Tag

, , , , , , , , , , , ,


Peta Jepang-edited_edited-3Bisa melanjutkan sekolah di Jepang merupakan nikmat yang harus disyukuri. Apalagi kalau selama studi, ternyata kita bisa mendapatkan bonus tambahan seperti jalan-jalan keliling Jepang. Waah asyik sekali yah…

Itulah yang saya alami selama ini. Sejak kuliah di Ehime University (di Pulau Shikoku) tahun 2009 lalu, setidaknya ada lebih dari 11 prefecture yang sudah saya kunjungi, dari pulau yang paling atas (Hokkaido) hingga yang terbawah (Kyushu), dari sekedar kunjungan ke tempat teman, kegiatan keorganisasian, konferensi, hingga hanya sekedar jalan-jalan. Rata-rata saya tinggal 3-4 hari disana. Ada juga cuma satu hari atau hingga satu minggu. Dan insyaAllah, saya berusaha mencari pelajaran dan hikmah dari setiap perjalanan yang saya lalui tersebut.

Di akhir tahun pertama (2010), saya mengunjungi Kochi Prefecture. Tujuan utamanya adalah untuk mengikuti seminar Japan Wood Research Society, Chugoku Region, namun saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk jalan-jalan dan melihat sekeliling kota Kochi. Kesan pertama yang saya dapati adalah bahwa Kota Kochi sedikit lebih kecil ketimbang Matsuyama (Kota di mana saya tinggal). Setidaknya, sudah dua kali saya mengunjungi tempat ini. Tempat yang paling berkesan bagi saya adalah Kochi Eki (Stasiun Kochi) karena posisinya yang sangat dekat dengan Hotel di mana saya tinggal juga dengan Hotel tempat konferensi di laksanakan. Di Kochi, banyak tempat terkenal seperti museum Anpanman (tokoh kartun animasi terkenal di Jepang), Patung Sakamoto Ryouma, Kochi castle, dan lain-lain.

Di tahun kedua (2011) saya mengikuti dua kali konferensi, yang pertama di Bulan Maret bertempat di Kyoto University dan kedua di Hiroshima University pada September. Kyoto terkenal dengan kota budaya dengan banyak sekali tempat-tempat indahnya, terutama pada musim gugur (aki) dengan pemandangan daun momiji-nya serta pada musim semi (haru) dengan pemandangan bunga sakuranya. Banyak tempat di Kyoto yang bisa dikunjungi, misalnya kinkaku-jin (tempel dengan nuansa emas), Kiyomizu-dera, dan lain-lain. Demikian pula Hiroshima dengan tempat bersejarah Bom Atomnya (Hiroshima Dome) yang cukup memberikan pengalaman bersejarah bagi saya. Perjalanan dari kota tempat tinggal saya ke Hiroshima tidak memakan waktu lama. Cukup dengan menaiki super jet(6900 yen/orang dewasa dan 3450 yen/anak-anak) bisa mencapai Hiroshima City dalam waktu kurang dari dua jam. Pemandangan selama naik super jet dengan rentetan pulau-pulau kecil sepanjang Shikoku-Honshu pun menjadi pengalaman tadabbur alam yang luar biasa. Oleh karenanya, dikesempatan berikutnya saya ajak anak-anak dan isteri untuk memberikan pengalaman yang sama dan mengenalkan kepada mereka tentang makhluk-makhluk sang Maha Pencipta (Allah SWT), juga dengan berbagai peristiwa sejarah seperti di Hiroshima Dome tersebut. Kedua anak-anak saya selalu melontarkan pertanyaan kepada saya atau uminya, kenapa Hiroshima di bom, kenapa sampai habis semua bangunannya terkena bom, dan sebagainya. Saya pun, cukup menjelaskannya dengan sederhana. Kebetulan pula pada kesempatan kedua tersebut kami memilih bertepatan dengan festival bunga sehingga banyak sekali bunga pada hari itu. Di sekitar Hiroshima, kita bisa mengunjungi Miyajima Island, pulau kecil yang terkenal dengan jinja orange-nya di tengah laut. Untuk anak-anak, kita bisa memperkenalkan mereka tentang binatang-binatang laut di Marine Museum-nya Miyajima Island. Pengalaman yang luar biasa menyenangkan mengenalkan kepada mereka ciptaan-ciptaan Allah SWT sembari memegang langsung dalam wujud fisiknya. Mereka dapat memegang bintang laut, berhadapan langung dengan paus, lumba-lumba, anjing laut, dan lainnya.

