunjung selesai, hati yang gelisah, perceraian, dibenci orang, rasa takut dalam berdakwah, dsb. yang seringkali menimpa manusia, sebenarnya adalah masalah-masalah cabang dari kehidupan. Semuanya itu tidak pernah lebih utama dari sebuah masalah besar (Al-uqdatul kubro) yang mesti lebih dahulu diselesaikan oleh manusia. Selama manusia belum mampu menyelesaikan permasalahan besar ini, maka permasalahan-permasalahan cabang tadi akan terasa menjadi masalah besar. Dengan kata lain, masalah-masalah cabang tadi sesungguhnya adalah masalah keciiiiiiil, jika manusia telah mampu menyelesaikan dan memahami solusi dari permasalahan besar dirinya. Persoalan besar yang harus diselesaikan dan dicarikan solusi jawaban atasnya adalah: keberadaan manusia di muka bumi ini, dari mana ia berasal, untuk apa ia di ciptakan, dan kemana ia akan kembali. Inilah yang disebut dengan (al-uqdatul kubro) permasalahan/persoalan besar manusia. Jika ini mampu di jawab dengan benar, maka persoalan-persoalan yang datang di cabang-cabang kehidupan akan terasa sangat kecil dan berpikir mencari solusinya menjadi lebih mudah ke arah yang lebih benar. InsyaAllah.

Islam menyelesaikan permasalahan besar tadi dengan jawaban:

Keberadaan manusia di muka bumi adalah diciptakan oleh Allah SWT (Zat yang Maha Pencipta dan Pengatur) dengan tujuan penciptaannya adalah untuk beribadah kepada-Nya. Manusia diberikan aturan hidup (Al-Qur`an) untuk menjadi petunjuk bagi perjalanan hidupnya (termasuk ibadah, makanan, dsb) di dunia, agar ia kembali kepada-Nya dalam keadaan yang di ridhoi-Nya dan menempati syurga-Nya.

Inilah masalah besar yang harus dipikirkan, dipahami, direnungkan, disadari, dan di-di- lainnya, agar manusia senantiasa ingat, bahwa tujuan hidupnya adalah untuk beribadah sesuai dengan syariat-Nya agar kembali kepada-Nya dengan diridhoi-Nya. Sehingga persoalan-persoalan hidup seperti tidak punya uang, sulit makan, dibenci orang dsb. bukan yang utama, hanya masalah cabang dari kehidupan, dan kedudukannya sangat kecil. Jadi selesaikan dulu masalah besar ini dengan penyelesaian yang sempurna, insyaAllah semua masalah cabang yang datang akan terasa mudah diselesaikan.

Simpulan

Jadi, persoalan, masalah, dan kesulitan hidup tentu ada dan bisa datang kepada siapa saja termasuk kita. Siapkan diri bahwa ia sangat mungkin datang kepada kita, dan anggaplah itu  hal yang biasa terjadi. Ketika kesulitan itu datang, Allah siapkan lebih banyak  kemudahan untuk kita. Yang terakhir, masalah-masalah yang menimpa kehidupan kita sejatinya adalah masalah cabang yang sangat kecil dan ringan penyelesaiannya, jika kita mampu menyelesaikan esensi dari masalah besar kita yaitu, dari mana kita berasal, untuk apa kita diciptakan, dan kemana kita akan kembali. Semoga kita mampu berpikir jernih mencari solusi atas permasalahan dan kesulitan yang datang kepada kita. Aamiin.

