Tag

, , , ,


Setiap tahun Jepang selalu mengadakan acara pertandingan olah raga, biasa dikenal dengan istilah “undokai”. Ceritanya, waktu itu saya dan beberapa rekan PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Ehime ikutan gabung untuk meramaikan acara tersebut. Kami bergabung dalam satu tim dengan berbagai Negara dan dikoordinasikan oleh MIC (Matsuyama International Center). MIC adalah salah satu bagian dari pemerintah kota Matsuyama yang memiliki tugas khusus untuk memfasilitasi berbagai kegiatan international dan warga Negara asing di Matsuyama.

Pagi-pagi, kami semua sudah berkumpul di gedung COMS (tempat MIC berkantor) untuk berangkat bareng menggunakan bus yang sengaja di sewa oleh panitia. Sekitar 30 menit jarak tempuh, bus pun sampai ditempat undokai dilaksanakan. Tempat itu belakangan saya ketahui merupakan salah satu kompleks olah raga terbesar di Matsuyama bernama Botchan Stadium. Diberi nama demikian mungkin karena botchan adalah salah satu tokoh komik terkenal di Jepang yang berasal dari Ehime. Matsuyama sendiri merupakan pusat kota dan kota terbesar di Propinsi Ehime bahkan pulau Shikoku.

Di acara tersebut, kami mengikuti berbagai perlombaan olah raga unik seperti tarik tambang, lompat tali berkelompok, memasukkan bola ke dalam sarang yang tinggi (seperti basket), lomba balap lari perorangan dan berkelompok, dsb.

Saat acara usai, kami pun kembali ke gedung COMS dengan menaiki bus yang sama saat kami berangkat. Dari COMS kami kembali ke apartment masing-masing. Saat itu  adalah pukul 14.00 JST, saat saya sampai di depan apato (apartment saya). Sampai di ruang tamu saya langsung melepaskan semua perlengkapan saya. Seperti biasa, saya meletakkan kunci sepeda, tas, dan lalu merogoh kantong belakang untuk mengeluarkan dompet. Alangkah kagetnya, ternyata saya tidak mendapati dompet saya di kantong belakang celana. Saya langsung mengecek ke dalam tas, ternyata tidak ada. Saya pastikan di keranjang sepeda, juga tidak ada. Akhirnya saya baru sadar, kalau dompet saya hilang!.

Saya mulai panik dan mulai mengingat-ngingat kapan terakhir tangan saya bersentuhan dengan dompet. Apa mungkin jatuh saat saya ganti baju dan celana olah raga di lapangan. Apa mungkin jatuh saat bersepeda, saya masih tidak ingat. Atau bisa juga tertinggal di bus saat pulang, pikir saya saat itu. Diantara berbagai kemungkinan, hanya kemungkinan terakhir yang bisa saya cek sesegera mungkin. Itu berarti saya harus segera menelepon panitia MIC untuk memastikan apakah dompet saya tertinggal di bus atau tidak. Karena kalau mau mencari dilapangan, sebenarnya bisa saja, akan tetapi, butuh waktu yang lebih lama karena berarti saya harus pergi lagi ke bothan stadium, berkeliling ke lapangan, dan memeriksa kamar ganti baju untuk menemukan dompet tersebut.

Mulailah saya menelepon panitia MIC dengan bahasa Jepang seadanya, yang penting sampai kepada mereka apa yang saya maksudkan, bahwa saya ingin mereka memastikan apakah dompet saya tertinggal di bus atau tidak. Alhamdulillah mereka mengerti! intinya mereka akan segera menelpon  “utensha san” (supir bus) untuk memastikan apakah ada dompet saya atau tidak di bus tersebut.

Tidak lama saya menunggu, HP saya pun berbunyi kembali yang ternyata dari panitia MIC dan mengabarkan bahwa memang benar dompet saya tertinggal di salah satu bangku bus. Orang di ujung telpon pun berjanji bahwa salah seorang dari panitia akan segera mengantarkannya ke apato saya. Dan benar saja, tidak sampai 30 menit dari watu yang dijanjikan, dompet saya sudah kembali kepada saya. Luar biasa!

Pembaca yang budiman. Saya tidak sedang ingin membandingkan situasi ini apabila terjadi di Negara saya tercinta, Indonesia. Karena kita tahu persis apa yang akan terjadi saat benda-benda berharga kita sedikit saja lepas dari kita. Salah seorang rekan saya pernah berkata “Bro, di Indonesia, jangankan dompet tertinggal di bus. Tuh dompet, di rante aja dikantong ente, tetep bisa hilang kalau ente ga pegangin terus”.

Saya lahir dan besar di Jakarta. Meski begitu, sejujurnya saya kurang nyaman menggunakan fasilitas umum di Jakarta, terutama bus kota. Waktu saya kuliah di IPB Bogor, setiap hari Senin pagi, saya selalu berangkat dari rumah ke Bogor via Uki (dulu stasiun bayangannya ada di Uki). Setiap saya menaiki salah satu bus jurusan Grogol-Uki, selalu saja ada kejadian entah pencopetan, pemaksaan, dan kadang-kadang penodongan di dalam bus. Kejadian itu kerap terjadi setiap saya naik bus ke Uki. Bisa dibayangkan bagaimana bosan dan bencinya saya naik bus di Jakarta. Saya pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan motor ke kampus sejak saat itu.

Anyway itu dulu, mungkin sekarang sudah lebih baik. Apalagi ada busway yang katanya keamanannya sedikit terjamin. Jujur, saya belum pernah naik busway. Jadi belum tahu apakah benar begitu atau tidak. Intinya saya tetap yakin kalau masih banyak orang baik di negeriku tercinta. Meski saya pun sadar, butuh waktu lama untuk menjadikan Indonesia seperti Jepang saat ini.

Itulah Jepang! Meski sebenarnya saya sudah pernah dengar dari banyak cerita bahwa Jepang sangat aman dari pencurian dan kehilangan barang, tapi saat kehilangan pertama saya, rasa khawatir dompet saya tidak akan kembali tetap menghampiri. Dan kebenaran berita itupun akhirnya benar-benar terjadi pada diri saya.

Dede Heri Yuli Yanto

Matsuyama Shi

February 2014.

Iklan