Tag

,


Salah satu potensi yang diberikan Allah SWT kepada kita adalah akal. Oleh karena itu, akan sangat beruntung bagi kita jika mampu mengenali dan memahami fungsi dan hakikat akal sesungguhnya. Yuks kita selami sedalam-dalamnya….

Akal berbeda dengan otak. Makna hakiki dari akal ialah berpikir. Meski hewan memiliki otak, tapi ia tidak berakal. Alasannya, keberadaan otak saja tidak cukup mewujudkan aktivitas berpikir, tapi diperlukan faktor lain. Berpikir merupakan perkara penting dalam kehidupan. Ia tidak mungkin di hilangkan dari manusia, yang ada adalah berpikir lambat.

Akal atau berpikir adalah upaya memindahkan fakta ke dalam otak dengan perantaraan indera, yang disertai dengan adanya informasi pendahulu, untuk menafsirkan fakta tersebut. Berarti, kecepatan berpikir sangat ditentukan oleh kecepatan memindahkan fakta kedalam otak dan kecepatan dalam mengaitkan fakta tersebut dengan informasi pendahulunya (ma’lumat sabiqoh) untuk kemudian menjustifikasi fakta tersebut, hingga menghasilkan suatu respon yang berupa tindakan, baik dalam bentuk perbuatan atau diam.

Berpikir adalah perkara alamiah dalam diri manusia. Hanya saja aktivitasnya membutuhkan penyengajaan. Ia berbeda dengan kesadaran. Kesadaran ada pada setiap manusia. Karena aktivitas berpikir membutuhkan penyegajaan, maka pecermatan terhadap fakta sangat diperlukan pada tahap awal dari berpikir. Pada kasus-kasus tertentu yang membutuhkan pemikiran cepat, kita perlu melakukan berpikir cepat.

Berpikir cepat tidak berarti menafikan berpikir mendalam  dan berpikir cemerlang. Ia hanya menafik berpikir lambat. Sebab, dalam aktivitas berpikir cepat sering kali disertai dengan berpikir mendalam dan cemerlang. Ia hanya proses alamiah yang sudah melalui pembiasaan dalam berpikir mendalam dan cemerlang.

Pada prakteknya, tidak semua keadaan membutuhkan berpikir cepat. Suatu keadaan yang membutuhkan berpikir cepat harus direspon dengan berpikir cepat. Demikian juga dengan berpikir mendalam dan cemerlang.
Aktivitas yang membutuhkan berpikir cemerlang dan mendalam contohnya berpikir tentang keberadaan (eksistensi Tuhan). Ia harus dipikirkan secara mendalam dan cemerlang agar aktivitas berpikirnya memperoleh manfaat bagi dirinya. Berpikir mendalam berarti mencermati setiap fakta secara detail dan mengaitkannya dengan informasi yang ada sebelumnya. Sedangkan berpikir cemerlang berarti mampu mencermati dan membedakan setiap fakta dan mampu mengkaitkannya dengan informasi yang ada sebelumnya secara tepat dan benar. Dengan demikian justifikasi terhadap fakta yang terindera tersebut menjadi benar, dan akan bermanfaat bagi dirinya.

