Tag

, , , , , , ,


Cokelat berbentuk koin Nobel Laureates, sebagai hadiah untuk seluruh peserta HOPE Meeting with Nobel Laureates.

Cokelat berbentuk koin Nobel Laureates, sebagai hadiah untuk seluruh peserta HOPE Meeting with Nobel Laureates.

Tahun lalu, tepatnya 26 Februari – 2 Maret 2013, saya mendapatkan kesempatan mengikuti program The 5th HOPE Meeting with Nobel Laureates yang diselenggarakan oleh JSPS Japan di Tokyo. Program tersebut dilaksanakan dalam rangka mempertemukan sekitar 100 mahasiswa Ph.D dan atau mahasiswa postdoct dari 15 Negara di dunia dengan para pemenang Nobel Laureates di bidang “life science and related fields“. Acara yang diselenggarakan selama kurang lebih seminggu tersebut benar-benar menghadirkan suasana interaksi science, social dan culture yang luar biasa berkesan bagi semua peserta. Apalagi digrup discussion yang mempertemukan secara lebih dekat dengan pemenang Nobel Laureates.

Foto saya (paling atas urutan kedua dari kiri) bersama Pemenang Nobel Lauerates.

Foto saya (paling atas urutan kedua dari kiri) bersama Pemenang Nobel Lauerates dan peserta HOPE Meeting.

Di dalam grup discussion hari pertama, saya berdiskusi dengan Prof. Makoto Kobayashi. Beliau mendapatkan Nobel Prize pada tahun 2008 atas penemuannya tentang asal usul pecahan simetris yang dapat memprediksi keberadaan setidaknya 3 family quark di alam. <http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/physics/laureates/2008/kobayashi-facts.html&gt;. Di grup discussion hari kedua, saya berdiskusi dengan Prof. Ryoji Noyori yang mendapatkan Nobel Prize tahun 2001 atas penemuannya tentang reaksi hidrogenasi yang terkatalisasi secara kiral (http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/chemistry/laureates/2001/noyori-bio.html). Penemuannya ini banyak digunakan pada berbagai reaksi di dunia industry. Hari ketiga, saya berdiskusi secara intens dengan Prof. Gunnar Oquist, mantan Sekretaris Jenderal, The Royal Swedish Academy of Sciences.

Bersama dengan Prof. Makoto Kobayashi (Nobel Laureate in Physics 2008)

Bersama dengan Prof. Makoto Kobayashi (Nobel Laureate in Physics 2008)

Selain itu, saya berkesempatan bertemu langsung dan berdiskusi dengan beberapa pemenang Nobel Prize diantaranya: Prof. Susumu Tonegawa (Nobel Laureates in Physiology or Medicine 1987) yang begitu menarik memberikan presentasi mengenai penemuannya dibidang tersebut, terutama kaitannya dengan bagaimana otak mampu me-recall kembali memory yang telah tersimpan di masa lalu dan dikaitkan pada penyembuhan penyakit alzheimair dsb. Presentasi yang membuat saya terkesan (karena keagungan Allah atas seluruh penciptaan makhluknya) adalah tentang seekor tikus yang dimasukkan ke dalam kotak. Secara mendadak kotak tersebut diberikan panas (shock heating), maka secara spontan tikus tersebut lari berkeliling kotak sebagai respon panas tersebut. Kemudian, tikus tersebut diambil dan dipindahkan ke kotak yang sama kembali, namun tidak diberikan perlakuan panas. Luar biasanya adalah, tikut tersebut langsung berlari ke sekililing kotak terus menerus, hingga akhirnya tikus tersebut sadar bahwa tidak ada bahaya yang mengancam, dan kemudian dia diam (“freeze”) sejenak dan kemudian normal. Selama percobaan tersebut, sebuah sensor yang terhubung dengan computer ke dalam otak tikus, sehingga perbedaan pola respon terlihat selama otak tikus merespon berbagai keadaan tadi. Dari sinilah kemudian ditemukan bahwa otak (makhluk secara umum) memiliki kemampuan untuk me-recall kembali memory di masa lalunya, dan itu dapat dibangkitkan dengan beberapa treatment yang kemudian di gunakan sebagai pendekatan penyembuhan penyakit yang berkaitan dengan kehilangan memory baik jangka pendek ataupun panjang.

