Tag

, , , , , ,


Never ending improvement” begitulah seharusnya setiap orang ber-motto. Jangan pernah berhenti berubah kearah yang lebih baik, salah satu quote yang pernah saya dapatkan dari salah satu organisasi dakwah kampus di IPB dulu.

Sebab manusia sejatinya ingin mengarah kepada keadaan yang lebih baik. Anak-anak sekolah misalnya, ingin bisa diterima di sekolah favoritnya. Seorang wanita ingin mendapatkan pasangan yang sholeh, begitu sebaliknya. Seorang pekerja, ingin gajinya terus meningkat seiring peningkatan karirnya. Dan masih banyak lagi. itu jika kita berbicara kebutuhan individu dalam masyarakat.

Suatu masyarakat atau Negara juga membutuhkan adanya perubahan (yang lebih baik). Sayangnya, cara dan metode yang ditempuh terkadang justru semakin menjauh dari perubahan, sebaliknya memperburuk keadaan. Ini semua tidak lain karena perubahan-perubahan yang dilakukan sama sekali tidak menyentuh ke akar persoalan; hanya terfokus pada masalah-masalah cabang yang justru akan menimbulkan masalah baru. Cara berpikirnya sederhana, kalau masalah cabang diselesaikan, kemudian akan timbul masalah baru, maka semakin lama akan semakin banyak masalah yang muncul, sehingga akhirnya semakin menyengsarakan masyarakat tersebut.

Sebagai contoh kecil saja misalnya, masalah semakin banyaknya orang yang terkena virus HIV-AIDS. Semua orang sadar, virus HIV sangat mematikan dan sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Apalagi jumlah orang yang terkena semakin lama semakin meningkat. Yang dapat dilakukan adalah mencegah penularannya. Sehingga perhatian khusus perlu dilakukan baik untuk orang yang sudah terkena, apalagi masyarakat umum.

Fatalnya, solusi yang pernah ditawarkan sebagian masyarakat dan pemerintah justru solusi yang aneh, misalnya dengan membagikan kondom gratis ditempat-tempat yang paling mungkin terjadi penularan HIV, misalnya di diskotik, tempat hiburan malam, tempat-tempat prostitusi, dan sebagainya. Mereka berangan-angan, dengan membagikan kondom gratis akan mampu mengurangi laju penyebaran virus HIV. Padahal sejatinya, program ini akan menimbulkan dampak yang lebih buruk. Misalnya, pembagian kondom gratis yang dikampanyekan, riskan salah sasaran. Bahkan beberapa kasus telah terbukti dimana pembagian dilakukan pada anak-anak SMA atau mahasiswa. Kedua, progam ini sejatinya menjadi alat untuk melegalkan perzinahan. Karena dengan logika terbalik, seseorang dapat mengatakan, anda boleh berhubungan badan (berzina) dengan siapa saja, asalkan pakai kondom.

Jika kita mau berpikir jernih, solusi mengatasi penyebaran virus HIV sebenarnya sangat mudah. Cara yang paling mujarab adalah perlu dilakukan pengidentifikasian dimana tempat-tempat penyebaran virus tersebut lalu menutup habis semua peluang tersebarnya virus tersebut. Ternyata “tersangka” utamanya adalah dari kegiatan “prostitusi” atau tempat hiburan malam. Baik melalui hubungan badan sembarangan, ataupun penggunaan jarum suntik saat menggunakan obat-obat terlarang. Karenanya, tidak ada jalan lain kecuali menutup semua tempat hiburan malam dan prostitusi, serta menindak tegas pengedar obat-obatan terlarang, dsb. Inilah satu-satunya jalan. Bukan dengan jalan yang justru memfasilitasi mereka! Apalagi pendapat “ngawur” yang mencoba membuat “lokalisasi pelacuran”.

Masih banyak lagi permasalahan-permasalahan yang sebenarnya mudah diselesaikan, tapi karena pola pikir yang tercampur bahkan dipenuhi dengan pola pikir “kapitalis” yang menganggap asas manfaat, jadilah solusi-solusi mereka sebenarnya sedang menuju kerusakan yang lebih dalam.

Semua persoalan tersebut mampu diselesaikan oleh Islam, karena ia hadir dimuka bumi tidak hanya sebagai agama akan tetapi sebagai peraturan hidup yang sangat mendasar bagi manusia. Seluruh peraturannya memancarkan solusi yang benar karena sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal, dan menentramkan jiwa. Seluruh ajarannya datang dari Zat yang Maha Pengatur (al-mudabbir), maka sudah pasti akan sangat cocok diterapkan ditengah masyarakat ataupun Negara.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana kita mampu merubah masyarakat menjadi kearah yang lebih baik, yakni dengan Islam.

Untuk merubah masyarakat, harus diketahui dahulu karakteristik sebuah masyarakat. Ini cara berpikir yang wajar, karena bagaimana mungkin kita mampu merubah sesuatu tanpa mengetahui karakteristik sesuatu tersebut.

Syeik Taqiyuddin An-Nabhani menulis di dalam salah satu kitabnya, bahwa masyarakat bukanlah sekedar kumpulan individu saja, melainkan ia gabungan dari individu-individu yang memiliki pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama. Karenanya, untuk merubah masyarakat menjadi masyarakat Islam, tidak ada cara lain kecuali merubah pemikiran, perasaan dan peraturan yang ada ditengah-tengah mereka menjadi pemikiran, perasaan dan peraturan Islam.

Karenanya, dakwah seharusnya ditujukan kearah perubahan ini, bukan yang lain. Merubah pemikiran masyarakat dengan pemikiran Islam dapat dilakukan dengan memberikan sebanyak-banyaknya pemikiran Islam yang murni, tanpa tercampur pemikiran yang lain, melalui berbagai cara. Demikian pula untuk mewujudkan satu perasaan yang sama, dakwah seharusnya ditujukan untuk mampu menyentuh perasaan umat agar mereka tersadar pentingnya persaudaraan dalam Islam, menjauhkan ashobiyah, memikirkan umat, menyatukan umat Islam, dan sebagainya. Ketika pemikiran dan perasaan telah menyatu menjadi pemikiran dan perasaan Islam, maka umat akan menuntut diwujudkannya peraturan Islam diterapkan ditengah-tengah mereka.

Ketika aturan Islam di terapkan, maka kebaikan akan menyelimuti masyarakat tersebut, InsyaAllah.

Wallahu a`lam bi showab.

Dede Heri Yuli Yanto

Matsuyama Shi, Japan

25 Februari 2014.

Iklan