Tag

, , , , , ,


DSC03055-001-editedSuatu ketika Rosulullah SAW memegang kedua bahu Abdullah bin Umar R.A, kemudian bersabda:

كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Jadilah kamu di dunia seolah-olah orang asing atau orang yang lewat” (HR al-Bukhari, Ibn Hibban dan al-Baihaqi).

Rasulullah SAW. berpesan agar seorang Mukmin menganggap dirinya di dunia ini seperti orang asing atau orang yang lewat saja. Orang asing itu tidak memiliki tempat tinggal. Negeri tempat ia berada bukanlah kampung halamannya. Negeri itu hanya tempat ia menyelesaikan keperluannya untuk kemudian kembali ke kampung halamannya. Begitu pula orang yang lewat. Dia akan terus berjalan meski kadang singgah sebentar untuk sekadar berteduh atau mencari bekal, lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuannya.  Jadi dunia ini bagi seorang Mukmin adalah tempat asing atau persinggahan saja. Tempat tujuan atau kampung halaman bagi seorang Mukmin adalah akhirat, yakni surga. Rasul saw. menegaskan:

مَا لِى وَلِلدُّنْيَا إِنَّماَ مَثَلِى وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ قَالَ فِى ظِلٍّ شَجَرَةٍ فِى يَوْمٍ صَائِفٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَها

Tidak ada untukku dan untuk dunia ini, sesungguhnya permisalan aku dan dunia itu hanyalah seperti orang yang berkendaraan menempuh perjalanan, lalu ia bernaung di bawah pohon pada hari yang panas, lalu ia beristirahat sejenak, kemudian meninggalkan pohon itu (HR Ahmad, al-Hakim, Abu Ya’la dan Ibn Abi Syaibah).

Apa yang dicari di dunia?

Demikianlah dunia, bagi seorang Mukmin, ia semestinya didudukkan layaknya sebuah persinggahan yang sunguh sangat sebentar. Kalau demikian apa sebenarnya yang ingin dicari di dunia ini? Sesungguhnya dunia adalah tempat mencari perbekalan untuk akhirat. Dunia adalah tempat menanam, maka akhirat adalah tempat memanennya. Jika kita menanam padi maka padilah yang akan dipanen nanti. Demikianlah perumpamaannya, barangsiapa yang beramal sholeh, meski hanya semisal partikel yang paling kecil, maka ia akan mendapatkan balasannya di akhirat sebesar itu pula, pun sebaliknya. Oleh karenanya, seorang Mukmin tidak semestinya terlena oleh kehidupan dunia, sehingga ia menganggap dunia sebagai tempat tinggalnya yang kekal. Sayangnya, kebanyakan dari mereka lupa akan kehidupan akhirat. Ia banyak mencari kesenangan dunia dengan melupakan perbekalannya untuk kehidupan akhiratnya. Ia enggan belajar mengaji, sholat, puasa. Ia bahkan lupa membuka Al-Qur’an, karena kesibukkannya terhadap dunia. Hingga akhirnya ia menyesal di kemudian hari.

Perenungan 

Sempatkanlah merenungkan keberadaan diri kita di persinggahan (dunia) ini. Coba perhatikan diri Anda di depan cermin, lalu tanyakan kepada diri Anda, kenapa Anda bisa ada di persinggahan ini? Siapakah yang telah menciptakan Anda? Untuk apa Anda diciptakan di muka bumi ini? Dengan apa anda dibekali petunjuk untuk mengarungi kehidupan ini? Kemana Anda akan kembali nanti? Lalu perhatikanlah bagaimana teman-teman Anda, saudara-saudara Anda, orang-orang terdekat Anda, yang tahun lalu masih ada, sekarang sudah tiada. Kemarin masih sempat bersenda gurau dengan Anda, sekarang ia telah tiada. Kemana mereka pergi? Apa yang mereka bawa? Adakah mereka membawa harta dunianya? Adakah mereka membawa anak-anaknya, kekuasaannya, kendaraannya, teman-teman karibnya? Tidak, mereka hanyalah membawa amalan mereka masing-masing. Satu-satunya harta terakhir yang menemaninya hanyalah selembar kain putih yang menutupi jasadnya. Sementara anak-anaknya, kendaraannya, kekuasaannya, dan teman-teman karibnya bahkan tidak mampu menemaninya.

Allah SWT yang telah menciptakan kita. Tidak lain penciptaan manusia dan jin hanyalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Agar proses peng-takdisan (pensucian kepada-Nya) tersebut berjalan dengan benar, demikian pula proses pemenuhan berbagai macam kebutuhan hidup dan naluri manusia selama di persinggahan ini dapat tercapai secara benar, Allah memberikan kepada manusia petunjuk hidup. Petunjuk ini, tidak mungkin diberikan secara langsung kepada seluruh manusia, akan tetapi melalui orang-orang pilihan, utusan Allah SWT. Mereka itulah para Nabi dan Rosul. Melalui para Nabi dan Rosul, Allah memberikan petunjuk kepada seluruh manusia agar dengan petunjuk itu kehidupan manusia mampu berjalan dengan benar sehingga ia kembali menghadap Robb-nya dalam keadaan yang di ridhoi-Nya.

