Tag

,


“Yang penting berbuat baik aja deh!” begitulah kira-kira ungkapan salah seorang teman saya, atau mungkin beberapa dari teman Anda. Saya sendiri tidak menyalahkan sepenuhnya ungkapan tersebut, tetapi yang perlu dikritisi adalah “berbuat baik yang seperti apa dan apa standarnya?” Sepintas kritik tersebut memang terasa berlebihan dan terlalu mengada-ngada. Bahkan seorang teman saya yang lain langsung menimpali. “Yah, yang penting berbuat baik, cukup jelas khan!”. Sebenarnya saya bisa menangkap apa yang dimaksudkan oleh teman saya itu, dan mudah-mudahan tidak keliru. Mungkin yang ia maksudkan adalah berbuat sesuai dengan aturan umum yang berlaku (yang biasa) saat ini di suatu komunitas masyarakat (tempat) dan sebagian besar orang/masyarakat di sekitar menganggap sebagai perbuatan yang baik. Intinya tidak berbuat yang aneh-aneh, dan masyarakat memakluminya. Pertanyaannya, “benarkah seperti itu?”

Adakalanya suatu perbuatan yang dianggap baik pada masa kini mungkin dahulunya dianggap momok, atau sebaliknya. Adapula perbuatan yang dianggap baik di suatu tempat, wilayah atau negara tertentu tetapi sangat mungkin dianggap buruk di tempat, wilayah atau negara yang lain. Bahkan perbuatan yang dianggap baik oleh seseorang, bisa saja merupakan keburukan bagi orang lain. Intinya, dengan mengganggap suatu perbuatan itu baik hanya karena sesuai dengan pengakuan sebagian besar orang pada “masa tertentu” dan “ditempat tertentu” ternyata tidaklah tepat. Karena nilai kebaikan sesungguhnya tidaklah mengenal masa (waktu), tempat, ataupun keadaan umum yang ada, apakah nilai itu dibenci atau disukai. Karena sesungguhnya sesuatu yang dibenci atau disukai bukanlah standar apakah sesuatu itu baik atau buruk. Sangat perlu bagi kita untuk menghayati apa yang Allah SWT firmankan dalam Surat Al-Baqoroh (216):

﴿ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ ﴾

“Tetapi boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui dan kalian tidak mengetahui.”

Baik dan buruk juga tidaklah ditentukan oleh anggapan umum sebagian besar manusia. Bayangkan kita bertanya kepada sekumpulan orang-orang yang mencari nafkahnya (mohon maaf: seperti lagu yang pernah dinyanyikan ulang oleh Peterpan) menjadi si “Kupu-Kupu Malam”. Sebagian besar dari mereka (kalau tidak bisa dibilang seluruhnya) menganggap perbuatannya adalah baik dan benar. Alasannya, demi mencari nafkah untuk menyambung nyawa (seperti di dalam lagunya). Lalu tanyakan kepada teman-teman anda tentang “demokrasi”. Kebanyakan mereka akan menjawab demokrasi adalah sistem terbaik. Lalu apakah hanya karena sebagian besar si “Kupu-Kupu Malam” menganggap perbuatannya baik, lalu kita ikut-ikutan meng”iya”kannya dan menganggap perbuatan itu biasa? Demikian pula dengan “demokrasi”, apakah hanya karena sebagian besar manusia saat ini begitu mempercayai demokrasi, lantas kita ikut-ikutan menjadi pendukung bahkan pembelanya? Sekali-kalipun tidaklah demikian. Bahkan dibanyak ayat Allah SWT senantiasa mengingatkan kita bahwa sebagian besar manusia adalah orang-orang munafik dan senantiasa membuat kerusakan tetapi mereka tidak mengetahui dan tidak menyadari.

Allah SWT berfirman:

وَمَا يَخْدَعُونَ إلاَّ أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

…Padahal mereka hanyalah menipu diri mereka sendiri tanpa mereka sadari (Al-Baqoroh (2): 9)

﴿ أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَـكِن لاَّ يَشْعُرُونَ ﴾

Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari (Al-Baqoroh (2): 12)

وَلَـكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ

Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui…(Al-Qashash (57))

Berbuat baik memang penting, apalagi Allah SWT senantiasa menyukai bahkan menambah karunia bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.

﴿وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾

“Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Imran (3) : 134)

وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ

“Dan Kami akan menambah (karunia) bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Al-Baqoroh (2):58)

Tetapi yang lebih penting adalah “berbuat baik sesuai dengan standar yang benar, yakni bersumber dari Allah SWT,” sesuai dengan Surat Al-Baqoroh (2): 216 di atas, tidak lain adalah hukum syara`. Sangat berbahaya menjadikan anggapan umum manusia sebagai standar kebaikan (halal) atau keburukan (haram) karena manusia sifatnya terbatas dari segala hal. Manusia tidak akan pernah mampu mengetahui masa depannya, sehingga bagaimana mungkin dia bisa mengetahui bahwa sesuatu itu baik atau buruk baginya untuk saat ini terlebih lagi untuk masa depan? Sementara kebaikan dan keburukan itu berlaku tetap hingga kehidupan dunia ini berakhir. Dan hanya Allah SWT sajalah yang mengetahui segalanya. Manusia juga tidak pernah lepas dari kepentingan sehingga standar kebaikan dan keburukan yang bersumber darinya tentu tidak pernah lepas dari kepentingannya.

Barangkali inilah esensi kembali kepada syariah islam, karena hanya Allah SWT sajalah (melalui syariah-Nya) yang pantas dijadikan standar kebaikan dan keburukan. Ketika kita berpegang teguh kepada syariah-Nya, niscaya selamatlah kehidupan kita di dunia terlebih lagi di akhirat. Karena hanya dengan Syariah-Nya-lah kita akan mampu membedakan kebaikan (halal) dan keburukan (haram) dengan benar. Kebaikan yang kita lakukan di dunia, selama bersandar kepada hukum syara` niscaya mendatangkan kemaslahatan di dunia serta pahala di akhirat. Dan apakah yang lebih berharga daripada pahala dan keridhaan Allah SWT ketika di akhirat nanti, dimana hanya keridhaan-Nya lah yang membedakan apakah kita di syurga atau di neraka? Tidakkah kita khawatir, jangan-jangan kebaikan yang selama ini kita lakukan, karena hanya ikut-ikutan sebagian besar orang yang tidak menjadikan syariah sebagai standarnya, hanya akan bernilai sia-sia di hadapan Allah SWT? Lebih parahnya, bagaimana jika perbuatan yang selama ini dianggap baik oleh sebagian besar manusia ternyata adalah keburukan bahkan sesuatu yang dimurkai oleh Allah SWT? Bukankah itu sebuah kerugian yang besar?

Jadi, yang penting berbuat baik menurut syariah-Nya, dan mari kembali kepada syariah-Nya! Benar khan?

Wallahu a`lam bi asshowab….

Dede Heri Yuli Yanto,
Matsuyama, Ehime, Japan
4.18 AM. Saturday, May 22, 2010.

Iklan