Tag

, , , , ,


Sadar atau tidak sadar, setiap hari, jam, menit, bahkan detik, manusia selalu melakukan perbuatan. Celakanya, perbuatan (amal) merupakan salah satu parameter yang akan menggolongkan apakah ia termasuk orang-orang yang merugi atau tidak. Sebagaimana Allah SWT telah memberikan petunjuk kepada kita: “sesungguhnya, seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali 1) Ia beriman, 2) melakukan perbuatan shaleh, dan 3) saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran” (lihat Surat Al-Ashr). Oleh karenanya, tentu menjadi urgent bagi kita memahami hakikat perbuatan yang akan kita lakukan, mudah-mudahan kita tidak tergolong mereka yang merugi.

Memahami hakikat perbuatan manusia-2

 

Manusia, sampai hari ini, masih saja ada yang keliru memahami predikat perbuatannya (1). Sebagian mereka masih mengira, akal merekalah yang menjadi tolak ukur bagi perbuatannya (2). Secara garis besar mereka membaginya menjadi dua bagian, ada yang dilakukan berdasarkan dorongan/tujuan melakukannya (3) atau berdasarkan dari zat perbuatan tersebut (4). Terhadap hal-hal yang mereka sukai atau mendatangkan manfaat menurut akalnya, dianggap sebagai perbuatan baik/khoir (3.1). Sedangkan jika dibenci atau diperkirakan akan mendatangkan mudharat menurut akalnya digolongkan sebagai perbuatan buruk/syar (3.2). Suka dan benci inilah yang mendorong mereka melakukan perbuatan-perbuatan tersebut. Dari aspek zatnya, sebagian masih menganggap adanya sanksi dan imbalan dari manusia (komunitas) menentukan qobih (tercela) dan hasan (terpuji)-nya sebuah perbuatan.

Menjadikan akal sebagai tolak ukur perbuatan tentu berakibat fatal terhadap ukuran baik, buruk, terpuji dan tercelanya perbuatan. Ini tidak lain karena akal manusia bersifat terbatas, lemah, serba kurang. Meskipun akal manusia bisa terus berkembang, akan tetapi ia tetap tidak akan mampu mengetahui hakikat sebenarnya tentang baik, buruk, terpuji dan tercelanya perbuatan. Celakanya, jika akal dijadikan rujukan, terkadang, perbuatan yang dianggap baik, buruk, terpuji, dan tercela disuatu masa atau wilayah, sering dianggap berkebalikan dimasa atau wilayah yang lain. Hal ini karena akal manusia sangat rentan terpengaruh banyak hal seperti, tradisi, adat istiadat, geografis, dsb yang membedakan pula tolak ukurnya terhadap baik dan buruknya perbuatan. Kalau begitu, tentu menjadikan akal sebagai tolak ukur perbuatan, hanya akan mendatangkan pertentangan dan kekacauan dalam interaksi kehidupan manusia.

Oleh karenanya, perlu ada revisi terhadap kekeliruan pemahaman ini (5) dengan mengacu kepada unsur lain diluar perbuatan manusia yang menentukan baik dan buruknya perbuatan (6). Sebagaimana firman Allah SWT:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ (البقرة: 216)

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Baik adalah tatkala perbuatan manusia sesuai dengan hukum syara` sedangkan buruk adalah ketika perbuatan manusia bertentangan dengan hukum syara` (7).

Dari aspek wilayah pengendaliannya, perbuatan manusia dapat digolongkan menjadi dua yaitu perbuatan musayyar dan mukhayyar (8). Semua perbuatan-perbuatan, apakah yang menimpa manusia atau manusia melakukannya, yang berada diwilayah yang menguasai manusia disebut perbuatan musayyar. Sebaliknya, semua perbuatan-perbuatan manusia yang berada di wilayah yang manusia mampu menguasainya (memiliki pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan) disebut perbuatan mukhayyar, yang dengannya menjadi parameter saat peng-hisab di hari akhirat kelak (9). Dalam perkara-perkara dimana manusia diberikan pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatannya, maka yang menjadi tolak ukur baik dan buruknya perbuatan adalah aturan Allah SWT. Karena manusia akan dihisab terhadap perbuatan yang dilakukannya (diwilayah yang mampu dikuasainya).

Oleh karenan itu, tolak ukur dari baik dan buruknya suatu perbuatan adalah aturan Allah SWT (10).

Wallahu a`lam.

Dede Heri Yuli Yanto

Matsuyama Shi, Japan.