Wallahu a`lam bi ashowab,

Dede Heri Yuli Yanto

dede@biomaterial.lipi.go.id

Matsuyama Shi,

November 29, 2013

Typhoon, bencana, dan Jepang

Tag

, , , , ,


Taifun Japan-editedOctober 17, 2009 lalu seharusnya menjadi hari pertama kalinya saya pergi ke Saragamine Mountain (salah satu gunung terdekat dari kampus saya di Ehime Uni, Shikoku) untuk mengambil beberapa sample jamur bersama Professor saya. Tapi sayang, kami harus mengundurkan maksud tersebut hingga satu minggu kedepan lantaran typhoon (atau taifu dalam bahasa jepangnya) kebetulan akan menghampiri Ehime pada tanggal-tanggal tersebut. Sejak pertama kali saya datang ke Ehime tanggal 7 Otober 2009 lalu, taifu memang sering sekali berkunjung ke Jepang. Salah satu efek yang sangat saya ingat waktu itu adalah ketika salah seorang rekan seangkatan saya dari Indonesia harus rela di cancel penerbangannya akibat taifu tersebut. Hingga akhirnya ia tidak bias hadir di pertemuan perdana kelas Japanese culture yang tempo itu dilaksanakan pertama kalinya pada minggu-minggu pertama bulan Oktober. Beruntung saya tiba di Matsuyama pada tanggal sebelum kedatangan taifu tersebut.

Taifu adalah sebuah system tekanan rendah yang besar, biasanya muncul dari arah barat laut Samudera Pasifik disertai dengan angin kencang hingga mencapai kecepatan 200 km/jam, dan mampu menaikkan permukaan laut serta disertai curah hujan yang cukup deras.

Sekitar 30 taifu setiap tahunnya menghampiri Jepang dan muncul dari arah barat laut Samudera Pasifik. Seringnya melintasi Okinawa Prefecture atau menghantam pulau-pulau utama di Jepang khususnya Kyushu dan Shikoku. Tapi tidak jarang juga wilayah seperti Tokyo, Osaka, bahkan Hokkaido terkena imbas taifu.

Taifu datang antara bulan Mei dan Oktober dengan Agustus dan September adalah puncak-puncaknya. Taifu yang datang lebih belakangan cenderung lebih besar daripada yang datang lebih awal dalam satu musim tersebut. Di Jepang, taifu yang datang biasanya diberi nomor dan jarang diberikan nama seperti di beberapa negara yang menggunakan nama untuk typhoon yang datang. Misalnya Taifu No. 12 artinya taifu tersebut adalah taifu yang datang dengan urutan ke dua belas pada tahun tersebut.

Di Jepang, titik-titik pergerakan taifu dapat diprediksi dengan sangat akurat. Media Jepang sering memberitakan pergerakan taifu ini bila kedangannya tiba. Misalnya tadi malam diberitakan bahwa Taifu No. 27 dan 28 akan datang berbarengan sekaligus menuju Jepang. Pergerakannya diprediksi akan mencapai Shikoku sekitar tanggal 25 pukul 15.00 hingga tanggal 26 Oktober pukul 15.00. Pemerintah setempat diberbagai wilayah yang dikhawatirkan terkena dampak berat akibat taifun saat ini tengah mengevakuasi warganya. Pasalnya, Taifun no. 26 yang datang pada 16 Oktober 2013 lalu telah menjadi taifu terbesar semenjak 1 decade (10 tahun) terakhir yang mengakibatkan setidaknya 18 orang tewas dan 44 orang lainnya hilang. Hantaman terbesar terjadi di pulau Oshima, sekitar 120 km selatan Tokyo. Mayoritas orang tewas akibat hujan deras yang memicu banjir dan tanah longsor yang menimpa rumah-rumah penduduk sekitar. Karenanya, beberapa tempat yang diperkirakan akan rawan ini sudah mulai dievakuasi sejak kemarin.

Taifu di Jepang, sekali lagi merupakan fenomena alam yang suka atau tidak suka datang setiap tahunnya. Titik masalahnya bukan disana. Tapi pada bagaimana pemerintah Jepang mengantisipasi kedatangan taifu setiap tahunnya. Saya tentu tidak secara detail mengetahui bagaimana mereka mengantisipasi ini dengan berbeagai rencana dan strategi. Tapi paling tidak hal-hal yan bisa tampak dari berbagai aktivitas, dapat dengan mudah dianalisa bahwa itu adalah bagian dari persiapan tersebut. Misalnya, dengan mulai menebangi pohon-pohon atau dahan-dahan yang kelihatan sudah mulai rapuh dan dikhawatirkan akan patah terkena taifu, menormalisasi kembali kekencangan kabel-kabel listrik di jalan-jalan, informasi-informasi media yang gencar memberitakan aspek-aspek taifu, mulai dari kedatangan, kekuatan, antisipasi yang harus dilakukan oleh seseorang bila secara tidak sengaja sedang ada di jalan, menyediakan tempat-tempat penampungan sementara, menyediakan alarm disetiap pinggiran sungai yang akan bunyi tatkala ketinggian sungai mencapai titik tertentu, dan lain-lain.