Dengan pemikiran mendalam dan hanya mengamati segala yang ada di dunia ini, kita dapat membuktikan bahwa dibalik alam semesta, manusia dan hidup, terdapat Sang Pencipta yang telah menciptakan ketiganya tersebut.  Tuhan telah menciptakan akal pada diri manusia, agar manusia mau mempergunakannya untuk dapat menemukan hingga dapat meyakini (beriman) kepadaNya, yakni meyakini adanya Tuhan yang telah menciptakan segalanya. Dengan memikirkan secara mendalam terhadap apa yang ada di dunia ini, kita dapat membuktikan bahwa segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal hanyalah: manusia, alam semesta dan kehidupan. Tidak ada yang lain kecuali ketiga hal tersebut. Berpikir tentang manusia berarti berpikir tentang segala sesuatu yang terkait dengan manusia, baik wujud fisiknya luar maupun organ tubuh yang ada pada diri manusia. Demikian juga berpikir mengenai sifat, potensi,  dan perilaku dari manusia. Berpikir tentang alam semesta berarti berpikir tentang segala hal yang ada disekitar manusia, baik berupa wujud fisik seperti hewan, tumbuhan, benda-benda mati seperti batu, laut, gunung, matahari, bulan, angin, planet-planetm serta khasiat-khasiat yang ada pada benda-benda tersebut seperti pisau berkhasiat memotong, api berkhasiat membakar, dan lain-lain. Berpikir tentang kehidupan berarti berpikir tentang segala sesuatu yang bernyawa, kemudian mengalami kematian. Jika kita mau berpikir (aktivitas berpikir adalah aktivitas penyengajaan, meski dia juga aktivitas alamiah pada diri manusia) secar mendalam, maka akan kita dapati bahwa ketiga hal tersebut, (yang mampu di jangkau oleh akal manusia), bersifat terbatas, lemah, serba kurang, dan saling membutuhkan satu dengan yang lainnya.  Kita dapat dengan mudah menjustifikasi bahwa manusia memiliki sifat yang lemah, terbatas, serba kurang dan saling membutuhkan. Tidak ada fakta satu orangpun, semenjak nabi Adam hingga sekarang yang memiliki sifat tak terbatas. Ia pasti melalui tahapan kelahiran, tumbuh berkembang, hingga akhirnya mati. Tidak ada manusia yang mampu tidak tidur, tidak makan, tidak minum hingga berhari-hari. Ini menandakan bahwa manusia memiliki sifat terbatas, lemah dan serba kurang. Demikian pula dengan hidup, penampakkannya bersifat individual. Kita dapat mencermati, bahwa kehidupan berakhir pada satu individu-individu. Sementara alam semesta merupakan kumpulan benda-benda angkasa yang setiap bendanya memiliki sifat yang terbatas. Himpunan dari segala sesuatu yang terbatas,  pasti terbatas pula sifatnya.  Dengan memikirkan secara mendalam, kita juga akan mendapatkan bahwa segala sesuatu yang bersifat terbatas pasti ada batasnya. Ia pasti memiliki awal dan akhir. Jika ia memiliki awal dan akhir, ia pasti tidak kekal. Segala sesuatu yang berawal dan berakhir, pasti diciptakan oleh sesuatu yang lain. Dia lah Tuhan yang Maha Esa, Allah SWT. Allah SWT bersifat Azzali, tidak berawal dan tidak berakhir. Dia kekal, tidak diciptakan oleh sesuatu yang lain, juga tidak menciptakan Dirinya sendiri. Jika dia diciptakan oleh yang lain maka dia pasti bukan Tuhan.

Demikian akal manusia, jika ia digunakan untuk berpikir secara mendalam ia akan menemukan keberdaan Tuhannya, yaitu, Allah SWT. Manusia, alam semesta dan kehidupan tidak layak, bahkan sangat hina jika dijadikan sebagai Tuhan.  Jika hari ini kita masih mendapati orang yang menyembah manusia lainnya, atau ia menyembah batu, bulan, bintang, matahari, bahkan tikus, berarti ia belum atau tidak mau mempergunakan akalnya untuk berpikir secara mendalam untuk menemukan Tuhan sesungguhnya. Sebab jika ia mau, ia pasti akan menemukannya.

Dengan berpikir mendalam dan cemerlang, akal juga mampu membuktikan bahwa islam ialah agama yang paling benar. Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT, dan Al-Qur’an adalah benar-benar firman Allah SWT.

Berpikir, meski ada secara alamiah pada diri manusia, namun prosesnya memerlukan penyengajaan yaitu proses pencermatan terhadap fakta yang ada. Inilah yang disebut dengan istilah penggunaan kecerdasan. Bagi seorang muslim, penggunaan kecerdasannya mulai muncul saat ia beranjak baliqh. Bagi laki-laki ditandai oleh mimpi bersenggama atau mengeluarkan sperma (sekitar usia 13 tahun) dan bagi perempuan ditandai dengan haid.  Pada saat inilah segala kewajiban hukum syara’ mulai berlaku pada dirinya. Karena pada usia tersebut, penggunaan kecerdasannya, atau penggunaan akalnya telah dapat dengan sempurna dilakukan.  Oleh karena itu, islam pun mewajibkan kepada setiap orang yang telah baliqh bahwa pencapaian keimanan kepada Allah SWT,  yakni meyakini eksistensi Allah SWT, harus dicapai melalui proses berpikir. Setiap orang yang telah baliqh, wajib mempergunakan akalnya sampai ia mampu membuktikan bahwa ada Sang Pencipta, Allah SWT dibalik manusia, alam semesta dan kehidupan. Inilah yang disebut sebagai orang yang beriman. Sebaliknya, setiap orang sudah baliqh, tapi ia tidak manjadikan Allah SWT sebagai Tuhannya, maka ia tergolong orang yang kafir. Kekafiran mereka disebabkan karena ia tidak mau mempergunakan akalnya untuk mencapai keimanan kepada Allah SWT. Sebab, jika ia mempergunakan akalnya, ia pasti dengan mudah mendapatkan bahwa dibalik alam semesta, manusia dan hidup pasti ada sang kholiq, Allah SWT.  Kekafiran sebenarnya bukanlah dari tidak adanya akal pada diri manusia, tapi dikarena ia tidak mau mempergunakan tabiat akal yang mampu menjangkau keimanan kepada Tuhannya. Jadi ia sangat di tentukan apakah seseorang mau menggunakan akalnya atau tidak untuk secara mendalam dan cemerlang memikirkan keberadaan Tuhannya. Sebab, tabiat akal pasti mampu mencapai keimanan tersebut. Penyebab seseorang tidak mau mempergunakan akalnya bisa beberapa faktor:

1. Karena kemalasannya. Inilah faktor yang paling banyak meliputi manusia. Kebanyakan manusia hanya mengikuti perilaku nenek moyang nya, tanpa memikirkan secara mendalam keimanannya tersebut. Inilah yang kebanyakan ada pada sebagian manusia yang tidak beriman. Kemalasan mereka mengalahkan penggunaan akalnya.

