Tag

, , , , , ,


1. Sebagian kalangan (khususnya di Indonesia) ada yang berusaha mempergunakan Qaidah ini misalnya untuk:

a) Membolehkan lokalisasi zina dan judi dengan alasan jika tidak dilokalisasi akan menimbulkan bahaya yang lebih besar yaitu menyebarluasnya perzinaan dan perjudian di tengah masyarakat.

b) Membolehkan ada diparlemen (yang salah satu fungsinya adalah melegalisasi hukum/bertentangan dengan Islam) atau memilih pemimpin/wakil rakyat muslim yang sekuler (yang akan menjalankan sistem yang bertentangan dengan Islam) dengan alasan jika itu tidak dilakukan akan muncul bahaya yang lebih besar yaitu kepemimpinan dan parlemen akan dikuasai oleh non-muslim.

2. Apakah makna sebenarnya dari Qaidah ahwanu al-Syarrain ini dan bagaimana menerapkannya?

3. Qaidah ahwanu al-syarrain bermakna “melakukan yang paling ringan dari dua perkara yang buruk”.

4. Qaidah ini sama maknanya dengan kaidah:

a) Aqalu al-dhararain (أقل الضررين): melakukan yang paling sedikit bahayanya dari dua perkara yang berbahaya.

b) Akhafu al-mafsadatain (أخف المفسدتين): melakukan yang paling ringan dari dua perkara yang merusak.

c) Dar ul mafsadat al akbar bil mafsadat al ashghar (درء المفسدة الأكبر بالمفسدة الأصغر): menangkal kerusakan yang paling besar dengan melakukan kerusakan yang paling kecil.

5. Qaidah ini juga bisa bermakna

a) Keharusan melakukan yang lebih wajib meski berakibat ditinggalkannya kewajiban lain yang lebih ringan, Jika dua kewajiban tersebut tidak bisa dilakukan secara bersamaan.

6. Sebagaimana firman Allah SWT.

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها

“Manusia tidak dibebani kecuali sesuai dengan batas kemampuannya” (QS. Al-Baqarah: 286).

إتقوا الله مااستطعتم

“Bertaqwalah kepada Allah sebatas kemampuan kalian” (QS. At-Taghabun: 16).

7. Ulama yang mengambil Qaidah ini, sangat hati-hati dan telah memahami batasan-batasan dan objek-objek pengamalannya.

8. Karena itu Qaidah ini tidak bisa dijadikan seolah-olah secara mutlak selalu syar`iy untuk diterapkan atau diamalkan tanpa terikat dengan syarat-syarat yang telah ditentukan, apalagi dijadikan sebagai legalisasi terhadap beberapa perkara yang diharamkan.

9. Kondisi yang membatasinya adalah

a) jika kita tidak bisa menghindari kecuali melakukan salah satunya.

b) Atau kita tidak mungkin meninggalkan kedua-duanya secara bersamaan karena sangat diluar batas kemampuan kita.

c) Atau pada kondisi dimana kita bisa menghindari dua perkara yang diharamkan itu, tetapi jika kita menghindari keduanya maka akan terjadi keharaman yang lebih besar lagi. Itulah syarat/batasan pengamalan Qaidah ini.

9. Jadi sangat tidak sesuai jika ada kalangan yang berpendapat 1 a) (diatas) dengan mengacu pada Qaidah ini.

10. Apalagi kaidah syar`iyyah ini tidak bisa dijadikan dalil bila sudah ada dalil yang jelas di dalam Al-Qur`an dan Sunnah.

11. Bukankah Al-Qur`an sudah amat jelas tentang pengharaman perbuatan zina? Bahkan para pelaku zina harus dijatuhi sanksi cambuk atau rajam.

12. Untuk kasus no. 1 (a) seluruh kegiatan perzinahan (prostitusi) dan perjudian harus ditutup! Bukan dilokalisasi!

13. Demikian pula dalam kasus 1 b), tidak bisa dikatakan: apabila tidak memilih atau tidak mendukung si A maka nanti akan terpilih orang yang tidak berpihak kepada kita (si B), yang akan menimbulkan bahaya yang lebih besar lagi.