Jepang memang negeri penuh tantangan (alam). Berbagai ancaman bencana mereka prediksi akan datang di negeri tersebut. Seperti gempa dahsyat yang diprediksi akan juga datang di Shikoku atau wilayah-wilayah Jepang secara umum, atau gempa yang memicu tsunami disekitar Kochi, dan sebagainya. Makanya tidak heran kalau setiap tahun ada sekitar 2-3 kali tercatat latihan penanganan gempa, seperti latihan migrasi menuju tempat penampungan yang aman di lapangan softball campus. Bahkan microphone-microphone dari bagian tata usaha kampus sering kali terdengar hanya untuk melakukan test apakah microphone tersebut berfungsi dengan baik atau tidak untuk sewaktu-waktu digunakan mengarahkan orang-orang ke tempat penampungan.

Demikian pula halnya di apartement-apartement tempat warga. Di tempat tinggal saya contohnya, setiap tahunnya ada minimal satu kali pengecekkan sinyal (alarm) penangkap asap atau panas di dalam apartement. Alarm ini akan terhubung dengan kantor pemadam kebakaran daerah setempat. Sehingga sewaktu-waktu berbunyi karena asap yang menebal atau panas disekitarnya, akan dengan mudah terdeteksi di wilayah mana itu terjadi. Jadi jangan berharap Anda bisa dengan mudah membakar sesuatu di dalam rumah, seperti bermain kembang api. Untuk sekedar masak pun atau mandi dengan shower air panas, blower di dapur atau di kamar mandi harus dinyalakan kalau tidak mau mengundang Pak pemadam kebakaran datang ke apartement Anda.

Rekan saya pernah punya kejadian lucu dan unik untuk diingat. Suatu ketika mereka bermaksud mengadakan bakar sate di apartement (bisa menggunakan kompor listrik dengan pemanggang daging). Tapi karena khawatir alarm akan berbunyi akibat banyaknya asap yang ditimbulkan, maka mereka memindahkan pembakaran di bagian tangga apartement (di luar apartement). Selang beberapa lama, ternyata alarm di apartement tersebut berbunyi cukup keras, dan tak lama kemudian datanglah petugas pemadam kebarakarn tersebut. Tidak ada api yang akan dipadamkan, melainkan mereka hanya memberikan peringatan kepada rekan saya untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya itu. Uniknya lagi, selama alarm tersebut berbunyi, tidak ada satu wargapun yang berkumpul di sekitar apartement tersebut. Entah karena mereka merasa aman, karena sudah ada petugas yang akan menangani hal itu, atau karena memang mereka individualis dan merasa itu bukan lagi urusan mereka.

Anyway, yang saya ingin bagi di tulisan ini adalah bahwa tidak peduli apakah bencana itu akan datang atau tidak, tapi persiapan dan antisipasi harus dibuat. Begitulah negeri Jepang tempat saya tinggal saat ini telah melakukannya dengan sangat baik. Setidaknya, itu kesan saya.

Wallahu a`lam bishowab.

Dede Heri Yuli Yanto,

Matsuyama Shi

October 24, 2013.

