Tag

, , ,


Summer Japan 1-editedMasih PD (percaya diri) menghadapi kehidupan setelah hari kiamat nanti tanpa bekal persiapan? atau kamu emang belum sadar dasyatnya suasana pada hari itu hingga masih berleha-leha dari kehidupan akhirat? Tulisan berikut mudah-mudahan menjadi washilah untuk menyadarkan kembali kekhilafan kita selama ini yang mungkin sedikit terlenakan oleh keindahan “sementara” dunia ini.

Pada pertengahan musim panas tahun ini (2013) tepatnya tanggal 12 Agustus kemarin, beberapa tempat di Jepang, khususnya di bagian barat (Western Japan), mengalami suhu yang ekstrim sangat tinggi. Empat tempat bahkan dilaporkan hingga mencapai titik tertinggi diatas 40 derajat celcius! Misalnya di Shimanto-City, Propinsi Kochi, tercatat mencapai 41 derajat celcius! Silahkan dilihat laporannya disini. http://ds.data.jma.go.jp/tcc/tcc/news/press_20130813.pdf. atau disini http://ds.data.jma.go.jp/tcc/tcc/index.html.

Saya sendiri, saat ini tinggal di Propinsi Ehime, yang posisinya dekat dan bertetanggaan dengan Propinsi Kochi. Meski suhu paling ekstrim-nya bukan di Ehime (Alhamdulillah), suasana panas menyengat, khususnya saat pagi-siang hari (kira-kira pukul 8-12) selalu kami rasakan setiap harinya selama musim panas. Bahkan sering kali panasnya hingga sore hari. Rata-rata suhu di sini (musim panas, dibulan Agustus 2013) berkisar 32 derajat. Tahun ini suhu tertinggi mencapai 35 derajat! Meski secara general suhu rata-rata pada saat musim panas di Jepang tidak berbeda secara significant dengan di Indonesia, kondisi panas sebenarnya menjadi sangat berbeda lantaran perbedaan parameter lainnya. Salah satu parameter yang paling berbeda adalah kelembaban (humidity). Saat musim panas, humidity di Jepang sangat tinggi (66-90%). Faktor humidity inilah yang menjadi sangat menentukan kondisi panas yang sebenarnya dirasakan oleh seseorang (meski juga perlu memperhitungkan faktor lainnya seperti Dew Point, dll). Hari-hari yang panas dan dikelembaban yang tinggi akan terasa lebih panas daripada hari-hari yang panas tapi rendah kelembabannya karena tingginya kadar air dalam udara yang sangat lembab mencegah terjadinya penguapan keringat dari kulit. Itulah kenapa musim panas di Jepang begitu berkeringat, gerah, mencekik (karena hausnya), dan It`s……hot! 

Setiap hari-hari tertentu, saya biasa mengantar anak ke sekolah sebelum saya berangkat ke kampus. Seperti hari-hari lainnya di musim panas, kondisi pagi itu (sekitar pukul 9-10 pagi) terasa sangat menyengat. Tidak heran kalau baju yang baru saja saya kenakan langsung basah oleh keringat yang keluar. Meskipun begitu, saya tetap mengayuh sepeda saya, yang bercirikan dua boncengan tempat duduk untuk kedua anak saya tersebut. Pemandangan di jalan, seperti biasa, ada beberapa orang berlalu lintas dengan sepedanya. Sebagian lagi mirip dengan saya, terlihat seperti baru pulang mengantar anaknya dari sekolah. Hingga suatu saat saya menemukan pengalaman yang sebenarnya biasa saja, tapi dapat menyentuh kesadaran saya ketika itu.

Suatu ketika, saya berhenti karena lampu merah. Tapi karena kondisi yang terasa amat panas, maka saya pun tidak berhenti tepat di seberang zebra cross-nya. Saya berhenti agak jauh sedikit darisana, sebelum lampu merah, tepat dibawah naungan papan petunjuk arah yang membentuk bayangan cukup luas. Sehingga dengan itu, saya dapat berteduh sejenak di bawahnya hingga lampu berubah menjadi hijau. Dari arah berlawanan, saya melihat ibu muda bersepeda yang juga ingin menyeberang lampu merah. Uniknya, perlahan tapi pasti, dia merapatkan sepedanya tepat digaris bayangan yang dibentuk oleh tiang lampu merah. Meski tidak seluas naungan yang saya tempati, barangkali itu bisa juga digunakan untuk sekedar berteduh dari teriknya matahari Jepang, pikir saya saat itu. SubhanAllah, Maha Suci Allah yang telah menyadarkan saya ketika itu akan satu hal yang sederhana, tapi begitu penting. “bahwa secara alamiah, setiap manusia (baik yang beriman ataupun yang kafir) pasti membutuhkan naungan dari teriknya panas matahari, bahkan naungan yang kecilpun akan dicari untuk sekedar berteduh dibawahnya.”

