Tag

,


Terkadang, kita perlu mendudukkan secara jernih makna dari sebuah kata agar menjadi panduan bagi kita menuju kebaikan di kemudian hari. Nah loh, kok bisa sejauh itu yah kaitannya. Supaya tidak melompat jauh. Yuk kita selami satu persatu makna dua kata yang akan dibahas ditulisan ini. Berpikir dan Berlogika.

Allah SWT memberikan karunia kepada manusia berupa akal yang memiliki potensi memikirkan. Dengan karakter ini manusia mampu memikirkan segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akalnya, yaitu manusia, hidup, dan alam semesta. Dengan berpikir  mendalam, akan didapati bahwa ketiganya (manusia, hidup, dan alam semesta) bersifat terbatas, serba lemah, kurang dan saling membutuhkan. Kalau begini keadaannya (serba terbatas) maka pasti memiliki awal dan akhir (kejadiannya). Berarti ketiganya telah diciptakan oleh “sesuatu yang lain”, yang harus bersifat tidak berawal dan tidak berakhir (Azali). Dialah Allah SWT, Tuhan yang telah menciptakan manusia, hidup dan alam semesta dan mengatur segalanya. Jadi, melalui akal, manusia mampu berpikir tentang “keberadaan” Allah SWT sebagai Tuhan, pencipta sekaligus pengatur segala sesuatu. Allah SWT itu ada dalam wujud-Nya, dan bukan dalam bentuk khayalan semata. Inilah yang disebut berpikir, bersumber dari akalnya semata.

Sama halnya pada proses “menemukan” eksistensi Allah SWT. Dengan akal (berpikir), manusia juga mampu “menemukan” kebenaran, apakah Al-Qur’an (kitab suci dan panduan hidupnya orang islam) benar-benar perkataan dan bersumber dari Allah SWT (Tuhannya manusia) atau bukan. Dengan mengamati fakta bahwa Al-Qur`an yang berada disekitar kita merupakan kitab yang berbahasa arab, dan dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, maka hanya ada tiga kemungkinan Al-Qur`an berasal darinya: 1. Orang-orang Arab, 2. Nabi Muhammad SAW, dan 3. berasal dari Allah SWT. Faktanya, meskipun Al-Qur`an berbahasa Arab, tidak ada satu orang pun dari orang-orang Arab yang mampu membuat semisal dengannya (Al-Qur`an). Apalagi jelas-jelas ditemukan ayat-ayat di dalam Al-Qur`an (masih dapat ditemukan faktanya) yang menantang mereka untuk membuat 10 surat atau 1 surat yang semisal dengannya. Tapi hingga kini, mereka tidak mampu membuatnya. Padahal, sejarah mencatat (fakta) bahwa mereka pada masa itu adalah orang-orang yang pandai membuat syair dan diakui kemahirannya, tapi tetap saja mereka tidak mampu menjadikan yang semisal dengan Al-Qur`an. Al-Qur`an juga tidak mungkin berasal dari Nabi Muhammad, secara Nabi Muhammad juga orang Arab dan tantangan itu juga berlaku baginya. Terlebih lagi, gaya bahasa hadits (sabda) Nabi Muhammad yang secara mutawatir (sebagian besar para sahabat meriwayatkan) dan sampai saat ini masih ditemukan fakta kebenarannya, jelas-jelas berbeda jauh dengan gaya bahasa Al-Qur`an. Padahal, sehebat bagaimanapun seseorang dalam bergaya bahasa, ia tidak akan mungkin konsisten dalam dua gaya bahasa yang berbeda. Jadi, Al-Qur`an tidak mungkin berasal dari orang-orang Arab, juga tidak mungkin berasal dari Nabi Muhammad SAW. Maka sudah pasti, Al-Qur`an berasal dari Allah SWT. Dan karena Nabi Muhammad SAW adalah orang yang membawa Al-Qur`an, maka dengan berpikir mendalam tadi, kita juga dapat buktikan bahwa Muhammad SAW adalah seorang nabi dan rosul. Inilah yang disebut berpikir.

Berpikir setidaknya memerlukan 3 persyaratan: 1. harus ada fakta yang bisa di indera, 2. harus ada informasi terdahulu, 3. justifikasi. Jika kehilangan salah satu saja dari ketiganya maka tidak termasuk dalam kategori berpikir. Sedang berlogika, berbeda dengan berpikir dalam hal fakta-nya. Di dalam berlogika, sering kali tidak jumpai fakta atau terkadang hanya berdasarkan sesuatu yang faktanya tidak bisa di indera. Selama tidak ada fakta yang dapat terindera, maka tidak dijumpai adanya berpikir akan tetapi disebut sebagai berlogika. Karenanya dalam berlogika, tidak jarang mengikutkan hawa nafsu di dalamnya. So, berhati-hatilah ketika berlogika!

Wallahu a`lam bis ashowab.

Matsuyama Shi, Japan

June 28, 2013.

Iklan