Listrik statis saat musim dingin di Jepang

Tag

, , , , ,


listrik statis-okAlhamdulillah, saat ini Jepang tengah memasuki musim gugur yang dalam bahasa Jepang disebut dengan “aki”. Itu artinya, cuaca akan mulai beranjak turun menjadi lebih dingin ke depannya. Suhu terendah biasanya ada disekitar akhir bulan Januari hingga pertengahan Februari. Itu berarti musim dingin (atau yang dalam bahasa Jepangnya disebut dengan fuyu) sedang berada di puncak-puncak “kedinginannya”. Bagi saya, musim dingin di Jepang memiliki tantangan tersendiri. Selain rasa dingin yang luar biasa (karena saya memang tidak kuat dingin) dan menyebabkan kulit pecah-pecah bahkan hingga berdarah, ditambah jadwal sholat yang semakin pendek disiang hari, musim dingin di Jepang sering “mengejutkan” saya dengan setruman “listrik statisnya”. Terus terang setruman-setruman ini sempat “meneror” saya, hingga suatu waktu membuat saya agak trauma menyentuh benda-benda “berbau” besi. Bayangkan, setiap saya menyentuhnya, baik sengaja atau tidak, tiba-tiba saya kesetrum, dan tidak jarang dengan daya setrum yang cukup besar sehingga mengejutkan saya. Karenanya saya sering berhati-hati saat menyentuh gagang pintu, keran air, meja belajar (yang sebagiannya terbuat dari besi), atau elevator (lift). Biasanya saya tarik sedikit bagian jaket atau kemeja saya untuk memegangnya. Itupun, kalau tidak lupa. Seringnya saya terlupa dan spontan kesetrum. Sebelum saya menulis blog ini pun, saya sempat kesetrum karena memegang keran westafel saat ingin cuci tangan, padahal baru masuk “aki”. Tapi, Alhamdulillah, kejadian itu jadi mengingatkan saya untuk menulis artikel ini.

Fenomena listrik statis sebenarnya bukan hanya terjadi di Jepang. Di negeri-negeri lain yang mengalami musim dingin pun biasa merasakannya. Ini terjadi karena udara di tempat tersebut sangat dingin, mengakibatkan kelembaban yang sangat rendah. Atau dengan kata lain, udara menjadi sangat kering. Udara yang sangat kering ini, menjadi salah satu insulator yang dapat mendukung terbentuknya gejala listrik statis. Disamping itu, pakaian yang digunakan selama musim dingin, yang biasanya terbuat dari bahan wol, menambah kemungkinan timbulnya fenomena ini.

Kenapa bisa timbul listrik statis?

Sebenarnya fenomena listrik statis sudah umum diketahui. Salah satunya percobaan ketika kita menggosokan penggaris plastic ke kain. Setelah beberapa lama digosokan, apabila penggaris plastic tersebut kita dekatkan dengan rambut, maka seketika pula rambut akan berdiri dan menempel ke penggaris tersebut.

Setiap benda disekitar kita tersusun atas materi yang paling kecil disebut atom. Atom tersusun atas tiga bagian yang lebih kecil, disebut proton (bermuatan positif), neutron (tidak bermuatan), dan electron (bermuatan negative). Biasanya setiap benda itu bersifat netral yang artinya jumlah proton dan elektronnya sama. Suatu keadaan tertentu dapat menyebabkan jumlah elektronnya di suatu bahan lebih banyak dari proton, sehingga benda tersebut bermuatan negative, demikian sebaliknya, jika jumlah protonnya lebih banyak dari elektronnya, ia akan bermuatan positive.

Beberapa atom memegang electron mereka lebih kuat dibandingkan yang lainnya. Hal ini menentukan seberapa besar kecenderungan sebuah benda untuk melepaskan atau menerima elektronnya ketika bersentuhan dengan benda lainnya. Di dalam sains istilah ini dikenal dengan deret triboelektrik. Saya tidak ingin terlalu detail membahas deret ini supaya tidak terkesan rumit. Intinya adalah ketika suatu bahan bersentuhan maka sangat dimungkinkan terjadinya perpindahan electron dari suatu bahan yang lebih banyak mengandung electron ke bahan yang lebih sedikit elektronnya. Beberapa atom mendapatkan tambahan electron sedangkan yang lainnya kekurangan electron. Perpindahan muatan inilah yang disebut dengan listrik statis. Semakin jauh jarak antara kedua bahan dalam deret tersebut, semakin besar efek yang ditimbulkan dari perpindahan electron tersebut.

