Tag

, , , , , ,


Kalau sebelumnya saya sempat ketinggalan dompet di bus sewaan salah satu panitia “Undokai” Matsuyama, kali ini kejadian ketinggalan barang lebih unik lagi, di Bus Kota!

Ceritanya, hari itu adalah salah satu hari penting bagi saya, karena saya akan berangkat menghadiri acara HOPE Meeting with Nobel Laureates di Tokyo. Pertemuan ini di gagas oleh JSPS Japan untuk mempertemukan sekitar 100 Mahasiswa Doktor dan Postdoct dari 15 negara dengan beberapa pemenang Nobel Laureates. Di sana, peserta mendapatkan seminar dan berdiskusi secara private dan langsung dari pemenang Nobel. Mereka, para pemenang Nobel Laureates berbagi pengalaman dan kiat-kiat mereka dalam penelitian hingga mampu pada pencapaiannya saat itu, meraih Nobel Laureates. Acaranya yang sangat bergengsi dan menjadi pengalaman paling berharga bagi saya sebab tidak semua orang punya kesempatan hadir di sana. Syukur Alhamdulillah, saya mendapatkan kesempatan itu. Saya pun tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan berbincang dan berdiskusi langsung dengan para peraih Nobel saat itu.

Salah satu yang menjadi agenda adalah penyampaian presentasi dengan poster terkait penelitian terkini dari masing-masing peserta. Seluruh peserta diminta membuat poster hasil risetnya pada karton berukuran 90 x 120 cm. Saya lalu bergegas mempersiapkannya. Poster kemudian diprint  menggunakan printer kampus, lalu dimasukkan ke dalam tempat poster berbentuk silinder yang saya pinjam dari salah seorang senior di kampus.

Beres! setiap perlengkapan sudah masuk ke dalam satu buah koper, satu tas kecil berisi kamera, satu buah tas punggung berisi laptop serta poster yang siap di jinjing karena memang ukurannya yang cukup besar sehingga tidak bisa masuk baik ke dalam koper ataupun tas. Meski cukup repot, saya merasa sudah biasa membawa dua tas, satu koper. Hanya saja, kali ini ada tambahan selongsong poster dan itu ringan, artinya tidak terlalu merepotkan. Jadi saya tidak merasa sama sekali repot karenanya.

Pagi itu, saya siap berangkat ke Matsuyama Airport. Biasanya saya menggunakan taksi dari apartment ke bandara. Namun entah mengapa, kali ini saya berangkat menggunakan bus kota. Karenanya, sejak sehari sebelum keberangkatan, saya sudah mengecek jadual keberangkatan bus kota nomor 52 menuju bandara dari terminal Dogo. Terminal Dogo adalah terminal terdekat dari tempat tinggal saya dan bisa di tempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit. Karena saya memutuskan menggunakan bus ke bandara, maka saya melebihkan cadangan waktu menjadi sekitar dua jam sebelum take of pesawat dan menyesuaikan dengan jadual bus di terminal.

Setelah pamitan dengan isteri dan anak-anak, saya pun bergegas menuju terminal dengan berjalan kaki membawa koper, dua tas, dan satu jinjingan poster. Sampai di terminal Dogo, waktu masih menunjukkan kurang 10 menit dari jadwal kedatangan bus menuju bandara. Selama kurang dari 10 menit menunggu, saya dikagetkan oleh sapaan seorang Bapak tua yang dengan ramahnya menyapa saya. Hal ini sudah biasa bagi saya jika ada orang Jepang yang mengajak berbicara. Mungkin karena sifat mereka yang ramah atau juga karena mereka tahu bahwa saya adalah orang asing, sehingga dapat dijadikan teman berbicara bagi mereka yang sudah bicara. Intinya Bapak itu mengajak saya mengobrol panjang-lebar, baik tentang Jepang, Indonesia, seikatsu (kehidupan di Matsuyama) dan sebagainya, hingga saya sedikit terlena akan waktu keberangkatan bus. Saat pembicaraan tengah berlangsung, datanglah bus kota dengan nomor 52, tepat berhenti dihadapan saya dan si Bapak. Kami pun akhirnya naik bersamaan. Sebenarnya, saya sempat menyadari dan bertanya dalam hati, mengapa Bapak yang berbicara dengan saya tadi juga ikut naik bersama saya ke dalam bus. Lagi pula, mengapa bus ini datang lebih awal 3 menit dari jadual kedatangannya. Ini memang agak kurang lazim di Jepang, mengingat toleransi keterlambatan dan kecepatan datang adalah kurang dari satu menit. Kalau sampai lebih dari satu menit, tentu ada yang tidak beres, pikir saya. Tapi waktu itu, saya tetap naik bersama dengan si Bapak tadi.

