Tag

, ,


Januari, selain menjadi icon bulan awal setiap pergantian tahun, juga menjadi bulan persiapan aplikasi beasiswa jepang atau yang lebih di kenal sebagai beasiswa monbusho. Ada banyak jenis beasiswa yang di tawarkan oleh monbusho, namun secara umum yang lebih populer adalah jenis G to G dan U to U. Untuk G to G, aplikasi bisa dilakukan via kedutaan besar Jepang atau konsulat jendralnya yang ada di Indonesia, sedangkan U to U dilakukan langsung melalui Professor di universitas yang dituju. Cara ini biasanya dilakukan melalui beberapa tahap sebelumnya, diantaranya wawancara saat Professor tersebut berkunjung ke Indonesia atau melalui internet.

Terkhusus bagi mereka yang berburu U to U, akhir januari ini adalah deadline pengumpulan aplikasi di tiap-tiap university yang di tujunya di Jepang, meskipun terkadang bisa juga berbeda-beda tiap universitas. Sebagian besar calon aplikan mungkin sudah yakin akan universitas yang di tujunya, demikian pula dengan keputusannya untuk sekolah di Jepang. Meskipun begitu, tidak jarang mereka yang masih bimbang menentukan keputusannya apakah akan mengajukan aplikasi tersebut atau tidak. Pasalnya, ada banyak hal yang mesti mereka pertimbangkan terlebih dahulu sebelum melangkah jauh ke negeri sakura. Ini biasanya, meski tidak semuanya, menghantui mereka yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, sementara ia harus membawa serta keluarganya. Oleh karena itu, saya mencoba menuliskan beberapa info penting seputar sekolah di Jepang (yang saya ambil case study-nya di Ehime University, karena saya bersekolah di sini). Mudah-mudahan dapat menjadi bahan pertimbangan lain yang bisa membantu anda menentukan pilihan anda.

Pertimbangan uang beasiswa vs kebutuhan hidup
Dari sekian pertanyaan yang masuk ke email saya (baik yang dikenal ataupun tidak), kebanyakan seputar “apakah uang beasiswa yang diterima setiap bulannya cukup atau tidak untuk kebutuhan hidup di Jepang?” Secara singkat saya jawab, cukup, bahkan lebih dari cukup jika kita mampu me-manage keuangan kita dengan baik. Berikut secara detail, rincian pemasukkan dan pengeluaran setiap bulannya:

Pemasukkan:

Sumber pemasukkan satu-satunya bagi mereka yang single adalah dari beasiswa sebesar 143 ribu yen (sekitar 14 – 15 juta rupiah, tergantung nilai tukar yen terhadap rupiah). Kesempatan menambah pemasukkan bagi mereka yang single atau keluarga bisa melalui baito (kerja paruh waktu). Biasanya 700 – 1000 yen per jam. Selain itu, untuk yang memiliki anak, pemerintah Jepang memberikan tunjangan anak per bulannya sebesar 10000 – 15000 yen per-anak tergantung usia anak. Untuk mendapatkan tunjangan anak, anda harus mendaftarkan nama anak anda ke syakusho (balai kota) di tempat tinggal anda.

Pengeluaran:

Secara umum, pengeluaran bulanan meliputi, biaya apartment, listrik, air, gas (jika ada), asuransi, biaya sekolah anak (jika ada), transportasi, dan biaya makan. Untuk tinggal di Matsuyama, Ehime, biaya transportas bisa nol, dikarenakan jarak kampus dengan apartment yang dekat dan akses ke kampus menggunakan sepeda. Untuk rincian biaya masing-masing adalah sebagai berikut:

1. Apartment : 27.000 – 45000 yen (tergantung jenis apartment, untuk single atau keluarga). Adapun untuk tinggal di International House, biasanya berkisar 10000 -13000 yen perbulan.
2. Listrik: 4000 – 18000 yen (tergantung musim dan pemakaian peralatan pemanas). Ketika musim dingin dan sering menggunakan pemanas atau AC, biasanya peaknya bisa mencapai 18000 yen. Jumlah ini bisa meningkat hingga 23000 yen jika anda full menggunakan pemanas (saya mendapatkan info ini dari rekan saya yang kebetulan mencapai angka tersebut pada musim dingin). Asalkan bisa mengatur pemakain AC atau pemanas dengan baik, kita bisa menghindari lonjakkan pemakaian yang berlebihan. Misalnya dengan mencari alat pemanas yang hanya 400 watt, mengatur jam penggunaannya, dll.

3. Air : 2000 – 6000 yen. Pembayaran air juga tergantung pengelola apartement. Ada yang langsung dimasukkan ke dalam biaya apartment, ada juga yang tidak. Besaran tagihan Ini  juga tergantung pemakaian kita.

4. Asuransi kesehatan: Untuk asuransi pemerintah Jepang, per-orang dewasa kira-kira 1300 yen per-bulannya. Untuk keluarga (empat orang, termasuk anak-anak), besaran asuransi kesehatan sekitar 33000 yen per tahun. Adapun fasilitas asuransi yang diberikan ini berupa biaya pengobatan gratis untuk balita, serta keringanan biaya pengobatan bagi orang dewasa. Ini sangat membantu karena biaya yang mesti dibayarkan menjadi sangat ringan dibandingkan seharusnya.