Terasa kesetrum

Jaket-jaket tebal yang terbuat dari wool atau bulu yang digunakan selama musim dingin, atau sepatu yang terbuat dari bahan insulator dapat mengumpulkan muatan pada tubuh kita dan siap akan melompat dan berpindah ke gagang pintu, keran air dan sebagainya untuk menjadi netral. Udara kering saat musim dingin semakin memanjakan fenomena ini. Makanya, saat tubuh kita yang sudah terkumpul oleh muatan listrik kemudian menyentuh bahan-bahan konduktor seperti gagang pintu, keran air, atau bagian besi pada meja belajar, akan menimbulkan kejutan listrik yang terkadang lumayan besar. Saat itulah kita merasakan kesetrum. Jadi, peristiwa kesetrum itu sebenarnya adalah peristiwa perpindahan muatan dalam tubuh kita yang terkumpul untuk menjadikannya netral.

Menghindari efek kesetrum

Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengurangi efek listrik statis pada diri kita. Misalnya dengan menggunakan humidifier di dalam ruangan sehingga udara di dalam ruangan tersebut tetap terjaga kelembabannya. Memakai pakaian dengan bahan serat alami sehingga mengurangi penumpukkan muatan pada tubuh kita. Selama di dalam rumah, misalnya, berjalan tanpa alas kaki (meskipun kadang-kadang cukup dingin juga) sehingga mampu mengurangi penumpukan muatan karena telah tersalurkan ke ground (Tanah). Dan biasanya saya selalu menyentuh dinding (ground) dahulu sebelum menyentuh bahan konduktor untuk mengurangi efek loncatan muatan tersebut. Karena dengan menyentuk dinding atau wall yang terhubung ke tanah, akan mengosongkan muatan dalam tubuh kita sehingga tidak terjadi lompatan saat bersentuhan dengan bahan konduktor. Kalau di dalam hotel atau gedung universitas, biasanya di depan lift akan ada tulisan seperti gambar di atas, yang meminta kita untuk menyentuh bagian tersebut terlebih dahulu agar tidak kesetrum saat menekan tombol lift tersebut.

Anyway, fenomena listrik statis ini memang unik, dan merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang menciptakan seluruh benda-benda tersebut dengan berbagai karakteristik dan sifat-sifat uniknya. Tentu ini dapat menjadi pelajaran bagi kita jika kita mau mengambil hikmahnya. Selamat memasuki musim gugur, dan bersiap-siap menghadapi musim dingin. Hati-hati yah kesetrum…..

Wallahu a`lam bi ashowab.

Dede Heri Yuli Yanto,

Matsuyama Shi,

16 Oktober 2013.

Kunci kebahagiaan: ada dibalik rasa syukur

Tag

, ,


Kunci kebahagiaanSiapa yang tidak ingin bahagia. Tentu tidak ada. Hanya orang aneh yang tidak mau bahagia. Sayangnya, belum tentu semua orang dapat menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan hanya bisa dirasakan oleh mereka dapat menemukan kuncinya. Tidak peduli apakah ia orang paling berkedudukan di dalam satu komunitas, apakah ia orang yang paling berharta, atau ia orang yang paling terkenal, kalau ia belum mampu menemukannya, sangat mungkin ia sulit mendapatkan kebahagiaan.

Kunci kebahagiaan bukan terletak dibalik banyaknya uang atau harta yang dimiliki seseorang. Meskipun, bisa saja harta menambah kebahagiaan seseorang. Faktanya, banyak orang yang jauh lebih kaya hartanya, tapi justru tidak lebih bahagia dari orang yang lebih sedikit hartanya. Jika harta adalah kunci kebahagiaan, maka secara matematik, orang yang semakin banyak harta akan semakin bahagia sebanyak lipatan kekayaan yang dimilikinya. Sebagai contoh, seseorang dengan penghasilan sebesar 30 juta rupiah perbulan mestinya harus lebih bahagia 30 kali lipat daripada orang yang penghasilannya sebesar 1 juta rupiah perbulan. Tapi kenyataannya tidaklah demikian. Ini membuktikan kunci kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya uang dan harta yang kita miliki.