Setelah semua penumpang duduk, Pak supir, seperti biasa mengingatkan kepada penumpangnya tentang jurusan yang akan dituju oleh bus. Tapi karena saya sibuk dengan berbagai perlengkapan yang harus saya letakkan satu persatu di dekat tempat duduk saya dan cukup banyak waktu itu, saya menjadi tidak focus mendengarkannya. Bus pun melaju perlahan. Seperti biasa, bus di Jepang, jalannya lambat-lambat. hehehe.

Saya mulai curiga bus yang saya tumpangi tersebut bukan ke arah bandara melainkan arah sebaliknya, dari bandara ke arah Oku Dogo, terminal terakhir yang berlawanan dari arah bandara. Saya pun benar-benar tersadar kalau saya salah jurusan. Dengan tergesa-gesa saya mendekat ke Pak Supir dan menanyakan arah tujuan bus tersebut. Dan benar saja, bus tersebut bukan ke arah bandara, melainkan sebaliknya. Tapi saya sudah cukup jauh hingga saya akhirnya bisa di turunkan di salah satu halte bus. Dengan tergesa saya bawa barang-barang saya dan saat saya akan bayarkan ongkosnya, Pak supir menolak untuk di bayar. Jadi saya turun sambil bilang, arigatou gozaimasu. Pak supirpun menunjuki saya agar saya menyebrang jalan, lalu menunggu bus sebaliknya untuk menuju ke bandara. Bus pun kembali melaju menuju terminal Oku dogo. saya kemudian menyebrang jalan, dan barulah teringat. Ada satu bawaan saya yang tertinggal. Poster saya masih di dalam bus!

Dengan sedikit panik, saya segera mengejar kembali bus tersebut, namun apa daya bus sudah terlanjur menjauh dari saya. Saya segera mencari taksi terdekat untuk mengejar, tapi tidak ada. Maklum, tempat saya di turunkan memang agak sepi sehingga bus dan taksi jarang sekali lewat disana kecuali pada jam-jam tertentu. Dengan perasaan tak karuan, karena saya harus mengejar pesawat ditambah poster tersebut harus di bawa lantaran menjadi salah satu agenda dalam pertemuan, saya pun mulai mencari solusi yang bisa dilakukan.

Saya menelpon salah seorang rekan saya untuk membantu menelpon perusahaan Bus tersebut (Iyotetsu) dan mengabarkan poster yang tertinggal, sehingga bisa membantu mengembalikan poster tersebut dalam waktu yang singkat, mengingat waktu take of semakin dekat. Saya pun menelepon Taksi langganan saya, dan tidak lebih dari 6 menit sudah sampai di depan saya. Setelah menyampaikan apa yang menjadi masalah saya kepada Pak supir taksi (dengan bahasa Jepang sekenanya, hehehe), akhirnya dengan baik hati beliau mau membantu saya.