Di tahun ketiga (2012), saya berkesempatan mengikuti 3 konference sekaligus yaitu di Sapporo (Hokkaido) pada bulan Maret, di Tokushima (Shikoku) pada bulan September, serta di Fukuoka (Kyushu) pada bulan November. Tiga kota yang berbeda dan dipulau yang berbeda mewakili bagian utara, barat, dan selatan Jepang. Pengalaman di Sapporo yang paling unik adalah di hampir seluruh bagian kota ini dipenuhi oleh salju (kebetulan waktu itu adalah musim dingin), jadi cukup dingin juga..hihihi. Tapi sayangnya, ketika salju tersebut mulai mencair, saya berkesan secara subjectif bahwa jalan-jalan terasa terlihat becek dan kotor (sekali lagi ini subjektifitas saya). Yang paling berkesan adalah bahwa komunitas Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Sapporo mengelola rumah makan halal sendiri dengan nama “Kedai Kita” yang menu-menunya luar biasa. Kamipun mendapatkan sambutan yang luar biasa disana dengan menyajikan menu halal khas Indonesia dengan rasa nusantara. Di Tokushima, pengalaman paling berkesan adalah saat kami berkunjung ke salah satu industri plywood yang luar biasa besar. Sedangkan di Fukuoka, saya merasakan kondisi kota besar yang masih sangat nyaman, berbeda jauh dengan Tokyo dan Osaka yang penuh sesak dengan orang-orang sibuk di jalan-jalan.

Di tahun keempat (2013), kesempatan mengikuti konferensi datang lagi. Kali ini malahan ada 5 konferensi sekaligus yang sudah dan akan dilaksanakan, insyaAllah. Di awal tahun, saya mengikuti HOPE Meeting bersama para peraih Nobel Laureates serta bertemu dengan pemuda-pemuda (Ph. D  dan Post doctoral students) dari berbagai negara. Sungguh pengalaman yang luar biasa menambah tingkat dan cara berpikir saya karena mereka datang dari negara-negara seperti Australia, Bangladesh, China, Korea, Japan, Taiwan, Singapura, Malaysia, India, Mesir, dan Negara Afrika lainnya, serta mereka yang sedang postdoc dari berbagai wilayah di Universitas-universitas besar di Amerika, yang tentu memiliki pola pikir serta budaya masing-masing yang berbeda. Bertemu langsung dengan para peraih nobel seperti Prof. Susumu Tonegawa, Prof. Makoto Kobayashi, Prof. Leo Esaki, Prof. Ryoji Noyori, Prof. Mario Capecchi, Prof. Gunnar Oquist, Prof. Aharon Chiechanover, serta banyak lagi professor lainnya tentu memberikan tambahan pengetahuan dan cara berpikir yang luar biasa. Mereka semuanya mengajarkan kepada kami bahwa sains dibangun dengan menemukan fakta-fakta, bagaimana kriteria kita dalam menjustifikasi sesuatu, bagaimana pentingnya kita sadar akan eksistensi kita di muka bumi, serta bagaimana sains dapat bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupan manusia seluruhnya, serta banyak hal lainnya yang insyaAllah akan dikupas dalam tulisan yang lain. Belum lagi dengan acara kunjungannya ke berbagai research facilities yang luar biasa di Rikken. Pada bulan Maret 2013, saya berkesempatan mengikuti konferensi di Morioka, kota kecil di Utara Jepang. Tidak ada yang terlalu berkesan di Morioka, selain bahwa selama perjalanan dari Tokyo hingga Morioka sejauh 535,3 km tersebut, kami menggunakan Shinkansen, yang merupakan pengalaman pertama bagi saya. Sebenarnya, perjalanan terjauh selama ini adalah saat konferensi ke Sapporo. Akan tetapi, karena saat itu menggunakan pesawat terbang, kesan diperjalanan hampir sama dengan sebelumnya. Sedangkan saat ke Morioka, kami menggunakan pesawat terbang dari Matsuyama ke Tokyo, dan Shinkansen dari Tokyo ke Morioka. Total jarak tempuh sekali perjalanan adalah 1422.9 km dengan waktu tempuh 6 jam 22 menit. Selama perjalanan tersebut sebanyak 104,5 kg CO2 teremisikan ke udara. Pada bulan September, Oktober, dan November mendatang, insyaAllah saya akan mengikuti konferensi di Tottori, Kyoto, serta di Takamatsu.