Kunci kebahagiaan juga tidak terletak dibalik kekuasaan dan jabatan. Tidak jarang orang dengan jabatan paling rendah di suatu instansi/kantor justru jauh lebih bahagia ketimbang mereka yang memiliki posisi teratas di kantor tersebut, demikian pula sebaliknya. Fakta saat ini malahan menunjukkan semakin banyak pejabat dan pemegang kekuasaan yang justru terlibat dalam perkara-perkara dosa besar seperti korupsi, perzinahan serta berbagai dosa yang mungkin muncul dari penyalahgunaan kekuasaannya, yang menyebabkan timbulnya rasa was-was, khawatir ketahuan orang lain, khawatir dipenjara, dan sebagainya sehingga menjauhkannya dari bahagia.

Apakah kunci kebahagiaan terletak pada banyaknya anak? Ternyata memiliki anakpun tidak menjamin adanya kebahagiaan dalam diri seseorang. Setiap anak yang baru lahir tentu di damba-damba oleh kedua orang tuanya (tentu jika ia dilahirkan melalui hubungan yang halal). Akan tetapi, tidak jarang orang tua yang menelantarkan pendidikan moral, agama, dan karakter anaknya sehingga anaknya tumbuh menjadi anak yang tidak berbakti kepadanya. Pada kondisi seperti ini, tentu memiliki anak yang durhaka tidak dapat menjamin kebahagiaan seseorang. Sebaliknya, keberadaan anak yang sholeh, berbakti sangat mungkin mendatangkan kebahagiaan bagi orang tuanya. Karenanya anak tidak menjadi kunci bagi kebahagiaan seseorang.

Kunci Kebahagiaan

Sesungguhnya kunci kebahagiaan terletak di balik rasa syukur. Tidak perduli bagaimanapun keadaan anda, jika anda mampu mensyukuri nikmat yang (pasti) ada pada diri Anda, maka Anda akan mampu meraih kebahagiaan itu. Karena sejatinya, tidak ada satu hari bahkan satu detik pun yang berlalu tanpa nikmat Allah. Bahkan jika kita mau menghitung-hitungnya niscaya kita tidak akan mampu. Hitunglah berapa banyak udara yang anda hirup setiap sepersekian detik, yang dengannya, paru-paru anda mampu terpenuhi oksigen. Lalu sel-sel darah merah anda membawanya beserta sari-sari makanan untuk proses-proses metabolisme tubuh. Sehingga Anda mampu tumbuh, berpikir, berjalan, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya. Pernahkah Anda membayangkan jika salah satu anggota tubuh Anda tidak berfungsi dengan normal. Apa yang terjadi?

Suatu ketika, kaki saya pernah cidera karena bermain sepak bola. Hanya cidera ringan di bagian lutut saya. Tapi selama seminggu, saya merasakan sakit yang luar biasa, terutama ketika sholat pada posisi duduk diantara dua sujud atau tasyahud. Tapi Alhamdulillah, selang seminggu rasa sakit berangsur hilang, dan saya mampu sholat dengan posisi duduk yang sempurna, InsyaAllah. Suatu saat pernah terlintas pada diri saya, bagaimana jadinya, jika kaki ini, benar-benar tidak mampu berdiri atau berjalan. Tentu banyak aktivitas yang tidak bisa sempurna saya lakukan. Maka saya merasa sangat bersyukur sekali akan nikmat kesembuhan kaki saya tersebut dan saya bersyukur hanya cidera ringan yang saya dapati ketika itu. Yaah, kita pasti menemukan berlimpah nikmat meski dibalik berbagai kesulitan yang kita hadapi. Tentu jika kita mau mencarinya.

