Tag

, ,


Kunci kebahagiaanSiapa yang tidak ingin bahagia. Tentu tidak ada. Hanya orang aneh yang tidak mau bahagia. Sayangnya, belum tentu semua orang dapat menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan hanya bisa dirasakan oleh mereka dapat menemukan kuncinya. Tidak peduli apakah ia orang paling berkedudukan di dalam satu komunitas, apakah ia orang yang paling berharta, atau ia orang yang paling terkenal, kalau ia belum mampu menemukannya, sangat mungkin ia sulit mendapatkan kebahagiaan.

Kunci kebahagiaan bukan terletak dibalik banyaknya uang atau harta yang dimiliki seseorang. Meskipun, bisa saja harta menambah kebahagiaan seseorang. Faktanya, banyak orang yang jauh lebih kaya hartanya, tapi justru tidak lebih bahagia dari orang yang lebih sedikit hartanya. Jika harta adalah kunci kebahagiaan, maka secara matematik, orang yang semakin banyak harta akan semakin bahagia sebanyak lipatan kekayaan yang dimilikinya. Sebagai contoh, seseorang dengan penghasilan sebesar 30 juta rupiah perbulan mestinya harus lebih bahagia 30 kali lipat daripada orang yang penghasilannya sebesar 1 juta rupiah perbulan. Tapi kenyataannya tidaklah demikian. Ini membuktikan kunci kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya uang dan harta yang kita miliki.

Kunci kebahagiaan juga tidak terletak dibalik kekuasaan dan jabatan. Tidak jarang orang dengan jabatan paling rendah di suatu instansi/kantor justru jauh lebih bahagia ketimbang mereka yang memiliki posisi teratas di kantor tersebut, demikian pula sebaliknya. Fakta saat ini malahan menunjukkan semakin banyak pejabat dan pemegang kekuasaan yang justru terlibat dalam perkara-perkara dosa besar seperti korupsi, perzinahan serta berbagai dosa yang mungkin muncul dari penyalahgunaan kekuasaannya, yang menyebabkan timbulnya rasa was-was, khawatir ketahuan orang lain, khawatir dipenjara, dan sebagainya sehingga menjauhkannya dari bahagia.

Apakah kunci kebahagiaan terletak pada banyaknya anak? Ternyata memiliki anakpun tidak menjamin adanya kebahagiaan dalam diri seseorang. Setiap anak yang baru lahir tentu di damba-damba oleh kedua orang tuanya (tentu jika ia dilahirkan melalui hubungan yang halal). Akan tetapi, tidak jarang orang tua yang menelantarkan pendidikan moral, agama, dan karakter anaknya sehingga anaknya tumbuh menjadi anak yang tidak berbakti kepadanya. Pada kondisi seperti ini, tentu memiliki anak yang durhaka tidak dapat menjamin kebahagiaan seseorang. Sebaliknya, keberadaan anak yang sholeh, berbakti sangat mungkin mendatangkan kebahagiaan bagi orang tuanya. Karenanya anak tidak menjadi kunci bagi kebahagiaan seseorang.

Kunci Kebahagiaan

Sesungguhnya kunci kebahagiaan terletak di balik rasa syukur. Tidak perduli bagaimanapun keadaan anda, jika anda mampu mensyukuri nikmat yang (pasti) ada pada diri Anda, maka Anda akan mampu meraih kebahagiaan itu. Karena sejatinya, tidak ada satu hari bahkan satu detik pun yang berlalu tanpa nikmat Allah. Bahkan jika kita mau menghitung-hitungnya niscaya kita tidak akan mampu. Hitunglah berapa banyak udara yang anda hirup setiap sepersekian detik, yang dengannya, paru-paru anda mampu terpenuhi oksigen. Lalu sel-sel darah merah anda membawanya beserta sari-sari makanan untuk proses-proses metabolisme tubuh. Sehingga Anda mampu tumbuh, berpikir, berjalan, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya. Pernahkah Anda membayangkan jika salah satu anggota tubuh Anda tidak berfungsi dengan normal. Apa yang terjadi?

Suatu ketika, kaki saya pernah cidera karena bermain sepak bola. Hanya cidera ringan di bagian lutut saya. Tapi selama seminggu, saya merasakan sakit yang luar biasa, terutama ketika sholat pada posisi duduk diantara dua sujud atau tasyahud. Tapi Alhamdulillah, selang seminggu rasa sakit berangsur hilang, dan saya mampu sholat dengan posisi duduk yang sempurna, InsyaAllah. Suatu saat pernah terlintas pada diri saya, bagaimana jadinya, jika kaki ini, benar-benar tidak mampu berdiri atau berjalan. Tentu banyak aktivitas yang tidak bisa sempurna saya lakukan. Maka saya merasa sangat bersyukur sekali akan nikmat kesembuhan kaki saya tersebut dan saya bersyukur hanya cidera ringan yang saya dapati ketika itu. Yaah, kita pasti menemukan berlimpah nikmat meski dibalik berbagai kesulitan yang kita hadapi. Tentu jika kita mau mencarinya.

