Tag

, , , ,


Terhadap satu fakta, manusia bisa saja berbeda penilaiannya. Ada yang suka, ada pula yang benci (tidak suka). Itu maklum. Namanya juga suka dan benci, keduanya memang senantiasa keluar (secara fitrah) dari dalam diri manusia. Biasanya, manusia akan suka bila sesuatu itu dinilai menguntungkan baginya, dan jika sebaliknya, ia akan membencinya. Faktanya, penilaian ini (baik fakta ataupun benda-benda) sangat dipengaruhi oleh pemahamannya terhadap sesuatu yang sangat mungkin berbeda-beda tergantung informasi (pengalaman) dimasa lalu, lingkungan, keluarga, dan pendidikan seseorang. Namun demikian fakta dan benda-benda tersebut, tidak pernah memaksa manusia untuk menyukai atau membencinya. Manusia sendirilah yang memiliki penilaian terhadapnya. Oleh karena itu, jelaslah bahwa suka dan benci itu, murni datangnya dari diri manusia, karena ia memang harus menjustifikasi sesuatu dalam bentuk suka atau benci.

Tolak ukur suka dan benci

Subhanallah…Tidak ada satu ayatpun di dalam Al-Qur’an yang keliru. Nah, coba perhatikan ayat berikut:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

(Diwajibkan atas kalian berperang, padahal itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (TQS. Al-Baqarah [2]:216).

Di ayat tersebut, selain suka dan benci, ternyata ada dua hal lagi yang perlu diperhatikan yaitu: baik dan buruk. Allah SWT mengabarkan kalau suka dan benci itu memang datangnya dari diri kita sendiri. Manusia sangat mungkin menyukai atau membenci sesuatu. Akan tetapi, tolak ukur kebencian dan kebenaran janganlah berasal dari hawa nafsu semata.

Berbeda dengan suka dan benci, indikator baik dan buruk datangnya murni dari Allah SWT. Artinya, manusia sama sekali tidak mengetahuinya kecuali Allah SWT mengabarkan kepadanya tentang kebaikan dan keburukan. Oleh karena itu, berhati-hatilah mendudukan suatu perkara. Meski rasa suka dan benci adalah fitrah manusia, akan tetapi ia mesti di dudukkan pada standar kebaikan dan keburukan yang berasal dari Allah SWT, yaitu al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah SAW. Sehingga sudah sepatutnya, seorang mu`min yang beriman kepada Allah SWT, Al-Qur`an, serta nabi Muhammad SAW, ia pasrah dan tunduk kepada ketentuan syari`at Allah SWT yang dikabarkan di dalam Al-Qur`an dan Hadits Rasulullah SAW.

Perlu dipahami bahwa Allah SWT adalah “Tuhan yang Maha Pengatur, Pencipta dan Maha Mengetahui” apa yang ada di seluruh alam semesta ini. Allah-lah yang menciptakan manusia, maka Allah-lah yang paling mengetahui segala kebaikan dan keburukan bagi manusia. Segala perintah yang wajib dilaksanakan bagi manusia pasti mengandung kebaikan di dalamnya, demikian pula segala larangan yang wajib di jauhi oleh manusia pasti mengandung keburukan di dalamnya. Oleh karena itu, kebaikan dan keburukan sesungguhnya ada pada perintah dan larangan Allah SWT, yaitu syari`at islam. Kalaupun saat ini akal manusia belum mampu menjangkau beberapa kebaikan dan keburukan yang dimaksud ini bukan berarti kebaikan dan keburukan itu tidak ada. Akan tetapi karena tabiat akal manusia yang memiliki sifat lemah, terbatas dan serba kurang.

Jadi, standar kebaikan bukanlah suka atau tidak suka semata, tetapi ia bersumber dari perintah dan larangan Allah SWT yang terdapat di dalam syari`at islam.

 “Sesungguhnya ucapan orang-orang Mukmin itu–manakala mereka diseru kepada Allah dan Rasul-Nya untuk menghukumi mereka–adalah ungkapan, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Merekalah orang-orang yang beruntung” (TQS an-Nur [24]: 51).

Wallahu a`lam bi ashowab.

Matsuyama,

June 16, 2013.