Lalu bagaimana mereka yang benar-benar tidak memiliki tubuh yang sempurna, kondisi kemiskinan yang memprihatinkan, cobaan kehidupan yang sangat berat, seperti sakit yang luar biasa, kesempitan waktu luang, penatnya pekerjaan, dan sebagainya. Sama saja, mereka (pasti) masih bisa bersyukur karena nikmat Allah (sekali lagi) tidak pernah putus. Lihatlah, berbahagai hal-hal yang kadang tidak kita sadari. Seperti nikmat udara yang tidak pernah habis, senyum anak-anak yang menyapa ketika kita pulang kerja, makan malam yang sudah disiapkan isteri tersayang, orang-orang yang senantiasa ada di sekitar kita, senyum dan sapa teman-teman kita, sejuknya udara yang menerpa wajah kita, pakaian yang kita gunakan, rumah tempat kita berlindung, malam waktu kita beristirahat, lidah tempat kita merasakan berbagai rasa makanan, bahkan enzyme-enzyme yang membantu metabolisme di dalam tubuh kita, semuanya masih menyimpan potensi untuk kita syukuri. Kadang-kadang kita melupakannya. Sehingga kita kurang bersyukur atas nikmat tersebut.

Cara bersyukur

Baiklah, kita sudah tahu bahwa kunci bahagia terletak di balik rasa syukur. Pertanyaannya, bagaimana caranya kita bersyukur. Tidak ada cara lain kecuali tetap focus pada apa yang kita miliki lalu syukuri apa yang ada sekecil apapun itu. Jangan pernah mengeluhi apa yang kita dapati. Mulainya mensyukuri setiap hal (baik kecil, apalagi besar) yang ada pada kita. Ini mungkin terasa berat di awalnya, tapi tidak ada cara lain kecuali mulai melakukannya sekarang juga, lalu dijadikan kebiasaan, maka pada akhirnya semakin lama ini akan semakin mudah kita lakukan. Rasa syukur dapat di wujudkan melalui aktivitas hati dan pikiran, lisan, maupun perbuatan anggota badan. Melalui hati dan pikiran, rasa syukur dapat di wujudkan dengan senantiasa mengingat Allah dalam setiap hal, waktu dan kondisi apapun, terlebih lagi ketika anda mendapatkan nikmat yang luar biasa. Namun sekali lagi perlu diingat bahwa tidak akan pernah ada detik-detik yang berlalu tanpa nikmat Allah SWT. Sehingga, semakin banyak Anda mengingat Allah, semakin banyak peluang Anda meraih kebahagiaan hidup. Aktivitas hati dan pikiran inilah yang akan senantiasa menjaga manusia untuk selalu ingat kepada Allah SWT, zat yang memberikan sumber kebahagiaan bagi manusia. Melalui aktivitas lisan, rasa syukur dapat diwujudkan berupa ucapan “Alhamdulillah” di setiap kesempatan, terutama ketika kita merasakan nikmat yang luar biasa pada diri kita. Ucapan “Alhamdulillah” pada sejatinya adalah ekspresi yang memperkuat nilai-nilai ketauhidan dan menumbuhkan sikap penghambaan yang semakin tunduk kepada Allah SWT, karena melalui ucapan ini, seorang hamba sepenuhnya mengembalikan Segala pujian, nikmat dan kebahagiaan kepada Allah SWT. Pujian apapun di seluruh alam ini adalah hanya milik Allah SWT. Dengan senantiasa membiasakan mengucapkan “Alhamdulillah” disetiap rasa syukur yang kita dapati, atas izin Allah SWT akan mendatangkan kebahagiaan bagi yang mengucapkannya. Yang ketiga, rasa syukur tentu dapat diwujudkan melalui aktivitas tubuh atau perbuatan. Ini tentu dilakukan dalam bentuk ibadah perbuatan sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Dengan nikmat Islam, Allah jadikan kita mengenal sumber-sumber kebaikan, demikian pula dengan nikmat iman dan juga kesehatan. Menggunakan nikmat iman, islam, dan kesehatan untuk senantiasa beribadah kepada Allah melalui aktivitas tubuh dan perbuatan merupakan tanda ketakwaan kepada Allah SWT. Apalagi ini semua dilakukan dengan penuh kesadaran akan berbagai nikmat yang Allah berikan kepada kita. Allah SWT berfirman: “Jika engkau mensyukuri nikmatKu, maka akan Aku tambah nikmatKu, tapi jika engkau mengingkari, sesungguhnya azabKu amat pedih” (TQS. Ibrahim:7)

Wallahu a`alm bi ashowab,

Dede Heri Yuli Yanto,

Matsuyama Shi, 14 Oktober 2013