Bapak supir taksi mulai menelepon perusahaan Iyotetsu untuk memastikan posisi bus 52 yang berangkat dari Dogo sekitar pukul 8.35 tersebut. Akhirnya diperoleh informasi bahwa bus tersebut telah sampai di terminal Oku Dogo dan segera kembali ke arah bandara. Namun Pak Supir taksi sadar betul saya butuh waktu segera, sehingga beliau segera meminta janjian bertemu secepat mungkin dengan Pak supir bus 52 tersebut dan di sepakatilah pertemuan dilakukan dihalte sekitar tunnel (terowongan). Kemudian saya di bawa oleh Pak Supir ke sana. Setelah menempuh cukup jauh, sampailah kami di tempat pertemuan yang di janjikan. Sayangnya, setelah sampai disana dan menunggu sekitar 2 menit, bus tersebut tidak juga kunjung datang. Pak Supir Taksi memutuskan untuk kembali ke halte semula, karena khawatir bus tersebut sudah melewati halte di sekitar terowongan tadi. Kami pun melaju kembali ke halte semula. Dan ternyata bus pun belum sampai di sana. Pak Supir pun dengan cekatan mengambil HP-nya dan menelpon kembali perusahaan Iyotetsu untuk memastikan posisi bus itu. Akhirnya kami mendapatkan kabar, bahwa bus tersebut baru saja melewati terowongan tempat awal kami janjian dan sebentar lagi sampai di halte tempat kami menunggu.

Tidak lama, akhirnya bus itupun datang. Perasaan saya begitu lega, karena poster tersebut benar-benar dibutuhkan saat ini. Segera Pak Supir bus pun keluar dari bus-nya dan disusul Pak supir taksi keluar dari taksinya. Dari dalam taksi saya melihat serah terima poster itu. Saya pun segera keluar untuk menyampaikan rasa terima kasih saya kepada Pak Supir bus.

Alhamdulillah, akhirnya sekarang beres, siap berangkat ke bandara. Selama perjalanan ke bandara, sayapun akhirnya berbincang-bincang dengan Pak Supir taksi, dari mulai pekerjaan, keluarga, hingga rencana masa depan. Yang paling saya ingat adalah saat dia bercerita tentang penghasilannya selama ini yang sengaja ditabungnya untuk berlibur bersama isterinya (sebagai gambarang usia Pak Supir sekitar 55 – 65 tahun). Hasil tabungannya sekarang sudah mencapai lebih dari 400 mang en (atau sekitar 400 juta).

Mulailah saya beraksi dengan menawarkan dia bagaimana untuk berlibur di Indonesia. Diapun akan mempertimbangkannya, setelah saya menjelaskan bahwa orang jepang yang datang ke Indonesia akan menjadi okane mochi san (orang kaya) karena perbedaan nilai mata uang.

Sampailah saya di bandara dan saya pun bersiap membayarkan ongkos taksinya. Kagetnya saya, ternyata argo yang berjalan sejak awal adalah bukan argo saat saya mulai memintanya mencarikan poster saya yang tertinggal di bus, akan tetapi saat saya benar-benar mulai berangkat dari halte terakhir menuju bandara. Sebagai gambaran ongkos dari halte tadi ke bandara sekitar 2700 yen, jadi mestinya harga terakhir sekitar 3500 – 4000 karena urusan tadi.

Saat saya tanyakan mengapa tidak di start sejak awal saya meminta bantuan, beliau menjawab, yang tadi adalah sebagai bantuannya untuk saya, bukan untuk ongkos ke bandara. Saya pun akhirnya mengiyakan dan mengucapkan terima kasih kepada Pak Supir sambil menuju belakang bagasi untuk mengambil koper saya.

Sambil membungkukkan badannya tanda hormat kepada penumpangnya, si Bapak supir berpesan kepada saya. “Hati-hati yah, posternya jangan sampai tertinggal lagi”. “Baik Pak” jawab saya dengan tersipu malu. Dalam hati saya bergumam “semoga semakin banyak orang-orang seperti Bapak ini di dunia”.

Dede Heri Yuli Yanto

Matsuyama Shi

24 Februari 2014.

Iklan