Bersama Prof. Ryoji Noyori  (Nobel Laureate in Chemistry 2001)

Bersama Prof. Ryoji Noyori (Nobel Laureate in Chemistry 2001)

Ada lagi pengalaman berkesan saat berdiskusi dengan Prof. Leo Esaki, Pemenang Nobel Prize in Physics tahun 1973. Di usia beliau yang sangat tua tersebut, beliau masih terlihat sangat fresh dan bersemangat memberikan presentasi mengenai pengalamannya di dunia penelitian sejak muda. Teringat betul saat paper (yang kemudian berhasil membawanya meraih Nobel Prize) di tolak di salah satu jurnal terkenal di Amerika, namun akhirnya paper tersebut di terima dan publish. Kemudian dari publikasi tersebut, mulailah beliau menghadiri pertemuan international yang saat itu di hadiri oleh salah seorang professor yang sangat terkenal dibidangnya. Uniknya, dari sinilah kemudian nama Leo Esaki mulai di kenal, saat professor tersebut menyebutkan namanya disalah satu konferensi ternama tersebut. Demikianlah kemudian penemuannya tersebut mampu menjadi perhatian dunia penelitian dan akhirnya membawanya menjadi pemenang Nobel tahun 1973.

Pemenang Nobel Prize yang juga hadir berdiskusi saat itu adalah Prof. Mario Renato Capecchi (Nobel Lauerate in Physiology or Medicine 2007), Prof. Aharon Jehuda Ciechanover (Nobel Laureate in Chemistry 2004). Pertemuan tersebut juga di isi oleh Dr. Suzanne Shale yang memberikan presentasi tentang “moral challenge” terkait penelitian.

Secara general, apa yang saya dapatkan dari pertemuan tersebut adalah 1) Peneliti seharusnya tidak hanya mempelajari terbatas pada bidangnya saja, akan tetapi juga harus berusaha membuka pemikiran mereka untuk memahami mutidisiplin ilmu pengetahuan. 2) Di dalam penelitian, kita juga tidak hanya menemukan fakta (yang menjadi dasar bagi ilmu pengetahuan) akan tetapi juga berusaha menemukan nilai (value) (yang meskipun saat kita menemukan fakta, belum tentu terlihat manfaatnya). 3) Kemampuan ilmu pengetahuan manusia sebagai individu peneliti sangat terbatas, oleh karenanya membangun “network” dengan peneliti yang lainnya untuk bisa mendapatkan kontribusi yang lebih luas bagi sustainability manusia dan masa depan adalah suatu keharusan. 4) Peneliti harus memiliki cara berpikir yang terintegrasi karena diskuis-diskusi interdisiplin ilmu pengetahuan adalah sebuah cara penting untuk membangun pengetahuan kita.

Saat ini, dunia tengah menghadapi berbagai permasalahan seperti global warming, degradasi lingkungan, penyakit-penyakit baru yang muncul karena perubahan pola hidup, polusi, dan sebagainya. Untuk menghadapi itu semua, peneliti seharusnya dapat berkontribusi dengan bekerja secara bersama-sama membangun kolaborasi penelitian yang mampu mengatasi permasalahan tersebut secara terintegrasi. Meski terasa seperti sebuah mimpi yang sulit terwujud, setidaknya saya yakin, adanya pertemuan HOPE meeting ini, dimana peneliti muda dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan terkait “Life Science” berdiskusi, menjalin network dan berbagi ilmu pengetahuan, mampu menghadirkan harapan untuk membangun masa depan lebih baik. Karena saya yakin, HARAPAN (HOPE) itu masih ada!

Foto bersama dengan Grup C (dari berbagai Negara), di HOPE Meeting with Nobel Laureate

Foto bersama dengan Grup C (dari berbagai Negara), di HOPE Meeting with Nobel Laureate

“Everyone has a chance to discover an unpredictable good result” (Saya dengar langsung dari Prof. Makoto Kobayashi)

Dede Heri Yuli Yanto

“Setahun setelah HOPE meeting with Nobel Laureates”

Matsuyama Shi, Japan.

23 Februari 2014.

Iklan