Demikianlah, petunjuk itu sampai kepada kita hingga saat ini melalui manusia agung, Rosulullah Muhammand SAW. Allah menurunkan Al-Qur’an kepada manusia melalui Rosulullah untuk menjadi petunjuk bagi manusia dan menjadi penjelasan bagi petunjuk-petunjuk tersebut serta pembeda (antara yang benar dan yang salah) (Al-Baqoroh: 185). Maka, bagaimana mungkin manusia mendapatkan petunjuk dari Allah SWT, sementara ia tidak mengerti petunjuk tersebut, ia tidak mampu membacanya, bahkan ia tidak pernah sama sekali membukanya, mengamalkannya, serta menjadikannya sebagai pedoman hidupnya? Untuk bisa mengetahui kehendak Allah SWT, manusia dituntut untuk dapat membaca Al-Qur’an, memahami maksudnya, mengamalkannya, serta menjadikannya sebagai pedoman hidup. Sehingga apa yang Allah kehendaki dapat kita pahami.

Manusia membutuhkan makan, minum dan (mohon maaf) buang air besar atau kecil. Semuanya ini, tidak mungkin tidak, harus dipenuhi. kegagalan dalam memenuhinya, dapat menyebabkan kematian. Oleh karenanya, pemenuhan kebutuhan jasmani seperti ini, menjadi wajib dipenuhi. Lalu bagaimana agar ia mampu dipenuhi secara benar? Subhanallah, Islam telah memberikan petunjuk yang begitu lengkap kepada manusia dari mulai pemenuhan secara pribadi, masyarakat, bahkan dalam kehidupan bernegara, serta secara detail, dari mulai yang paling sederhana seperti membaca bismillah (menyebut nama Allah) dalam setiap aktivitas pemenuhannya, hingga permasalahan dalam pengelolaan hajat hidup orang banyak oleh Negara. Lihatlah bagaimana Islam memerintahkan manusia untuk memakan dan minum hanya yang halal dan baik.

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُون

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. An-Nahl: 114)

Hingga dalam perkara kepemilikan umum (al-milkiyah al-`ammah) yang menjadi wewenang Negara untuk mengelolanya, misalnya:

« اَلْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ فِي الْكَلإَِ وَالْمَاءِ وَالنَّارِ»

“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu padang rumput, air dan api.“ (HR. Abu Dawud)

Islam begitu memperhatikan perihal kepemilikan. Kepemilikan terhadap sesuatu menjadi sangat penting sebab ia bagian dari kebutuhan hidup. Manusia tidak akan mungkin memenuhi kebutuhan jasmani dan nalurinya tanpa memiliki sarana pemuasnya. Oleh karenanya, Allah SWT mengatur penguasaan manusia atas harta tersebut agar tidak terjadi perselisihan dan permasalahan yang datang karena berebut kepemilikan. Islam telah membuat kepemilikan menjadi tiga kategori, yang merupakan konsekuensi dari kebutuhan seseorang manusia sebagai individu dan masyarakat, yaitu: kepemilikan individu (al-milkiyah al-fardhiyah), kepemilikan umum (al-milkiyah al-âmmah), dan kepemilikan negara (milkiyah ad-daulah). Perihal kepemilikan umum seperti hadits di atas, Allah SWT telah mewakilkan tugas penggunaan dan pengaturan kepemilikan umum (al-milkiyah al-âmmah) ini kepada negara, sehingga semua manusia memungkinkan untuk memanfaatkannya, serta mencegah individu-individu tertentu dari mengontrol dan menguasainya (privatisasi). Semua itu untuk melindungi hak-hak rakyat, menjaga stabilitas masyarakat, serta untuk menjamin ketenangan semua individu rakyat. Dari sinilah maka kemudian apa yang disebut sebagai Sistem Perekonomian Islam. Maka sistem ekonomi Islam sangat sesuai dengan fitrah manusia karena hadir untuk menyelesaikan permasalahan hidup manusia terkait pemenuhan terhadap kebutuhan jasmani maupun naluri manusia.

Demikian pula dengan berbagai pemenuhan kebutuhan jasmani dan naluri yang terkait dengan interaksi pria dan wanita selama proses pemenuhan tersebut, maka Islam mengaturnya dalam sistem pergaulan Islam. Misalnya, perintah menundukkan pandangan (An-Nuur: 30-31), perintah kepada wanita untuk mengenakan jilbab dan kerudung (Al-Ahzaab: 59 dan An-Nuur: 31), larangan bepergian bagi wanita sehari-semalam, kecuali disertai dengan mahramnya, larangan berkhalwat pria dan wanita, kecuali wanita tersebut disertai dengan mahramnya, larangan wanita keluar rumah kecuali dengan seizin suaminya, perintahan pemisahan pria dan wanita dalam kehidupan umum seperti di pasar, sekolah, dll. Pengaturan hubungan pria dan wanita di persingahan (dunia) sangatlah sesuai dengan fitrah manusia.