Memanen hikmah di setiap perjalanan. Alam semesta beserta isinya, demikian juga teks Al-Qur`an, disebut oleh Allah SWT sebagai “ayat-ayat Allah”. Para ulama membedakannya dengan menyebutnya sebagai ayat kauniyah dan ayat kauliyah secara berturut-turut. Memfungsikan keduanya amatlah diperintahkan oleh Allah SWT untuk menguatkan keimanan kita. Disetiap perjalanan yang kita dilalui, Allah SWT mengajak kita untuk melihat dan memperhatikan bagaimana Allah SWT menciptakan makhluk-makhluknya, termasuk manusia (Al-Ankabut: 29). Demikian pula Allah SWT mengajak manusia untuk mendapatkan manfaat dari sejarah, peradaban, serta kisah orang-orang masa lalu (Ar-Ruum: 42; Al-An`am: 11; Ghafir: 21, dan banyak lagi).

Belajar dari Jepang. “Hikmah laksana hak milik seorang mukmin yang hilang. Dimanapun ia menjumpainya, disana ia berhak mengambilnya”. (HR. Al-Askari dari Anas, RA.). Jepang adalah negara maju, terutama dalam bidang sains dan teknologi. Oleh karenanya, sangat wajar jika Jepang menjadi pusat tujuan belajar, terutama bagi negara-negara Asia-Afrika dan Pasific trim. Dalam hal teknologi dan manajemen transportasi misalnya, sepertinya hampir semua negara di dunia perlu belajar kepada Jepang, terutama dalam hal pelayanan publik, ketepatan waktu, keamanan, kenyaman, dan detail disetiap itinerary yang dibuat. Setiap akan melakukan perjalanan, itinerary selalu dibuat secara detail mulai dari ketepatan waktu, ongkos, jarak tempuh, hingga emisi CO2 yang akan dikeluarkanpun diperhitungkan. Di tempat-tempat publik pun tanda-tanda arah jelas terlihat, sehingga memudahkan wisatawan. Oleh karena itu, melakukan perjalanan selama di Jepang terkesan sangat mudah dan menyenangkan. Selain kemudahan akses dan kenyamanan dalam transportasi, pendekatan promosi yang baik tentang keunikan dan potensi masing-masing daerah membuat kegiatan pariwisata di Jepang terus berkembang. Salah satu contohnya, mereka membangun beberapa tower di masing-masing propinsi tertentu. Salah satu tower terbaru adalah Tokyo Sky Tree http://www.tokyo-skytree.jp/en/index.html yang menjadi salah satu menara tertinggi di dunia dengan tinggi 634m!

Wallahu a`lam bi ashowab,

Dede Heri Yuli Yanto

Matsuyama Shi

30 Agustus 2013.