Tag

, ,


Kehidupan ini sejatinya penuh ketidakpastian. Tidak jarang, segala persiapan yang sudah dibuat dengan matang untuk mencapai target-target yang kita inginkan berakhir dengan kegagalan. Padahal ikhtiar (usaha) sudah dilakukan sepeluh keringat atau do’a sudah dipanjatkan berkali-kali. Kenapa bisa gagal? Apa yang salah? dimana letak kekurangannya? Ya, tidak ada salahnya jika kita me-review kembali apa yang sudah kita lakukan selama ini, mendudukkan satu persatu permasalahan yang ada, lalu menjadikannya sebagai pelajaran untuk tidak lagi terulang dikesempatan berikutnya.

Keberhasilan tidak serta merta ditentukan hanya oleh ikhtiar saja atau sebaliknya, do’a saja. Ia mesti perpaduan antara ikhtiar, do’a dan tentu saja “takdir” Allah SWT. Mengenai perkara yang terakhir ini, berada diluar wilayah kekuasaan manusia. Meski kita wajib beriman terhadap “Takdir” Allah SWT, berdiam diri (tanpa ikhtiar dan do`a) dan menunggu takdir tentu TIDAKLAH BENAR. Hal ini karena kita tidak pernah tahu, “takdir” seperti apa yang akan menimpa kita sampai itu benar-benar terjadi. Dengan demikian, yang perlu dilakukan adalah ikhtiar dan do’a karena ini berada dalam wilayah yang mampu kita kuasai.

Selain merupakan inti dari ibadah, berdo`a merupakan perkara sunah yang mengandung banyak keutamaannya. Dengan meninggalkan berdo`a berarti seseorang telah meninggalkan banyak sekali keutamaan. Berdo`a, termasuk juga berikhtiar tidak ada hubungannya dengan keimanan terhadap takdir (Qodho dan Qodar) Allah SWT. Berdo`a dan berikhtiar adalah satu hal, yang bernilai ibadah, sedangkan beriman kepada Takdir Allah adalah hal lain, yang menjadi inti dari keimanan (rukun iman yang enam). Menghubung-hubungkan do`a dan ikhtiar dengan takdir Allah SWT adalah perkara yang sulit, bahkan menjadi sia-sia karena memang mustahil dihubung-hubungkan. Misalnya, mengatakan bahwa, “saya telah berdo`a dengan sungguh-sungguh dan berikhtiar dengan sepenuh tenaga, tapi mengapa hasilnya tidak sesuai dengan harapan?”, “saya sudah berdo`a sungguh-sungguh tapi kenapa belum kaya, sementara orang kafir yang tidak berdo`a kepada Allah, kepada mereka kaya-kaya?” Demikian seterusnya, jika dikait-kaitkan, akan menimbulkan suatu keraguan dalam berdo`a dan berikhtiar.

Manusia berproses

Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia berproses, sama halnya dengan semua perbuatan, baik yang dilakukannya ataupun yang menimpanya. Dalam perbuatan tersebut, ada hal-hal yang mampu dikendalikan olehnya, namun sebagian besar tidak mampu dikendalikannya (perbuatan tersebut menguasainya). Berdo`a dan berikhtiar berada di area yang mampu dikuasai oleh manusia. Ia bisa memilih apakah ia mau berdo`a dan berusaha atau tidak. Demikian pula ia bisa memilih do`a dan ikhtiar seperti apa yang ia ingin lakukan. Disinilah ujian sebenarnya bagi seseorang. Tatkala ia berdo`a dan berikhtiar secara sungguh-sungguh karena semata-mata upayanya untuk mencapai berbagai keutamaan yang dijanjikan oleh Allah SWT (mencapai keridhoan Allah SWT) berarti ia telah memahami makna berdo`a dan berikhtiar, karena memang begitulah semestinya; do`a dan berikhtiar senantiasa berjalan beriringan dengan tetap fokus semata-mata karena mencari keridho`an Allah SWT. Semata-mata karena kesadaran adanya banyak keutamaan yang telah Allah janjikan tatkala kita berdo`a. Berdo`a dan berikhtiar adalah proses yang harus dilalui untuk mencapai suatu hasil. Manusia harus tetap melakukan yang terbaik selama berproses. Sementara perkara hasil ia tidak mungkin mengetahuinya (selama berproses) sampai ia benar-benar menjumpai hasil tersebut. Untuk itu, teruslah berdo`a dan berikhtiar.

Allah SWT memperkenankan setiap do`a orang yang berdo`a

Allah SWT pasti mengabulkan setiap do`a orang yang berdo`a dan akan mengabulkan orang yang terdesak dengan kebutuhannya ketika ia berdo`a kepada-Nya. Hanya saja, harus dipahami bahwa ijabahnya do`a mempunyai pengertian syar`i tersendiri (hakikat syar`iyah) yang telah dijelaskan oleh Rosulullah SAW. Beliau bersabda: “Tak seorang muslim pun yang berdo`a kepada Allah dengan suatu do`a yang di dalamnya tidak dosa dan memutuskan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara, yaitu bisa jadi Allah akan mempercepat terkabulnya doa itu saat di dunia; atau Allah akan menyimpan terkabulnya do`a di akhirat kelak, dan bisa jadi Allah akan memalingkan keburukan darinya sesuai dengan kadar do`anya. Para sahabat berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak do`a.” Rosulullah SAW bersabda, “Allah akan lebih banyak lagi (mengabulkannya).” (HR. Ahmad, al-Bukhori dalam al-Adab al Mufrad).

Wallahu a`lam,