2. Karena kedudukannya. Sebagian kecil dari mereka yang tidak beriman kepada Allah SWT adalah yang memiliki kedudukan yang tinggi.  Kadangkala, bahkan sering kali, akal ataupun penggunaan akal yang cemerlang dapat terhambat oleh adanya ghorizoh baqo yang tidak terkendali. Pada contoh kasus ini adalah abu lahab dan firaun. Abu lahab dan firaun adalah contoh dari manusia yang memiliki kedudukan dan terpandang. Kedudukan inilah yang membuatnya tidak mampu mempergunakan akalnya secara cemerlang untuk dapat menerima kebenaran yang datang padanya. Betapa tidak, pada kasus abu lahab, mestinya, jika ia pintar dan mampu mempergunakan akalnya, ia akan mampu menghentikan dakwah islam yang baru saja bersemi saat itu (baca ditulisan sebelumnya tentang “Kebodohan Abu Lahab dan Kebenaran Al-Qur`an”, agar lebih jelasnya ). Untuk kasus firaun, sebenarnya ia telah menyatakan beriman saat nyawanya mencapai tenggorokan, tetapi keimanannya tidak dapat diterima dikarenakan sebab tersebut. Keimanan firaun yang bersumber dari pengamatan fakta (proses berpikir) seharusnya muncul jauh hari sebelum ia terhinakan di laut merah.  Akan tetapi pemikiran yang cemerlang itu, tidak muncul dan terkalahkan oleh kedudukannya.

Demikianlah bahwa tabiat akal adalah mampu memikirkan dan mencapai kepada keimanan kepada Allah SWT. Namun, tidak semua orang mau mempergunakannya untuk tujuan mencari keimanan tersebut. Faktornya bisa karena malas, atau karena kedudukannya di tengah masyarakat.

Untuk mengatasi permasalahan kemalasan seseorang untuk mempergunakan akalnya, dapat dilakukan dengan cara memberikan pemikiran tentang akibat dan konsekuensi dari kemalasannya tersebut.  Bahwa sesuatu kecelakaan yang dahsyat akan menimpanya jika ia tidak mau mempergunakan akalnya untuk mencapai keimanan kepada Allah SWT.  Memberikan pemahaman bagaimana ruginya jika ia tidak mau mempergunakan akalnya yang cuma beberapa saat untuk memikirkan penciptaan alam semesta, manusia dan kehidupan ketimbang ia bersikap malas akan memberikan pertimbangan kepada manusia untuk merenungkan.

Untuk mengatasi permalahan kedua, cukup dengan memberikan gambaran bahwa kedudukannya didunia ini adalah fana, dan semuanya akan berakhir jika Allah berkehendak. Disamping itu, memberikan contoh, bagaimana para sahabat rosul justru mendapatkan tempat terhormat seteleh ia mampu menggapai keimanan kepada Allah SWT. Seperti Umar Bin Khottob RA. yang semakin mendapatkan kemuliaan setelah ia menggapai keimanan melalui akalnya.

Faktor mempergunakan akal inilah yang membedakan manusia-manusia beriman dan yang tidak. Keimanan inilah yang pada akhirnya membedakan tahapan awal dari manusia-manusia yang beruntung dan manusia-manusia yang celaka. Mereka yang beriman akan mendapat syurga-Nya, sementara yang kafir tempatnya di neraka jahannam, tempat yang paling hina. Semu anya berawal dari mau tidaknya menggunakan akalnya untuk menggapai keimanan kepada Allah SWT.  Begitu pentingnya penggunaan akal dalam mencapai keimanan kepada Allah SWT, hingga Allah SWT senantiasa mengajak manusia untuk memikirkan tentang penciptaan manusia, langit dan bumi beserta isinya. Manusia diajak untuk memikirkan bagaimana ia diciptakan berpasang-pasangan, bagaimana air hujan di turunkan dari langit, bagaimana perahu berlayar di lautan, dan lain-lain. Itu semua ditujukan agar manusia mau mempergunakan akalnya untuk memikirkan dan mencapai keimanan kepada Allah SWT.

Wallahu a`lam bishowab.

Dede Heri Yuli Yanto,
December 22, 2012
Matsuyama Shi, Japan

Iklan