14. Sebagaimana kita tidak boleh mengatakan apabila kita tidak membuka kedai tempat minum khamr dan memanfaatkannya maka kedai itu akan dibuka oleh orang lain yang tidak berpihak kepada kita.

15. Yang harus dilakukan oleh kita dalam masalah ini adalah meninggalkan dua perkara yang diharamkan itu dan mengajak orang lain untuk meninggalkannya.

16. Terkait point 13. kita tidak boleh memilih kedua-duanya karena memilih si A atau si B sama saja haramnya (terkait fungsi tasyri dan atau menjalankan hukum yang bertentangan dengan Islam). Dan karena tidak memilih si A atau si B ada dalam batas kemampuan kita.

17. Rosulullah SAW bersabda: “siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah mengatakan kebaikan atau diam”.

18. Yang menjadi asal adalah anda harus berbuat sesuatu –tidak diam-. Anda harus memerintahkan kepada yang baik, mencegah dari yang mungkar, dan berusaha mewujudkan yang layak untuk dipilih (hanya menjalankan sistem Islam, dan hanya untuk menjalankan fungsi muhasabah lil hukam dan tidak menjalankan fungsi tasyri` (membuat hukum/legislasi) untuk anggota majelis ummat.

19. Kita juga harus berusaha merubah situasi secara menyeluruh. Karena yang wajib adalah kita tidak boleh menghukumi dan dihukumi kecuali dengan Islam. Maka bangkitlah untuk memperbaiki keadaan ummat.

20. Di antara contoh penerapan Qaidah Ahwanu al-Syarrain yang benar adalah:

a). Jika ada seorang ibu yang sulit melahirkan dan dokter tidak bisa menyelamatkan ibu dan janin secara bersamaan, dan kondisinya mendesak harus ada keputusan yang cepat yaitu: menyelamatkan ibu tapi akan mengakibatkan kematian janin atau menyelamatkan janin tapi akan mengakibatkan kematian ibu. Jika kondisi itu dibiarkan akan mengakibatkan kematian kedua-duanya maka dalam kondisi ini Qaidah أهون الشرين harus diterapkan. Yaitu dengan cara menyelamatkan ibu meski berakibat pada kematian janin. Hal yang harus diperhatikan dalam hal ini bahwa menentukan perbuatan yang lebih ringan keharamannya tidak bisa merujuk kepada perasaan atau keinginan manusia (suami atau orang tua-nya) melainkan harus merujuk kepada ketentuan syariat. Karena syariat selain menjelaskan perkara yang halal dan haram , juga menjelaskan mana yang lebih ringan keharamannya.

b) Jika kita melihat ada seorang yang diancam akan di bunuh, atau dianiaya atau ada seorang wanita yang akan diperkosa, dan kita mampu mampu mencegah kemunkaran tersebut namun di saat yang sama kita harus menunaikan shalat wajib yang hampir habis waktunya. Maka pada kondisi ini kita dihadapkan pada dua pilihan yaitu mencegah kemunkaran tapi akan mengakibatkan ditinggalkannya kewajiban atau melaksanakan kewajiban tapi berakibat terjadinya kemungkaran yang bisa kita cegah. Sementara waktu yang ada tidak memungkinkan kita untuk melakukan dua perkara itu secara bersamaan, maka pada kondisi ini kita harus mengamalkan Qaidah أهون الشرين . Pertimbangan memilih mana yang lebih ringan bahayanya dalam hal ini juga harus merujuk kepada ketentuan syariat yang telah menetapkan bahwa menghilangkan keharaman seperti itu lebih utama daripada menunaikan kewajiban. Andai saja kita bisa melaksanakan dua kewajiban itu (kewajiban mencegah kemungkaran dan kewajiban shalat di akhir waktu) secara bersamaan maka kita harus melakukan keduanya. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita harus melakukan yang lebih wajib kemudian diam dari kewajiban yang lebih ringan, seperti memilih untuk melaksanakan kewajiban menegakkan khilafah namun meninggalkan kewajiban yang lebih ringan seperti taat kepada suami.

21. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa menentukan hukum mana yang lebih kuat dan mana yang lebih ringan harus merujuk kepada ketentuan syariat.

Wallahu a`lam

Di sadur dan di para frase ulang dari

Bedah Qaidah Ahwanu Al-Syarrain (قاعدة أهون الشرين)

Iklan