Di saat yang lain, diwaktu sore hari, saya menemukan kondisi yang serupa. Bahwa mencari naungan adalah hal yang fitrah! Ini dia fotonya.

Summer Japan-edited

Kawan, teriknya bumi Jepang dimusim panas sungguh tidak seberapa bandingannya dengan keadaan ketika manusia dikumpulkan di padang Mahsyar ketika hari perhitungan nanti. Pada hari ketika manusia dikumpulkan di padang Mahsyar, matahari didekatkan sejauh satu mil dari mereka, sehingga manusia berkeringat, hingga keringat tersebut menenggelamkan mereka sesuai dengan amalan masing-masing ketika di dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تُدْنَى الشَّمْسُ  يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُوْنَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيْلٍ،  قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ : فَوَاللهِ، مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيْلِ  أَمَسَافَةَ اْلأَرْضِ أَمْ الْمِيْلَ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ، قَالَ :  فَيَكُوْنُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ  يَكُوْنُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ،  وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ  إِلْجَامًا، وَأَشَارَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ  إِلَى فِيْهِ

“Pada hari kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil.” –Sulaim bin Amir (perawi hadits ini) berkata:  “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak  perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata?” Nabi shallallahu  ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sehingga manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal-amalnya (yakni dosa-dosanya). Di antara  mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua  lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang tenggelam dalam  keringatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan meletakkan tangan ke mulut beliau.” (Hadits shahih.  Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2864).

Saat ini, jarak matahari ke bumi sekitar 147 – 152 juta km tergantung posisi bumi dan matahari atau sekitar 93-an juta mil!. Dengan jarak yang demikian jauhnya sudah mampu membuat manusia kepanasan, kegerahan, bahkan tercekik karena hausnya, bagaimana mungkin manusia mampu bertahan saat jarak matahari didekatkan menjadi 1 mil saja? Kalau keadaan didunia dengan panas yang seperti ini manusia begitu membutuhkan naungan untuk sekedar berteduh, maka bagaimanakah mungkin kita tidak butuh naungan saat jarak matahari didekatkan? Maka jawabnya pasti, kita membutuhkan naungan Allah SWT di padang Mahsyar kelak! Pasti!. Maka carilah naungan itu saat masih di dunia.

Kawan, pada hari yang panas itu, Allah SWT akan memberikan naungan kepada sebagian hamba pilihan-Nya. Tidak ada naungan pada hari itu, kecuali naungan-Nya semata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):  “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan ‘Arsy-Nya pada  hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya semata.

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ  اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: اْلإِمَامُ الْعَادِلُ،  وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي  الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا  عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ:  إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ  مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dengan naungan  ‘Arsy-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya  semata. 1. Imam (pemimpin) yang adil, 2. Pemuda yang tumbuh besar dalam beribadah kepada Rabbnya, 3. Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut pada masjid, 4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, dimana keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, 5. Dan seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang  wanita yang berkedudukan lagi cantik rupawan, lalu ia mengatakan: “Sungguh aku  takut kepada Allah.” 6. Seseorang yang bershodaqoh lalu merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan  kanannya, 7. Dan orang yang berdzikir kepada Allah di waktu  sunyi, lalu berlinanglah air matanya.” (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh  al-Bukhari, II/143 – Fat-h, dan Muslim, no. 1031).

SubhanAllah, tidak mudah mendapatkan naungan Allah SWT di akhirat kelak. Tapi kita adalah apa yang kita pilih. Selagi kita terus berusaha memilih jalan-jalan kebaikan (syariat Islam), maka semoga Allah SWT menguatkan kita akan pilihan-pilihan tersebut. Buatlah jalan untuk mencari naungan Allah kelak. Karena ngga` mungkin kita ngga` butuh naungan Allah SWT. Cuma kita aja yang ga nyadar……So. lebih baik sadar sekarang sebelum terlambat, daripada pas butuh baru sadar, itu artinya terlambat, Bro!.

Wallahu a`lam bi ashowab.

Dede Heri Yuli Yanto,

29 Agustus 2013

Matsuyama Shi,

 

Iklan