Perlu di renungkan, bahwa yang singgah di dunia ini bukanlah cuma pria saja, melainkan pula wanita. Keduanya (pria dan wanita) memiliki thaaqah hayawiyah (potensi dinamis) yang sama, seperti kebutuhan jasmani yang harus dipenuhi serta kecenderungan naluri. Mereka (pria dan wanita) juga sama-sama diperintahkan untuk hanya memakan makanan yang halal dan baik. Mereka sama-sama diperintahkan untuk taat kepada aturan Allah SWT. Merekapun keduanya akan kembali ke kampung halamannya, apakah di syurga, atau di neraka. Karenanya, mereka juga akan dihisab atas amal perbuatan mereka masing-masing, dan pasti akan dibangkitkan setelah kematian. Intinya, pria dan wanita punya perintah yang sama dari Tuhannya. Karenanya, pria dan wanita bekerja sama dalam mencapai kemaslahatan dalam kehidupan bermasyarakat. Pria dan wanita masing-masing memiliki kekhasan. Meskipun begitu, masing-masing tidak dapat dibedakan dari aspek kemanusiaannya. Keduanya dipersiapkan oleh Allah SWT untuk mengarungi kancah kehidupan sesuai dengan batas-batas kemanusiannya. Keberlangsungan keturunan manusia bergantung pada interaksi kedua lawan jenis tersebut. Disamping itu, keduanya memiliki potensi berpikir (akal) yang digunakan untuk mempertimbangkan sesuatu.

Itu semua adalah fitrah manusia, baik pria maupun wanita. Ketika keduanya bertemu atau berinteraksi, maka memungkinkan munculnya naluri seksual. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa keberadaannya dapat membangkitkan naluri seksual lawan jenisnya. Akan tetapi, keduanya seperti yang dituliskan di atas, perlu berinteraksi dalam rangka mewujudkan kemaslahatan dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itulah, sistem pergaulan Islam mengatur hubungan pria-wanita dengan sebaik-baik aturan dan sesuai dengan fitrahnya. Aturan ini memungkinkan pria dan wanita tetap dapat mencapai tujuan kemaslahatannya tetapi juga menetapkan sifat `iffah (menjaga kehormatan) sebagai suatu kewajiban. Subhanallah, begitu sempurna.

Demikianlah, bagaimana Islam mengatur perekonomian dan pergaulan. Sempurnanya Islam bahkan terbukti tatkala Islam juga menetapkan peraturan-peraturan peradilan, ubudiyah (peribadatan), uqubat, pemerintahan, pendidikan, akhlaq, politik, kemanusiaan, bahkan budaya. Tidak ada yang tidak atur dalam Islam. Semuanya lahir dan terpancar dari aqidah, keyakinan bahwa hanya Allah-lah, Tuhan yang patut di sembah dan mengatur seluruh kehidupan ini.

Simpulan

Kehidupan dunia ini sementara, bahkan serba singkat. Hampir singkatnya, Rosulullah SAW menggambarkan dunia sebagai persinggahan manusia untuk kemudian kembali ke kampung halamannya yang kekal, yakni akhirat (syurga atau neraka). Dunia adalah ladang untuk bercocok tanam amal kebaikan sehingga di akhirat kebaikan itu akan dipetik. Lalu apa yang perlu kita lakukan di dunia agar amal-amal kebaikan itu dapat menjadi perbekalan hidup di akhirat. Tidak lain adalah aqidah (keyakinan) kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang menciptakan serta mengatur seluruh kehidupan manusia. Oleh karenanya, ketaatan kepada aturannya (syariat Islam) menjadi perkara penting untuk mengarungi kehidupan dunia yang sementara ini. Dengannya (syariat Islam), kehidupan yang sementara ini tentu akan mendatangkan kebahagiaan hidup, baik kehidupan di dunia (karena sesuai dengan fitrah manusia) maupun kehidupan akhirat (sesuai dengan ridho Allah SWT).

Sekali lagi, patutlah kita renungkan: “Hidup ini, sudahlah singkat, sementara, dan tidak kekal, lalu kalau tidak digunakan untuk mencapai kehidupan yang lebih kekal (akhirat) terus mau digunakan untuk apa lagi??? Adakah yang lebih beruntung daripada orang-orang yang kembali ke kampung halamannya (syurga) dalam keadaan Allah ridho kepadanya?”

Wallahu a`lam bi ashowab

Dede Heri Yuli Yanto

Matsuyama Shi,

September 7, 2013

Iklan