5. Biaya sekolah anak: biaya sekolah anak tergantung dari tempatnya, apakah milik pemerintah atau privat. Biasanya untuk pelajar, anak-anak mendapatkan keringanan biaya sekolah dari pemerintah Jepang. Untuk itu, kita perlu menunjukkan surat keterangan bebas pajak yang di peroleh dari syakusho setiap tahunnya.

6. Biaya komunikasi dan internet. Komunikasi dan internet sudah seperti kebutuhan primer disini. Biaya rata-rata pemakaian HP per bulan dapat mencapai 2000 – 6000 yen tergantung paket yang diambilnya. Untuk paket smartphone seperti Iphone, dengan langganan internet 3G atau 4G unlimited, tentu lebih mahal daripada hanya menggunakan HP biasa. Untuk langganan internet di apartment juga beragam. Kasus saya, menggunakan Pikara dengan biaya sekitar 6000 yen per bulan. Untuk menghemat, adakalanya kami share jaringan dengan tiga teman lainnya di apartment yang sama. Karena kecepatan internet di Jepang sangat baik, maka share seperti ini tidak berpengaruh sama sekali terhadap kualitasnya.

6. Biaya makan sehari-hari: Ini tentu sangat tergantung dari pola hidup masing-masing. Yang jelas, apabila kita masak sendiri di apartment tentu jauh lebih murah daripada makan di kantin atau beli masakan diluar. Disamping itu, kehalalan makanan yang kita makan, insyaAllah lebih terjamin. Perlu di ketahui, sangat banyak sekali makanan yang tergolong syubhat hingga haram yang beredar di Jepang. Jadi, bersikap wara’ (hati-hati) dalam hal ini lebih baik.

7. Biaya transportasi, tentu berbeda-beda di tiap-tiap daerah di Jepang. Untuk di Matsuyama, Ehime yang kebetulan kota kecil, biaya ini hampir nol karena jarak apartment ke kampus serta tempat-tempat lainnya dapat di jangkau hanya menggunakan jitensha (sepeda).

Kalau anda hitung-hitung, tentu masih ada selisih. Untuk single, selisihnya jauh lebih besar daripada keluarga sehingga dapat menabung lebih banyak.

Pertimbangan lainnya

Pertanyaan lainnya yang masuk adalah mengenai adaptasi terhadap budaya (kehidupan dan belajar) serta kaitannya dengan pelaksanaan syariat Islam, dll. Tidak hanya di Jepang, sekolah di luar negeri, dimanapun, tentu ada pertimbangan pribadi lainnya yang harus diperhatikan seperti adaptasi terhadap cuaca, bahasa, makanan, budaya (kehidupan dan belajar), versus kemudahan dalam menjalankan syariat Islam dll, atau apakah mendapatkan izin dari suami (bagi wanita berkeluarga), dll. Menurut saya, adaptasi terhadap cuaca, bahasa dan budaya akan dengan sendirinya bisa dilakukan, walaupun persiapan dini dengan mempelajarinya melalui buku-buku, internet, dll selagi di Indonesia, tetap perlu dilakukan.

Perlu diketahui bahwa keputusan sekolah di luar negeri, seperti Jepang tentu tidak selalu menjadi keputusan terbaik. Begitu pula dengan keputusan untuk selalu berada di “comfortable zone“, seperti keasyikan rutinitas hidup di negeri sendiri yang nyaman, barangkali akan menghambat kemajuan kita. Namun begitu, pilihan harus tetap dibuat. Untuk itu, jangan lupa untuk sholat istkharah dan perbanyak berdo`a sebelum menentukan pilihan. Kalau sudah menentukan satu pilihan, lalu bertawakal-lah. Tentu, pilihan dan keputusan juga harus mengutamakan kepentingan syariat Islam.

Sesuatu yang kamu sukai, belum tentu baik bagimu.

Manusia hanya wajib berusaha dan tidak punya kuasa menentukan hasil. Kalaupun  hasilnya ternyata anda tidak jadi berangkat ke Jepang karena gagal mendapatkan beasiswa atau karena tidak mendapatkan izin suami, maka yakinlah Allah SWT mempunyai rencana yang lebih indah untuk Anda, daripada sekedar belajar di Jepang. Bukankah Allah SWT telah berfirman:

وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS: Al-Baqarah: 216).

Apapun hasilnya, setelah anda berusaha, berdo`a, bertawakal dan tetap berpegang pada syari`at-Nya. Tetaplah ridho dan berprasangka baik pada ketetapan Allah SWT. Wujud keridho`an manusia kepada Qodho Allah SWT adalah bersyukur dan bersabar.

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya baik baginya. Tidak ada hal seperti ini kecuali hanya pada orang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan lantas dia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Dan jika dia ditimpa kesulitan lantas dia bersabar, maka hal itu baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

WaAllahu a`lam bi ashowab.

Dede Heri Yuli Yanto

Matsuyama Shi, Japan

Iklan