Tag

, , , , , , , ,


Berpikir mencari solusiTidak ada manusia yang tidak mendapati masalah/kesulitan selama hidupnya. Tapi tidak semua orang mampu keluar dari masalah tersebut. Ketika masalah itu datang, sebagian dari mereka lebih banyak menyerah dan lalu mencari jalan salah. Sebagaian lagi berdiam diri dan menunggu keajaiban datang memberi solusi. Meskipun ada juga diantara manusia yang senantiasa berpikir solutif (mencari solusi) dalam setiap permasalahan hidupnya.

Mempersiapkan diri

Salah satu cara preventif agar tidak shock dengan berbagai kesulitan yang datang menimpanya ialah mempersiapkan diri untuk memahami bahwa kesulitan itu adalah suatu qodratullah yang datang kepada manusia sebagai bentuk ujian. Jadi jangan berpikir bahwa kesulitan ga akan pernah datang kepada kita. Berpikirlah bahwa semua manusia, pasti akan mendapati kesulitan selama mereka hidup. Dan kesulitan-kesulitan itu bukan cuma datang kepada Anda, tapi kepada semua orang. Istilah lainnya ialah bahwa kesulitan itu adalah hal yang biasa dalam hidup. Kadang ia datang kepada orang lain, kadang kepada kita, dan sering ke semua orang. Dengan begitu, kita sudah mempersiapkan diri tatkala kesulitan itu datang kepada kita. Jadi, berpikir bahwa selama hidup tentu suatu waktu akan mendapati masalah akan menyiapkan diri kita tidak shock ketika masalah itu datang.

Bersama satu kesulitan ada lebih banyak kemudahan 

Jangan dilupakan bahwa disetiap kesulitan yang datang, akan ada bersamanya kemudahan. Sama halnya dengan kesulitan, kemudahan juga bisa datang kepada semua orang termasuk diri kita. Jadi peluang besarnya mendapatkan kesulitan atau kemudahan itu sama saja. Dan cara berpikir dan tindakan manusia itu sendiri lah yang akan menentukan besarnya peluang masing-masing tersebut. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan berlebihan tatkala kesulitan atau masalah datang kepada kita. Karena bersamanya datang pula kemudahan. Bahkan kemudahan yang datang bersama kesulitan lebih banyak jumlahnya. Hal ini jelas-jelas difirmankan Allah SWT:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً – إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, dan sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (TQS. Ash-Sharh: 5-6)

Terkait dengan ayat tersebut, Ibnu Jarir meriwayatkan dari al-Hasan, dia berkata: “Nabi s.a.w. pernah keluar rumah pada suatu hari dalam keadaan senang dan gembira, dan beliau juga dalam keadaan tertawa seraya bersabda (yang artinya):

“Satu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan, satu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan, karena bersama kesulitan itu pasti terdapat kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu terdapat kemudahan.”

Di dalam ayat tersebut, “kesulitan” disebutkan dalam bentuk mufrad (tunggal), sedangkan kemudahan (al-yusr) dalam bentuk nakirah (tidak ada ketentuannya) sehingga bilangannya bertambah banyak. Oleh karena itu, beliau s.a.w. bersabda, “Satu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.”

Demikianlah, Allah menyiapkan lebih banyak kemudahan kepada manusia setelah atau bersama datangnya kesulitan. InsyaAllah.

Selesaikan masalah besar, insyaAllah semua masalah cabang jadi kecil

Masalah-masalah seperti kelaparan, tidak punya uang, banyak hutang, tidak lulus ujian, anak sakit, dimarahi atasan, tugas pekerjaan yang tidak kunjung selesai, hati yang gelisah, perceraian, dibenci orang, rasa takut dalam berdakwah, dsb. yang seringkali menimpa manusia, sebenarnya adalah masalah-masalah cabang dari kehidupan. Semuanya itu tidak pernah lebih utama dari sebuah masalah besar (Al-uqdatul kubro) yang mesti lebih dahulu diselesaikan oleh manusia. Selama manusia belum mampu menyelesaikan permasalahan besar ini, maka permasalahan-permasalahan cabang tadi akan terasa menjadi masalah besar. Dengan kata lain, masalah-masalah cabang tadi sesungguhnya adalah masalah keciiiiiiil, jika manusia telah mampu menyelesaikan dan memahami solusi dari permasalahan besar dirinya. Persoalan besar yang harus diselesaikan dan dicarikan solusi jawaban atasnya adalah: keberadaan manusia di muka bumi ini, dari mana ia berasal, untuk apa ia di ciptakan, dan kemana ia akan kembali. Inilah yang disebut dengan (al-uqdatul kubro) permasalahan/persoalan besar manusia. Jika ini mampu di jawab dengan benar, maka persoalan-persoalan yang datang di cabang-cabang kehidupan akan terasa sangat kecil dan berpikir mencari solusinya menjadi lebih mudah ke arah yang lebih benar. InsyaAllah.

Islam menyelesaikan permasalahan besar tadi dengan jawaban:

Keberadaan manusia di muka bumi adalah diciptakan oleh Allah SWT (Zat yang Maha Pencipta dan Pengatur) dengan tujuan penciptaannya adalah untuk beribadah kepada-Nya. Manusia diberikan aturan hidup (Al-Qur`an) untuk menjadi petunjuk bagi perjalanan hidupnya (termasuk ibadah, makanan, dsb) di dunia, agar ia kembali kepada-Nya dalam keadaan yang di ridhoi-Nya dan menempati syurga-Nya.

Inilah masalah besar yang harus dipikirkan, dipahami, direnungkan, disadari, dan di-di- lainnya, agar manusia senantiasa ingat, bahwa tujuan hidupnya adalah untuk beribadah sesuai dengan syariat-Nya agar kembali kepada-Nya dengan diridhoi-Nya. Sehingga persoalan-persoalan hidup seperti tidak punya uang, sulit makan, dibenci orang dsb. bukan yang utama, hanya masalah cabang dari kehidupan, dan kedudukannya sangat kecil. Jadi selesaikan dulu masalah besar ini dengan penyelesaian yang sempurna, insyaAllah semua masalah cabang yang datang akan terasa mudah diselesaikan.

Simpulan

Jadi, persoalan, masalah, dan kesulitan hidup tentu ada dan bisa datang kepada siapa saja termasuk kita. Siapkan diri bahwa ia sangat mungkin datang kepada kita, dan anggaplah itu  hal yang biasa terjadi. Ketika kesulitan itu datang, Allah siapkan lebih banyak  kemudahan untuk kita. Yang terakhir, masalah-masalah yang menimpa kehidupan kita sejatinya adalah masalah cabang yang sangat kecil dan ringan penyelesaiannya, jika kita mampu menyelesaikan esensi dari masalah besar kita yaitu, dari mana kita berasal, untuk apa kita diciptakan, dan kemana kita akan kembali. Semoga kita mampu berpikir jernih mencari solusi atas permasalahan dan kesulitan yang datang kepada kita. Aamiin.

Wallahu a`lam bi ashowab,

Dede Heri Yuli Yanto

dede@biomaterial.lipi.go.id

Matsuyama Shi,

November 29, 2013

Iklan