Lalu bagaimana mereka yang benar-benar tidak memiliki tubuh yang sempurna, kondisi kemiskinan yang memprihatinkan, cobaan kehidupan yang sangat berat, seperti sakit yang luar biasa, kesempitan waktu luang, penatnya pekerjaan, dan sebagainya. Sama saja, mereka (pasti) masih bisa bersyukur karena nikmat Allah (sekali lagi) tidak pernah putus. Lihatlah, berbahagai hal-hal yang kadang tidak kita sadari. Seperti nikmat udara yang tidak pernah habis, senyum anak-anak yang menyapa ketika kita pulang kerja, makan malam yang sudah disiapkan isteri tersayang, orang-orang yang senantiasa ada di sekitar kita, senyum dan sapa teman-teman kita, sejuknya udara yang menerpa wajah kita, pakaian yang kita gunakan, rumah tempat kita berlindung, malam waktu kita beristirahat, lidah tempat kita merasakan berbagai rasa makanan, bahkan enzyme-enzyme yang membantu metabolisme di dalam tubuh kita, semuanya masih menyimpan potensi untuk kita syukuri. Kadang-kadang kita melupakannya. Sehingga kita kurang bersyukur atas nikmat tersebut.

Cara bersyukur

Baiklah, kita sudah tahu bahwa kunci bahagia terletak di balik rasa syukur. Pertanyaannya, bagaimana caranya kita bersyukur. Tidak ada cara lain kecuali tetap focus pada apa yang kita miliki lalu syukuri apa yang ada sekecil apapun itu. Jangan pernah mengeluhi apa yang kita dapati. Mulainya mensyukuri setiap hal (baik kecil, apalagi besar) yang ada pada kita. Ini mungkin terasa berat di awalnya, tapi tidak ada cara lain kecuali mulai melakukannya sekarang juga, lalu dijadikan kebiasaan, maka pada akhirnya semakin lama ini akan semakin mudah kita lakukan. Rasa syukur dapat di wujudkan melalui aktivitas hati dan pikiran, lisan, maupun perbuatan anggota badan. Melalui hati dan pikiran, rasa syukur dapat di wujudkan dengan senantiasa mengingat Allah dalam setiap hal, waktu dan kondisi apapun, terlebih lagi ketika anda mendapatkan nikmat yang luar biasa. Namun sekali lagi perlu diingat bahwa tidak akan pernah ada detik-detik yang berlalu tanpa nikmat Allah SWT. Sehingga, semakin banyak Anda mengingat Allah, semakin banyak peluang Anda meraih kebahagiaan hidup. Aktivitas hati dan pikiran inilah yang akan senantiasa menjaga manusia untuk selalu ingat kepada Allah SWT, zat yang memberikan sumber kebahagiaan bagi manusia. Melalui aktivitas lisan, rasa syukur dapat diwujudkan berupa ucapan “Alhamdulillah” di setiap kesempatan, terutama ketika kita merasakan nikmat yang luar biasa pada diri kita. Ucapan “Alhamdulillah” pada sejatinya adalah ekspresi yang memperkuat nilai-nilai ketauhidan dan menumbuhkan sikap penghambaan yang semakin tunduk kepada Allah SWT, karena melalui ucapan ini, seorang hamba sepenuhnya mengembalikan Segala pujian, nikmat dan kebahagiaan kepada Allah SWT. Pujian apapun di seluruh alam ini adalah hanya milik Allah SWT. Dengan senantiasa membiasakan mengucapkan “Alhamdulillah” disetiap rasa syukur yang kita dapati, atas izin Allah SWT akan mendatangkan kebahagiaan bagi yang mengucapkannya. Yang ketiga, rasa syukur tentu dapat diwujudkan melalui aktivitas tubuh atau perbuatan. Ini tentu dilakukan dalam bentuk ibadah perbuatan sebagai bentuk rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Dengan nikmat Islam, Allah jadikan kita mengenal sumber-sumber kebaikan, demikian pula dengan nikmat iman dan juga kesehatan. Menggunakan nikmat iman, islam, dan kesehatan untuk senantiasa beribadah kepada Allah melalui aktivitas tubuh dan perbuatan merupakan tanda ketakwaan kepada Allah SWT. Apalagi ini semua dilakukan dengan penuh kesadaran akan berbagai nikmat yang Allah berikan kepada kita. Allah SWT berfirman: “Jika engkau mensyukuri nikmatKu, maka akan Aku tambah nikmatKu, tapi jika engkau mengingkari, sesungguhnya azabKu amat pedih” (TQS. Ibrahim:7)

Wallahu a`alm bi ashowab,

Dede Heri Yuli Yanto,

Matsuyama Shi, 14 Oktober 2013

Iklan